Oleh :
Dinda Lindia Cahyani
Kejarlah
cita-cita setinggi langit
Agar
kau bisa menjadi bintang
Yang
kerlipnya bersinar sampai bumi
Tidak
semua orang tahu saya. Saya bukan saudara dari motivator manapun. Keluarga pun
tak memberikan warisan berupa label tersebut. Namun dari perjalanan hidup, dari
segala sesuatu yang saya temukan dalam keseharian, saya bisa mengambil sesuatu
yang mungkin bisa dibagi untuk semua. Baik itu bermanfaat untuk pribadi, atau lebihnya bisa bermanfaat untuk
semua kalangan. Gratis tanpa biaya sewa seorang motivator. It’s a great chance,
yeah?
Mungkin sudah terbiasa mencerna kalimat, “Gagal
itu kesuksesan yang tertunda” tapi tak sedikit orang yang lemah atas kegagalan
yang dihadapinya. Saya tidak ingin menjadi orang bijak di sini, dan saya bukan
seorang surveyor yang faham bahwa “Orang besar” berasal dari “Orang kecil”,
saya rasa tidak semuanya demikian.
Perlu
kita ketahui bahwa, setiap kesuksesan itu mempunyai harga. Bagi sebagian orang
berduit, kesuksesan mungkin bisa dibeli. Contohnya seorang pengusaha yang dari
leluhur punya perusahaan suksesnya mungkin bisa diwariskan. Namun, tak semua
harga itu harus dinilai dengan rupiah. Kesuksesan memang mempunyai harga. Di
sini saya berbicara tentang tenaga, keahlian, dan usaha untuk tetap bertahan
dalam setiap ujian mencapai kesuksesan.
Bagaimana
mungkin orang yang belum sukses berbicara tentang kesuksesan? Yah, ini saya
utarakan pada diri saya. Dalam hal ini, saya ingin mengambil pelajaran dari
sebuah perfilman. Ada karakter antagonis yang perlu ditiru dan diterapkan pada
diri kita, yaitu “Percaya diri!” Seorang pemeran antagonis selalu mempunyai
kepercayaan yang tinggi dengan kejahatan dirinya. Meskipun pada akhirnya
terkadang antagonis selalu kalah. Sisi positif pada pemeran antagonis adalah
percaya diri. Yakin bahwa dia mampu mengalahkan si protagonis dan selalu fokus
pada keinginannya. Sesulit apapun tantangannya selalu ada cara bagi antagonis
untuk menjatuhkan lawan. Sebaliknya, seorang protagonis terkadang merasa tak
percaya diri, merasa lemah dan tak mampu melakukan sesuatu yang belum ia
lakukan sampai terjepit pada kondisi tertentu, barulah protagonis mulai beraksi dan menjadi percaya diri.
Nah,
dari uraian di atas. Kenapa kita tidak menjadi seorang protagonis yang selalu
percaya diri kapan pun. Jika, antagonis bisa percaya diri dengan kejahatannya,
kenapa kita tidak percaya diri dengan niat baik yang ingin kita lakukan.
Dalam
mencapai cita-cita, tak perlu risau dengan bayangan kegagalan. tidak akan tahu apa yang bisa kamu capai, yang
bisa kamu lakukan, sebelum kamu mencoba melakukan dan mencapainya. Fokuslah
pada impianmu. Tak perlu menghiraukan rengekan orang lain yang sama sekali tak
tahu bagaimana perjuanganmu.
Jika
menjadi seorang penulis hebat adalah cita-citamu. Maka, tak perlu risih dengan
orang-orang yang mencoba menjatuhkan mentalmu dengan ucapan-ucapannya. Seandainya
ini dunia dongeng, dan kau seorang putri yang mempunyai sihir, tentu kau akan
mengubah mereka seluruhnya berada dalam posisi untuk mendukungmu. Namun, ini
dunia nyata yang sebagian orang tidak bisa kau tebak apa niatan dalam hatinya.
Jadi, tetaplah fokus pada cita-cita, bukan caci-caci mereka.
Saya
Dinda Lindia Cahyani, dari Cianjur-City membagikan motivasi gratis, tis, tis.
Terima
kasih.
Oke,
ada pertanyaan?
14-715

Keren, Mbak DLC.
ReplyDelete