Pages

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, 10 June 2017

Bicara Tentang Kematian


Ingat!
Mati tak melihat usia, rupa, kedudukan. Sekalipun kau ingin bernegosiasi dengan milyaran, ketetapan-Nya tak bisa kau lawan!
Tutup auratmu sekarang
Hapus auratmu di media sosial
Karena kau tak tahu, dari mana dosa jariyah berasal
Lihat ...!
Bumi tak

Friday, 13 May 2016

Sayap Emas


“Akulah sayapmu, yang kau butuhkan
Untuk nanti terbang, ke surga Dia”
-KD, Ost. SYTD-

Dahulu kala, terkisah seorang puteri yang terjatuh dari langit. Di sebuah perkampungan yang penuh dengan taman bunga, dia tinggal seorang diri. Kampung itu sepi dan tidak berpenghuni. Awalnya dia merasa heran dan kebingungan, namun seiring dengan waktu pun sang puteri terbiasa dengan kesendiriannya.

Pada suatu hari puteri berjalan-jalan di taman. Sesekali ia mencoba terbang dengan sayapnya yang robek karena jatuh dan tersangkut di sebuah pohon. Namun dengan wajah yang ditekuk ia menghembuskan napas kesal. Sayapnya tak berpungsi sama sekali. Ia pun pergi ke tebing yang tinggi hendak mencoba kemampuan terbangnya. Tangan dan sayapnya ia bentangkan lalu dengan mata tertutup sang puteri hendak melompat dari tebing. Tiba-tiba seseorang menahannya dengan suara yang keras.

“Kamu belum siap!”

Puteri seketika membuka mata dan menahan kakinya yang hendak melompat. Lalu ia mencari sumber suara.

“Kamu belum siap terbang dengan sayap rusak seperti itu, Puteri!” Seorang lelaki berdiri dengan memasang wajah khawatir.

“Siapa kamu?”

Sunday, 8 May 2016

My Adorable Kein


“Satu roti tawar, dan lima roti isi cokelat,” ucapku sambil menyerahkan pesanan Bibi Anna.

“Dan ini bagianmu, ambil kembaliannya.” Bibi Anna menyerahkan selembar uang bernilai seratus ribu rupiah.

“Wah, terima kasih. Mimpi apa aku semalam? Tapi, ini terlalu banyak.” Merasa tak nyaman aku pun mencoba memberikan uang kembalian.

“Tak apa. Aku senang memberimu. Ini jarang-jarang, kan?” Perempuan separuh baya itu tersenyum dan berjalan sambil melambai ke arahku. “Dua hari lagi jangan lupa antar seperti biasa, jangan telat ya?” Senyum merekah dari wajahnya.

“Baiklah, sampai jumpa.” Aku pun kembali mengayuh sepeda dengan beberapa roti di keranjang depan yang belum selesai diantar.

Rutinitas ini sudah kujalankan selama setahun. Selain pengalaman, koneksi dengan pelanggan juga menjadi hal yang menyenangkan. Walau terkadang, beberapa dari mereka sering mengeluh karena aku salah menyerahkan roti pesanannya.

Aku menarik rem sepeda dengan sekaligus, hampir saja seseorang tertabrak olehku. Seorang laki-laki berdiri memegang dada sembari menghela napas.

A Blogger




“Are you a blog writer?”

“Hu’um,” jawabku.

“Apa asyiknya? Kenapa tak kau coba mengirim tulisan ke media. Bisa dinikmati orang dan juga mendapat penghasilan tambahan.” Fa menyelidik sembari memberi masukan.

Aku berdiri, berjalan mendekati jendela yang terbuka. Di langit tampak biru dan juga gumpalan awan yang bergerombol. Sesekali angin bertiup mengusap wajahku lembut. Secangkir kopi di tangan kuteguk perlahan.

