Pages

Tuesday, 14 July 2015

Motivasi Mengejar Cita-cita






Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Kejarlah cita-cita setinggi langit
Agar kau bisa menjadi bintang
Yang kerlipnya bersinar sampai bumi

Tidak semua orang tahu saya. Saya bukan saudara dari motivator manapun. Keluarga pun tak memberikan warisan berupa label tersebut. Namun dari perjalanan hidup, dari segala sesuatu yang saya temukan dalam keseharian, saya bisa mengambil sesuatu yang mungkin bisa dibagi untuk semua. Baik itu bermanfaat untuk  pribadi, atau lebihnya bisa bermanfaat untuk semua kalangan. Gratis tanpa biaya sewa seorang motivator. It’s a great chance, yeah?


 Mungkin sudah terbiasa mencerna kalimat, “Gagal itu kesuksesan yang tertunda” tapi tak sedikit orang yang lemah atas kegagalan yang dihadapinya. Saya tidak ingin menjadi orang bijak di sini, dan saya bukan seorang surveyor yang faham bahwa “Orang besar” berasal dari “Orang kecil”, saya rasa tidak semuanya demikian.

Perlu kita ketahui bahwa, setiap kesuksesan itu mempunyai harga. Bagi sebagian orang berduit, kesuksesan mungkin bisa dibeli. Contohnya seorang pengusaha yang dari leluhur punya perusahaan suksesnya mungkin bisa diwariskan. Namun, tak semua harga itu harus dinilai dengan rupiah. Kesuksesan memang mempunyai harga. Di sini saya berbicara tentang tenaga, keahlian, dan usaha untuk tetap bertahan dalam setiap ujian mencapai kesuksesan.

Bagaimana mungkin orang yang belum sukses berbicara tentang kesuksesan? Yah, ini saya utarakan pada diri saya. Dalam hal ini, saya ingin mengambil pelajaran dari sebuah perfilman. Ada karakter antagonis yang perlu ditiru dan diterapkan pada diri kita, yaitu “Percaya diri!” Seorang pemeran antagonis selalu mempunyai kepercayaan yang tinggi dengan kejahatan dirinya. Meskipun pada akhirnya terkadang antagonis selalu kalah. Sisi positif pada pemeran antagonis adalah percaya diri. Yakin bahwa dia mampu mengalahkan si protagonis dan selalu fokus pada keinginannya. Sesulit apapun tantangannya selalu ada cara bagi antagonis untuk menjatuhkan lawan. Sebaliknya, seorang protagonis terkadang merasa tak percaya diri, merasa lemah dan tak mampu melakukan sesuatu yang belum ia lakukan sampai terjepit pada kondisi tertentu, barulah protagonis  mulai beraksi dan menjadi percaya diri.

Nah, dari uraian di atas. Kenapa kita tidak menjadi seorang protagonis yang selalu percaya diri kapan pun. Jika, antagonis bisa percaya diri dengan kejahatannya, kenapa kita tidak percaya diri dengan niat baik yang ingin kita lakukan.

Dalam mencapai cita-cita, tak perlu risau dengan bayangan kegagalan.  tidak akan tahu apa yang bisa kamu capai, yang bisa kamu lakukan, sebelum kamu mencoba melakukan dan mencapainya. Fokuslah pada impianmu. Tak perlu menghiraukan rengekan orang lain yang sama sekali tak tahu bagaimana perjuanganmu.

Jika menjadi seorang penulis hebat adalah cita-citamu. Maka, tak perlu risih dengan orang-orang yang mencoba menjatuhkan mentalmu dengan ucapan-ucapannya. Seandainya ini dunia dongeng, dan kau seorang putri yang mempunyai sihir, tentu kau akan mengubah mereka seluruhnya berada dalam posisi untuk mendukungmu. Namun, ini dunia nyata yang sebagian orang tidak bisa kau tebak apa niatan dalam hatinya. Jadi, tetaplah fokus pada cita-cita, bukan caci-caci mereka.

Saya Dinda Lindia Cahyani, dari Cianjur-City membagikan motivasi gratis, tis, tis.
Terima kasih.
Oke, ada pertanyaan?
14-715


1 comment: