“Akulah sayapmu, yang kau
butuhkan
Untuk nanti terbang, ke surga Dia”
-KD, Ost. SYTD-
Dahulu
kala, terkisah seorang puteri yang terjatuh dari langit. Di sebuah perkampungan
yang penuh dengan taman bunga, dia tinggal seorang diri. Kampung itu sepi dan
tidak berpenghuni. Awalnya dia merasa heran dan kebingungan, namun seiring
dengan waktu pun sang puteri terbiasa dengan kesendiriannya.
Pada
suatu hari puteri berjalan-jalan di taman. Sesekali ia mencoba terbang dengan
sayapnya yang robek karena jatuh dan tersangkut di sebuah pohon. Namun dengan
wajah yang ditekuk ia menghembuskan napas kesal. Sayapnya tak berpungsi sama
sekali. Ia pun pergi ke tebing yang tinggi hendak mencoba kemampuan terbangnya.
Tangan dan sayapnya ia bentangkan lalu dengan mata tertutup sang puteri hendak
melompat dari tebing. Tiba-tiba seseorang menahannya dengan suara yang keras.
“Kamu
belum siap!”
Puteri
seketika membuka mata dan menahan kakinya yang hendak melompat. Lalu ia mencari
sumber suara.
“Kamu
belum siap terbang dengan sayap rusak seperti itu, Puteri!” Seorang lelaki
berdiri dengan memasang wajah khawatir.
“Maaf,
Puteri. Aku yang selama ini memelihara taman di sini. Tanpa sepengatahuanmu,
aku pun selalu memperhatikan Puteri.”
“Benarkah?”
Puteri masih belum percaya.
Lelaki
itu tidak menjawab. Dia berbalik membelakangi sang puteri lalu pergi tanpa
sepatah kata lagi. Puteri yang masih bertanya-tanya mengikuti dari belakang.
Lelaki itu sadar sedang diikuti, ia memasuki sebuah gubuk tua.
“Sedang
apa kamu?” Puteri penasaran dengan apa yang sedang ia lihat di gubuk itu.
“Ini
untukmu, tapi masih belum selesai. Kuharap kau masih mau sabar menunggu.”
Lelaki itu berbicara tanpa melihat sang puteri. Ia sibuk dengan rajutan yang
terbuat dari benang emas.
“Apa
itu?” Tatapan sang puteri tak lepas dari benda yang sedang dirajut.
“Sebuah
sayap, tepatnya sayap emas,” ucapnya dengan nada senang.
“Wah,
benarkah? Aku suka, dan pasti kutunggu sampai kau menyelesaikannya.” Puteri
bertekad dengan hati yang berbunga-bunga.
Waktu
berlalu. Menit, jam, hari, bulan, dan tahun. Sang puteri sedang tertidur di
rumah taman. Tiba-tiba ketukan pintu membangunkannya. Ketika dibuka, lelaki
perajut itu berdiri di depan pintu dengan wajah ceria. Namun di balik matanya
tersembunyi hal lain.
“Aku
menyelesaikannya. Sekarang kamu bisa kembali ke tempatmu dengan cepat dan aman.”
Senyum terkembang di bibirnya. Lelaki perajut menyerahkan sepasang sayap emas
pada sang puteri. Melihat puteri yang ceria karena akan segera pulang, lelaki
perajut membalikkan badan lalu pergi meninggalkan puteri. Baru saja beberapa
langkah, sang puteri memanggil.
“Kau
mau ke mana?” tanya puteri.
“Kembali
ke gubukku,” jawab lelaki perajut tanpa menoleh. Ada yang ia sembunyikan.
“Aku
tak akan kembali ke langit.” Tiba-tiba ucapan puteri mengagetkan lelaki perajut,
ia pun menoleh.
Puteri
melihat jelas, di bola mata lelaki itu tersimpan kesedihan yang dalam.
“Aku
tak akan kembali ke langit.” Puteri mengulang ucapannya. Lelaki perajut tak
berkata apapun, ia hanya menatap puteri meminta penjelasan.
“Segala
sesuatu terjadi karena ada alasan. Aku jatuh dari langit dan tinggal di sini
pun ada alasan, aku tak bisa pergi sendiri ke langit meski ada sayap emas ini.
Karena yang aku butuhkan adalah orang sepertimu yang bisa menjagaku agar tidak
jatuh lagi.” Puteri menunduk, matanya berkaca-kaca.
Sang
lelaki perajut terdiam. Ia mengerti, dengan jelas dan pasti. Karena itu pun
yang diharapkannya, bisa menjaga puteri sampai kapanpun meskipun tanpa sepasang sayap.
Dedicated
for you….
Cibarusah-Bekasi,
13 Mei 2016

No comments:
Post a Comment