Pages

Friday, 13 May 2016

Sayap Emas


“Akulah sayapmu, yang kau butuhkan
Untuk nanti terbang, ke surga Dia”
-KD, Ost. SYTD-

Dahulu kala, terkisah seorang puteri yang terjatuh dari langit. Di sebuah perkampungan yang penuh dengan taman bunga, dia tinggal seorang diri. Kampung itu sepi dan tidak berpenghuni. Awalnya dia merasa heran dan kebingungan, namun seiring dengan waktu pun sang puteri terbiasa dengan kesendiriannya.

Pada suatu hari puteri berjalan-jalan di taman. Sesekali ia mencoba terbang dengan sayapnya yang robek karena jatuh dan tersangkut di sebuah pohon. Namun dengan wajah yang ditekuk ia menghembuskan napas kesal. Sayapnya tak berpungsi sama sekali. Ia pun pergi ke tebing yang tinggi hendak mencoba kemampuan terbangnya. Tangan dan sayapnya ia bentangkan lalu dengan mata tertutup sang puteri hendak melompat dari tebing. Tiba-tiba seseorang menahannya dengan suara yang keras.

“Kamu belum siap!”

Puteri seketika membuka mata dan menahan kakinya yang hendak melompat. Lalu ia mencari sumber suara.

“Kamu belum siap terbang dengan sayap rusak seperti itu, Puteri!” Seorang lelaki berdiri dengan memasang wajah khawatir.

“Siapa kamu?”
tanya sang puteri dengan wajah heran.

“Maaf, Puteri. Aku yang selama ini memelihara taman di sini. Tanpa sepengatahuanmu, aku pun selalu memperhatikan Puteri.”

“Benarkah?” Puteri masih belum percaya.

Lelaki itu tidak menjawab. Dia berbalik membelakangi sang puteri lalu pergi tanpa sepatah kata lagi. Puteri yang masih bertanya-tanya mengikuti dari belakang. Lelaki itu sadar sedang diikuti, ia memasuki sebuah gubuk tua.

“Sedang apa kamu?” Puteri penasaran dengan apa yang sedang ia lihat di gubuk itu.


“Ini untukmu, tapi masih belum selesai. Kuharap kau masih mau sabar menunggu.” Lelaki itu berbicara tanpa melihat sang puteri. Ia sibuk dengan rajutan yang terbuat dari benang emas.

“Apa itu?” Tatapan sang puteri tak lepas dari benda yang sedang dirajut.

“Sebuah sayap, tepatnya sayap emas,” ucapnya dengan nada senang.

“Wah, benarkah? Aku suka, dan pasti kutunggu sampai kau menyelesaikannya.” Puteri bertekad dengan hati yang berbunga-bunga.

Waktu berlalu. Menit, jam, hari, bulan, dan tahun. Sang puteri sedang tertidur di rumah taman. Tiba-tiba ketukan pintu membangunkannya. Ketika dibuka, lelaki perajut itu berdiri di depan pintu dengan wajah ceria. Namun di balik matanya tersembunyi hal lain.

“Aku menyelesaikannya. Sekarang kamu bisa kembali ke tempatmu dengan cepat dan aman.” Senyum terkembang di bibirnya. Lelaki perajut menyerahkan sepasang sayap emas pada sang puteri. Melihat puteri yang ceria karena akan segera pulang, lelaki perajut membalikkan badan lalu pergi meninggalkan puteri. Baru saja beberapa langkah, sang puteri memanggil.

“Kau mau ke mana?” tanya puteri.

“Kembali ke gubukku,” jawab lelaki perajut tanpa menoleh. Ada yang ia sembunyikan.

“Aku tak akan kembali ke langit.” Tiba-tiba ucapan puteri mengagetkan lelaki perajut, ia pun menoleh.

Puteri melihat jelas, di bola mata lelaki itu tersimpan kesedihan yang dalam.

“Aku tak akan kembali ke langit.” Puteri mengulang ucapannya. Lelaki perajut tak berkata apapun, ia hanya menatap puteri meminta penjelasan.

“Segala sesuatu terjadi karena ada alasan. Aku jatuh dari langit dan tinggal di sini pun ada alasan, aku tak bisa pergi sendiri ke langit meski ada sayap emas ini. Karena yang aku butuhkan adalah orang sepertimu yang bisa menjagaku agar tidak jatuh lagi.” Puteri menunduk, matanya berkaca-kaca.

Sang lelaki perajut terdiam. Ia mengerti, dengan jelas dan pasti. Karena itu pun yang diharapkannya, bisa menjaga puteri sampai kapanpun meskipun tanpa sepasang sayap.

Dedicated for you….

Cibarusah-Bekasi, 13 Mei 2016

No comments:

Post a Comment