Monday, 17 August 2015

Mengakui Kesalahan

Mengakui Kesalahan - Google Galery

Oleh : Dinda L Cahyani

Di depan sebuah rumah, seorang anak terisak. Perempuan setengah baya yang sedang menyapu di tengah rumah itu menghampirinya. Ternyata anaknya, Ardi, yang berusia lima tahun menangis tersedu-sedu sambil berjongkok memeluk lutut.
“Ardi, kenapa sayang?”
Ia tetap menangis dan tak mengacuhkan ibunya. Perempuan itu ikut berjongkok lalu mencoba membangunkan Ardi dan memeluknya.
“Cup, cup, cup, sini. Kenapa anak Ibu nangis?”
Ardi merangkul erat ibunya sambil terisak ia mengadu, “Bu, tadi Ardi tak sengaja merusakkan mainan Didi.”
“Kamu sudah minta maaf?” tanya ibunya tanpa melepaskan pelukan.
Dari gerakan kepala Ardi, perempuan itu tahu bahwa anaknya belum sempat meminta maaf. Dengan perlahan ia melepaskan Ardi dari pelukan dan menatap bola mata anaknya yang bening.
“Ibu antar untuk minta maaf ya?”
Ardi menggeleng.
“Loh, kok gitu?”
“Allah saja Maha Pemaaf, memangnya Ardi tidak mau dapat pahala dari Allah?”
Anak itu hanya bergeming.
“Kalau begitu, lebih baik kita telepon Ayah biar Ardi bisa langsung minta tolong sama Ayah untuk mengganti mainan teman Ardi yang rusak. Gimana?”
Ardi mengangguk penuh semangat. Lalu ibunya mengambil ponsel genggam dan menekan nomor tujuan. Setelah panggilan tersambung ia memberitahu perihal Ardi. Lalu menyerahkan ponsel genggam tersebut pada anaknya.
“Assalamualaikum Ardi.”
“Waalaikumsalam, Ayah.” Wajah Ardi berubah cerah saat mendengar suara Ayahnya dari seberang. “Ayah, Ardi gak sengaja ngerusak mainan Didi. Ardi mau minta maaf tapi tadi Didi keburu nangis.” Raut muka Ardi kembali mendung.
Namun Ayah berjanji akan mengganti mainan teman Ardi, dan anak itu pun berjanji akan meminta maaf.
“Ibu, kalau Ayah pulang bawa ganti mainan Didi, Ardi akan segera minta maaf dan Ardi pun bisa dapat pahala dari Allah. Iyakan, Bu?”
Ibunya hanya mengangguk dan tersenyum melihat Ardi yang antusias lagi untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.

TAMAT

Bekasi, 17 Agustus 2015 M / 2 Dzulqa’idah 1436 H 

Tulisan ini diikutkan dalam GA yang diadakan kaylamubara.blogspot.com bekerja sama dengan LovRinz Publishing.

Sunday, 16 August 2015

Jadilah Sahabatku Lagi

Jadilah Sahabatku Lagi

Oleh : Dinda L Cahyani

Tiba-tiba, dunia menggelap. Matahari padam dan udara di sekitar berhenti menyebar, saat dia memilih untuk menjauhiku dan memiliki teman baru, pacarnya.

“Apa salahku?”

“Kau terlalu posesif. Aku tak nyaman dengan perlakuanmu selama jadi temanku.”

“Tapi itu karena aku menyayangimu seperti kau telah menjadi kakakku.”

“Sudahlah Mila, aku harap kau bisa punya teman yang lebih baik lagi.”

“Tidak ada.”

Aku menatap mata perempuan yang berdiri di hadapanku. Rambutnya yang pirang sepinggang tertiup angin. Ia menatap dengan memelas tepat di kedua bola mataku, seolah meminta agar aku melepaskannya. Ini semua hanya kemarahan sementara, karena aku telah mengganggu kencan di malam minggu Karla dan Boy. Namun, aku curiga saat ia menarik napas berat dan mengembuskan perlahan. Tak ada kata-kata yang diucapkan, hanya punggung yang semakin menjauh seakan memberi isyarat bahwa ia benar-benar lelah dengan persahabatan kami.

