Pages

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Saturday, 10 June 2017

Bicara Tentang Kematian


Ingat!
Mati tak melihat usia, rupa, kedudukan. Sekalipun kau ingin bernegosiasi dengan milyaran, ketetapan-Nya tak bisa kau lawan!
Tutup auratmu sekarang
Hapus auratmu di media sosial
Karena kau tak tahu, dari mana dosa jariyah berasal
Lihat ...!
Bumi tak

Jalan Cinta



Benar
Kita tidak bisa menggurui
Apalagi para tetua yang sudah jauh usia di atas kita
Dan title kita juga hanya bermantelkan agama
Kita hanya bisa merangkul dengan kata
Dengan hikmah yang tersebut di

Friday, 2 June 2017

Syair Kematian



Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Dia adalah hitam
Perlahan-lahan membungkam putih kehidupan

Datangnya merambat melebihi kecepatan cahaya
Ia terlalu dini untuk disadari

Dihantar Izrail yang tiada pernah membangkang Tuhannya

Ketika Firman sudah tersebut, maka maut segera merenggut

Apa mungkin meminta ditangguhkan?

Karena saat

Sunday, 2 October 2016

Hijriah

Assalamu'alaikum Muharram,
Bulan pertama pada tahun yang dicintai muslim dunia
Adalah hijriah yang menjadi awal bersama
Saat tidak ada lagi suku dan budaya memisah
Karena islam yang mempersatukan
Aku heran pada mereka yang mengaku hamba
Namun lupa tahun yang menjadi awal cahaya
Mereka yang bereuforia dengan petasan pada hari yang dinyatakan tahun masehi
Era baru islamlah yang mesti disambut
Karena awal kehidupan yang penuh berkah
Awal lembaran yang akan menyempurnakan halaman selanjutnya



Saturday, 21 May 2016

When Will You Come?




I really miss you, don't you know it?
It's hurted for me.
Feeling tears when i remember you
I have nothing about you to help me through
Are you serious that i have to wait for?
I really miss you...
Why we

Monday, 9 May 2016

Salam Malam






Assalamu'alaikum malam


Salam pun terucap untuk bintang, bulan, dan makluk Tuhan yang bermunculan di kala senja bermulai
Di sini hati masih seperti yang lalu, menyepi dalam asa. Bahagia bersama takwa. 
Mungkin memang keadaan tak selalu sama. 
Yang paling berarti, saat malam mulai menyelimuti maka itulah waktu yang terbaik. 
Terbaik mencurahkan isi hati dan menyendiri. 


Malam,  
Kau tempat aku menyeka lelah
Bernapas setelah hari-hari yang menyesakkan.
Bermimpi di saat kenyataan tidak terlalu indah untuk dihadapi
Malam...
Aku tahu besok kau akan lenyap seiring matahari menghampiri
Namun kutahu pasti, Tuhan akan mengembalikanmu untuk menghiburku. 
Begitulah, karena kau tercipta untuk melengkapi,
Salam terindah sebelum lelapku. 

Saturday, 12 September 2015

Eksistensi Diri

Eksistensi Diri





Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Jika aku masih di sini, apakah angin masih berembus?
Jika aku memaku diri dengan jasad sepi, apakah hujan akan kembali jatuh?
Aku memang tak berarti, namun hanya bagi mayat-mayat yang menghadapkan jiwa pada Tuhan
Sedangkan, harpa kehidupan masih terus dipetik
Namun ego tak mau terusik
Untuk hidupku yang menjadi benalu, mengelupaslah sampai kulit-kulit kemalasan bermetamorfosa semangat
Apa yang terjadi jika putus asa membunuh iman-iman di dada?
Lalu eksistensi masih dikejar padahal napas t'lah berhenti?
Bagiku, semua tiada pasti
Hanya janji Tuhan, bahwa kiamat  hakiki terjadi
Membumihanguskan asa dan juga nyawa

Bekasi, 12 September 2015 / 28 Dzulqa'idah 1436 H

Aku Bulan, Kau Matahari

Aku Bulan, Kau Matahari


Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Aku hanya bulan
Bersinar dari cahaya pinjaman
Tersenyum saat malam, penuh kepalsuan
Sejatinya aku kelam; muram
Kau matahari!
Sumber senyum yang kubagi
Terkadang menutupiku sempurna
Membuat kegelapan seutuhnya aku hina, gerhana
Saat siang menjelang
Kau bertengger di dahan-dahan Tuhan
Tak mampu kupandang, kau silau
Meski awan kelabu membelenggu, kau tersenyum di baliknya.
Aku bulan, kau matahari
Aku dipuji-puji tuan yang sedang merindu; pilu
Sedangkan kau dipuja-puja semangat menggebu
Pada fajar pagi, dan senja
Kita mungkin bersatu, namun menjadi gelap
Aku bulan, kau matahari
Tanpamu aku lenyap


Bekasi, 28 Dzulqa’idah 1436 H / 12 September 2015 M



Thursday, 6 August 2015

Bait untuk Matahari

MATAHARI



Oleh : DLC 

Kau melingkar sempurna
Di senja yang terabai manusia
Di perbatasan kesibukan
Menjingga hias cakrawala

Sayup-sayup semilir angin
Membisikkan kemarau usil
Mengeringkan selaput kulit
Melemahkan sayap-sayap pendapatan

Wabah-wabah penyakit menjangkit
Air mengucur semakin irit
Oh kemarau membuat petani galau
Penduduk bersuara parau

Kau yang memanaskan bumi
Tenggelam di ufuk rahasia
Terbit di sebagian benua
Kembali mengikis peluh-peluh pekerja

Duhai engkau yang naik ke titik nadir
Terbiasa menguapkan lautan
Menjadikannya kristal hujan
Sampaikanlah kepada Tuhan

