“Are you a blog writer?”
“Hu’um,” jawabku.
“Apa asyiknya? Kenapa tak kau coba mengirim tulisan ke media. Bisa dinikmati orang dan juga mendapat penghasilan tambahan.” Fa menyelidik sembari memberi masukan.
Aku berdiri, berjalan mendekati jendela yang terbuka. Di langit tampak biru dan juga gumpalan awan yang bergerombol. Sesekali angin bertiup mengusap wajahku lembut. Secangkir kopi di tangan kuteguk perlahan.
“Hmm. Tak begitu asyik. Hanya lebih suka menulis di sana. Tak terikat waktu dan tuntutan, lebih bebas mengekspresikan keinginan hati dan tanganku.” Kujawab tanpa melihat Fa.
“Sia-sia kau menulis, Ra.” Farin menyayangkan.
“It’s not a big deal. Tulisanku hanya untukku.” Aku menyangkal.
“Kalau begitu untuk apa kau upload. Simpan saja di laptop jika untuk konsumsi sendiri, tulisanmu akan mudah disalin orang lain dan diakui hak ciptanya. Buang-buang uang saja untuk beli kuota.” Farin mulai mencerocos.
“Fa, it’s ok. I’m a blogger. Terserah mereka mau menyalin tulisanku atau tidak. Jika memang itu berbobot. Haha, you’re so funny and please! Don’t be so serious like that. Maksudku, tulisan itu hanya untukku. Ya, untuk kesenangan pribadi. There’s a reader or not, I will not changed. Dengan menulis di blog, aku tidak perlu takut dengan aturan tulisan, atau apalah. I can enjoy with that.” paparku.
“Really?” Farin masih penasaran.
Aku mengangkat kedua alis dan membulatkan mata, meminta padanya menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
“Kau tidak mengharapkan apapun dari blogmu?” Farin memperjelas.
“There’s always a reason for a thing happens,” jawabku simpel.
“Ok. I’ll not ask you more about this.”
Kedua ujung bibirku melebar. Kuhabiskan tegukan terakhir kopi yang masih hangat, dan seiringnya aku pun ingin menulis lagi. Terserah dengan reader, liker, or hater. I just wanna be a blogger. With a quality or not. Whatever!
By ; D.Lc
May, 2016

No comments:
Post a Comment