Karla tidak salah, aku menggeleng. Sedangkan tangan kanan mencengkram cangkir kopi dengan kuat. Ini semua gara-gara kehadiran Boy, si lelaki hidung belang. Sudah jelas lelaki itu tidak hanya mengencani Karla, tapi juga termasuk teman dekatnya; aku.

Malam semakin beranjak. Aku mengencangkan mantel bulu dan syal berwarna pink yang melilit di leher, agar terlindung dari gigitan angin kemarau. Tak sengaja tanganku menarik barang pemberian Karla, kalung persahabatan kami putus. Terlalu sayang jika ikatan ini berakhir sampai di sini. Malam ini juga aku harus meraih lagi tangan Karla dari Boy.

***
Darahku mendidih saat perempuan berambut pirang itu bersender di dada bidang Boy. Kenapa Karla lebih memilih lelaki yang baru tiga minggu dikenal daripada aku yang setahun telah menjaganya. Aku yang membunuh Nana si centil yang mendekati Boy, demi melindungi perasaan Karla. Pun seekor kucing yang melukai tangan Karla karena hendak ia gendong, telah aku kubur hidup-hidup. Dan hal lain yang membuatnya sedih, telah aku bereskan. Namun, sekarang Karla menganggap aku hanya sebagai benalu.

Waktu berjalan sempurna. Karla pergi ke arah toilet dan aku tak mengabaikan kesempatan untuk menemui Boy.

“Hai Boy.”

“Mila. Ada apa sayang?”

“Aku merindukanmu. Tapi aku harus buru-buru pergi sekarang. Temui aku jam sebelas malam ini di tempat biasa. Ada kejutan untukmu.”

Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Ujung kedua bibir kutarik membentuk sabit, lalu segera berlalu sebelum Karla kembali.

Angin meniup kobaran api dalam dada. Beberapa jam berlalu, aku masih dalam posisi mengintai kedua manusia yang duduk di bawah temaram bulan. Saat arlojiku menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, Boy berdiri dari tempat duduknya. Ia tampak sedang berpamitan pada Karla. Lalu mengecup keningnya dan berlalu.

***

Aku berdiri menghambur ke pelukan Boy dengan tangis yang sengaja kuledakkan. Mengadukan perihal Karla yang memutuskan persahabatan. Lelaki itu mengusap rambutku sambil mencoba menenangkan. Perlahan pelukanku melonggar. Kami duduk di kursi taman belakang kampus.

“Kau tahu Boy, Karla adalah sahabat yang kuanggap kakakku sendiri. Kita berteman cukup lama.”

“Iya, aku tahu. Namun, aku tak mengerti kenapa Karla semarah itu padamu.”

“Mungkin dia tahu kau juga mengencaniku.”

“Tidak. Bukan itu masalahnya.”

“Lalu?”

“Mungkin memang kau harus memberinya waktu.”

“Untuk bersamamu?”

“Tidak. Maksudku agar dia bisa berpikir bahwa kau teman terbaiknya.”

“Teman yang menjilat sahabatnya sendiri?”

“Sudahlah. Aku bisa menjadi sahabatmu juga Mila.”

“Tidak Boy. Persahabatan lelaki dengan perempuan itu berbeda.”

“Apanya yang beda?”

“Perempuan selalu membawa perasaannya dalam bersahabat. Sedangkan lelaki hanya mengandalkan logika.”

“Ah, aku juga punya perasaan.”

“Lalu kenapa kau menduakan Karla denganku?” Mataku menyorot tepat di kedua retina Boy. “Kalau begitu jauhi Karla. Maka kau menyelamatkan dua hati.”

“Lalu mencintaimu saja?” tantang Boy.

“Jauhi aku juga. Dengan itu Karla akan kembali menjadi sahabatku.”

“Aku menginginkan kalian berdua.”

“Kalau begitu, kau telah menyia-nyiakan hidupmu Boy, dengan menyakiti dua hati.”

Aku pun beranjak meninggalkan lelaki pengecut itu. Revolver yang tersembunyi di saku mantel bulu, aku genggam erat. Sebelum benar-benar pergi, Boy memanggil.

“Apa ini kejutan yang kau maksud, Mila?”

Aku berbalik sambil menyembuyikan tangan yang memegang senjata panas yang kusiapkan.

“Ada hal lain, namun aku tak jadi memberikannya.”

Ia mendekat. Tepat di hadapanku dia mencondongkan tubuh, meletakkan kepalanya tepat di sampingku lalu membisikkan sesuatu.

“Aku tahu apa yang akan kau lakukan.”

Bisikannya membuat bulu kudukku berdiri seketika. Waktu berjalan cepat saat suara tembakan terdengar melengking. Tubuh yang berdiri kokoh itu ambruk berlutut di hadapanku. Beberapa meter di depanku berdiri perempuan berambut sepinggang sedang mengangkat tangan kanan yang memegang pistol mengarah padaku. Ia berjalan pelan.

“Seharusnya kau katakan yang sebenarnya, bahwa lelaki seperti dia tidak pantas hidup.”

Sebelum Boy menarik pelatuk revolver yang dia arahkan kepadaku, Karla lebih cepat menembakkan peluru panasnya mengenai dada lelaki pengecut itu. Aku berhambur memeluk Karla dan menangis di pangkuannya. Tanpa ia sadar, revolver yang kusembunyikan sejak tadi telah mengarah padanya dari belakang punggung perempuan yang telah mengkhianati pengorbananku.

“Jadilah sahabatku lagi di dunia lain.”

Lengkingan tembakan menggema di angkasa. Peluru panas menembus tepat ke dadaku.

Bekasi, 16 Agustus 2015 / 1 Dzulqa’idah 1436 H

Sunday, 12 July 2015

Korban Terakhir




Oleh : DLC

Dua buah pisau dapur menancap di bantal yang berlumuran darah. Bau amis menyeruak dalam ruangan 2x3 persegi.

"Kau tahu siapa yang akan menjadi korban selanjutnya?" tanya seorang wanita yang berjongkok di depan lelaki dengan mulut tersumpal dan tangan terikat. Matanya melotot.

Saturday, 4 April 2015

Balada Pagi



Oleh : Dinda Lc (bukan lulusan cairo yo)


Hoaaahm. "Wah, air minum habis!" ucapku dalam hati. Pagi jadi sepet gini.

Sebenarnya sudah dari malam sadar akan hal tersebut, tapi toh malam hari malas keluar rumah, pun malas hanya untuk sekadar membukakan pintu untuk pengantar air galon. Biasanya 'delivery service'.

"Lari yuk?" Temanku Refni ketagihan setelah kemarin kuajak dia 'jogging' pagi di sekitar perumahan GNI.

 "Yuk!"

***

Capek!! Gini nih, kalau gak biasa berolahraga. Digerakkan sedikit saja badan sudah menggerutu. Padahal ada pepatah "mensana incorporesano" (bener gak tuh nulisnya) yang artinya dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Sebenarnya aye kagak ngerti maknanya. Lanjoot.

"Eh, di rumah sudah tak ada air minum," sahutku pada Refni yang asik memainkan ponsel androidnya.

"Oh iya, beli pakai uang pribadi aja dulu."

Memang jatah air minum kita disediakan oleh kantor. Dua galon per minggu untuk lima orang. Kalau sebelum tempo sudah habis, kantor tetap membelikan. Hanya, sekarang libur, 30 ribu harus keluar dari saku pribadi. Tak apa nanti juga diganti. Asik, kan gue? hahah.

Libur oh libur. Malas masak setelah capek berolahraga. Sarapan instan ya dengan membeli bubur.

"Eh, di rumah kagak ada air. Kita bungkus aja nih air minum gratis." Ide dari si otak kepepet muncul saat kita sedang melahap bubur.

"Halah, kagak bawa Tuppy. Ya udah abis makan, minum aja yang banyak buat persediaan," ucapku jenius.

"Jadi kaya unta," sambungku.

Kami berdua tersenyum menyeringai. Ide jahat? Bukan, itu ide konyol. Hahah.

Bogor
04.04.15

Friday, 13 February 2015

Udah Putusin Aja

Diikutkan dalam lomba menulis disebuah grup

Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Berawal dari rasa kagum terhadap seorang teman, akhirnya aku memutuskan untuk berkerudung permanen, setelah sebelumnya aku hanya menggunakan kerudung saat-saat tertentu saja. Meski hanya memiliki beberapa lembar kerudung, tak menjadi masalah besar buatku. Aku tetap berusaha menutup aurat, walau belum bisa disebut berhijab syar’i.

Berhijab bukan berarti tak boleh pacaran, kan? Itu pemahamanku saat memasuki Madrasah Aliyah (MA), setingkat SMA. Aktivitas pacaran masih aku jalani. Ah, masa labil memang merasuki jiwa-jiwa anak muda yang belum mengenal islam secara menyeluruh. Suatu hari aku mendapatkan sebuah pesan singkat, “Laa taqrabu zina, Inahu kaana Faahisyah wa saa-a sabila; jangan mendekati zina, sesungguhnya ia (zina) adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” Apa maksud dari pesan itu? menuduhku berzina? Padahal aku sama sekali tidak pernah berhubungan layaknya suami-istri, aku tidak pernah menggadaikan harga diriku. Toh, aku hanya pacaran yang saling memotivasi satu sama lain agar sama-sama berprestasi. Huh, aku tidak bisa menyembunyikan kekesalan, dan hasilnya adalah aku tidak mau menghubungi si ‘pengirim’ pesan itu lagi.

Siklus pacaran selalu kualami, PDKT-jadian-romantis-berantem-putus. Kalau dipikirkan, hal itu memang membosankan. Kelas dua MA, aku memutuskan untuk tidak berpacaran karena sudah terlalu sering sakit hati, ceritanya. Bukan karena aku mengerti bahwa pacaran itu dilarang agama lho. Selepas MA, aku melanjutkan pendidikan satu tahun di satu lembaga tertentu. Niatku, aku sampaikan pada wali kelasku. Dan beliau mengingatkan, “disitu harus pake gamis loh, terus kerudungnya panjang-panjang.” Bukannya mundur, aku malah tertarik. Hatiku selalu ingin berpenampilan seperti ‘mereka’ yang benar-benar berhijab syar’i. Aku melangkah pasti, mendaftar dan akhirnya tersesat.

Hari pertama, yang jika ditempat lain mahasiswa itu selalu mendapatkan “bullying”, berbeda halnya dengan ‘kami’ yang mendapatkan ilmu baru. Cara berpakaian sesuai syari’at, pengenalan tentang jilbab dan khimar. Ternyata kedua kata itu berbeda, jilbab adalah yang selama ini aku sebut gamis, dan khimar itu kerudung. Tidak boleh tipis, ketat, dan harus menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sulit, awalnya hanya punya tiga potong jilbab dan beberapa khimar yang kugunakan bergantian setiap harinya. Itu pun, pakaian yang tidak memiliki ‘style’ seperti kebanyakan set jilbab masa kini. 

Selain itu, pemahamanku bertambah bahwa menutup aurat berarti kita juga harus menutup pintu maksiat yang lain, termasuk pacaran dibahas saat itu. Allah, aku merasa semakin mengenal-Mu.

Sekarang, aku tahu bahwa memutuskan untuk menutup aurat itu berarti memutuskan tali-tali maksiat kepada Allah dan memanjangkan taat kepada-Nya. Lebih baik mengenal-Nya terlebih dahulu sebelum mengenal seseorang yang tak halal bagiku. Udah putusin aja! Putuskan untuk menutup aurat dan putuskan pacarmu. 

Cileungsi, Bogor-Indonesia
13 feb 2015

Sunday, 8 February 2015

Pesan Tersembunyi



Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Karla lari tergopoh-gopoh, memaksa pintu terbuka dan langsung masuk ke kamarnya. Mengobrak-abrik seluruh ruangan. Karla hanya bisa menelan ludah, tubuhnya lunglai. Sobekan kertas yang berisi pesan itu kini hilang.

“Kau mencari ini?” Suara tegas mengagetkannya dari arah belakang.
“Rossi, kau menemukannya. Apa kau membaca isi pesan itu?”. Sebenarnya Karla tidak perlu bertanya pada Rossi, karena dari nada Rossi saja sudah jelas bahwa ia sedang menahan amarah. Rossi hanya menatap tajam ke arah Karla. Pandangannya meminta sebuah penjelasan.

“Rossi, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Percayalah!” Karla mendekat dan mencoba menggenggam kedua tangan Rossi. Namun, Rossi mengibaskan tangannya dengan kasar. Tatapan Rossi mencemooh, nafasnya mendengus disusul dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.

“Aku terlalu mempercayaimu, dan inilah hasilnya. Kau tak ubahnya seperti teman yang menusukku dari belakang. Kau tahu, aku mencintainya. Pantas saja selama ini kau mencoba menjauhkanku dari San, alih-alih kau meminjam istilah agama bahwa aku belum halal untuknya. Tapi, kau sendiri yang mendekati San.” Karla menunduk, tak mampu menahan sakit atas tuduhan yang terlontar dari mulut sahabat baiknya, Rossi.


Rossi melemparkan kertas yang digenggamnya ke arah Karla. “Aku tidak ingin melihatmu di ruangan ini lagi ketika aku kembali pukul delapan malam ini.” Rossi berlalu meninggalkan setumpuk luka dalam hati Karla. Sungguh, Karla tidak pernah bermaksud merebut perhatian San. Tulisan yang tersurat pada robekan kertas itu ditatapnya. Matanya berkaca membaca sebuah tulisan “Karla, aku akan mendatangi walimu untuk mengkhitbahmu. San Muslim.” 

08.02.15

Tuesday, 27 January 2015

Pertengkaran Kecil

Dinda L Cahyani & Resni Gusmiati

Oleh : Dinda Lindia Cahyani, IDFAM3210U

“Res…., Kamu kenapa?”. Tanyaku.
Beberapa hari ini Resni menjauhiku. Entah, apa yang membuatnya bersikap seperti itu. Aku mencoba menyelidik karena merasa tak nyaman dengan sikapnya yang menurutku berubah.
“Gak apa-apa”. Jawabnya ketus.
Hari-hari pun berlalu. Aku

Sunday, 25 January 2015

Wajah Terakhir Ayah

Wajah Terakhir Ayah
Teduh, Mendung yang menyembunyikan sinar surya hari ini. Sedikit siraman gerimis dari langit yang entah berduka. Sepasang mata terus memperhatikan Merry dari jarak dekat. Dengan waktu yang cukup lama dia menunggu Merry. Akhirnya menyentuh pundak Merry, seorang anak yang kini berada dihadapan pusara ayahnya.

Saturday, 24 January 2015

Sempurnakan Agamaku

“Sempurnakan agamaku?”
Perlahan tapi pasti dia berjalan menyusuri jalan kecil dipinggiran sungai yang agak jauh dari pemukiman penduduk. Jalannya mengendap-endap seakan takut ada yang mengikuti dan mengetahuinya. Hanya dengan penerangan dari cahaya bulan tampak sesosok perempuan berdiri dibawah pohon maple yang sesekali daunnya berjatuhan. Seorang perempuan dengan kimono merah dan rambut yang sengaja digerai melambaikan tangan kearahnya. Dia bergegas mendekati perempuan tadi.