Kau yang bertengger di mega
Lagi kami rindukan rerintik keberkahan
Namun bukan bah menakutkan
Sampaikanlah kepada Tuhan

Bekasi, 5 Agustus 2015

Saturday, 1 August 2015

Aroma Rindu Hujan

HUJAN


Oleh : DLC


Edaran waktu setahun
Mengundang rindu pada rerintik
Aroma gersang semusim
Membuat jemu dedaun mengering

Tertatih, terseok, kaki-kaki menjejak
Berjalan di atas tanah yang retak
Membuta oleh debu nan resah
Mematung bersama kemarau
Katakan pada angin laut
Tiupkan awan kelabu
Yang mengucurkan air dari langit
Mendinginkan, pun penghilang dahaga
Alunan nada tetesan hujan
Menjadi simfoni penghibur luka
Menyembunyikan sebagian air mata
Yang jatuh karena kerinduan
Sampaikanlah …!
Agar hujan hadir tepat waktu
Kala debur rindu menggebu
Biar hilang sendu di kalbu


Bekasi, 1 Agustus 2015


Tuesday, 14 July 2015

Terjerat Rindu



#Dukotu

Terjerat Rindu

Terpenjara oleh ingatan kepadamu
dalam ruang kalbu

Monday, 13 April 2015

Jeritan Budak Dunia



Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Sebagian nyawa membisu di kesunyian. Sebagian lain merapal dzikir penyesalan di sepertiga malam. Lalu apa gunanya aku? Hanya tersenyum kecut menatap gumpalan alat shalat.

Inilah duniaku. Jiwa terlunta-lunta memanggil nama-Nya. Mengharap wajah Tuhan menoleh pada sajadahku.

Kuketuk pintu-Nya perlahan. Semoga ada celah yang terbuka untuk kumasuki. Lalu bagaimana jika aku diusir sebelum gerbang itu terbuka?
Ah, aku pengecut. Bertemu Maha cinta saja aku malu. Dengan pakaian seperti ini. Baju kemaksiatan yang selama ini membalut membuatku enggan menemui Tuhan.

Ud'unii astajiblakum! Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu!

Lalu Dia melanjutkan "... sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." Gafir : 60

Tamparan halus untukku. Saat aku menulis ayat ini Dialah yang menunjukkan. Seakan kematian begitu dekat di pelupuk mata. Lebih dekat dari urat leher yang menjalar sebagai sambungan nyawa.

Rabb ...?

Saturday, 4 April 2015

Takdir Kematian

Mamah, Dinda, Bapak


Oleh : Dinda L Cahyani


Aku
Sebenarnya bukan menakuti
Pernah melihat sakaratul maut
Bukan dalam bayangan maya
Tentang gemelutuk rasa takut
Tentang mata mengabur
Tetang dunia yang menjauh

Bukan melalui cerita
Tapi tatapan nyata
Saat nadi-nadi mengeras
Samar-samar nyawa dicabut
Meringis menahan perih
Tak terbayangkan

Ayahku
Mengunci mulutnya rapatrapat
Bukan namaku yang disebut
Bukan pula nama Tuhan
Dia membisu
Asyhadu Allaa Ilaaha Illa Allah
Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah
Mereka menuntunnya

Perlahan tapi pasti
Terhempas
Tak lagi bernapas
Isak tangisan tak mengembalikan ruhnya

Malaikat merampas jiwa yang disayang
Mencabut nikmat kepemilikan dengan tanpa iba
Tak peduli darah dagingnya menyebut memanggil lirih
Aku yang berusia delapan tak lagi senang
Air mata menghilang diresap kain kafan

Bersama tanah merah
Takdir kematian mengawali sebutan
Aku anak yatim yang dicetuskan Tuhan

Bogor
28 Maret 2015

Satu 'Kita'



Oleh : Ad.N

Seorang bertanya
Kenapa harus terkotak?
Bukankah tujuan k i t a sama
Mengembalikan kehidupan islam nan jaya

Kita tidak membunuh akidah beda
Menyeret ide yang sama
Lalu menyulut ashobiyah
T'lah terbakar ukhuwah

Apa tubuh kita terpisah?
Tidak lagi merasa sakit pada luka
Menangis di mata berdua
'Kita' menjauh meskipun sejengkal

Laa rohata ba'dal yaum
Menggema di telinga
Namun,
Ego kita mengikat dosa
Bukan malah menyebar rahmat
Namun terjebak maksiat diri
Menilai rendah di luar harokah
Ah, mana itu umat yang satu

Allah
Ke mana kita berhenti
Berkumpul dalam satu mahsyar
Saling menghujat merasa benar
Apa naungan kasih didapat dengan berselisih

Otak kita bersaraf banyak
Meski pada satu tengkorak
Muncullah berbagai pendapat
Namun hati bukankah satu?

Dengan menyebut Allahu Ahad
Satu lidah, satu iman
satu 'kita'

Bogor
29 Maret 2015

Anak Negeri



Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Kaki kecil berlarian
Anak-anak terjajah
Di sudut kota menengadah
Seulas senyum di tangan

Rambu-rambu membisu
Merahasiakan rasa lapar
Harga diri tertampar
Meminta nilai seribu

Merogoh harapan
Pada sengat matahari
Lalu mimpimimpi bertebaran
Bercampur liar kesukaran

Satu, dua, tiga
Hitungan yang terlupa
Sepotong pensil tergeletak
Di bawah jembatan tua

Bogor 01.04.15

Untuk Satu



Oleh : Dinda Lindia Cahyani (Ad.N)

Tuhan bila aku
Tercipta hanya untuk satu
Maka hilangkan dua dan tiga
Aku tak mau bersandiwara

Lalu hapus semua
Memori masa lalunya
Pun milikku jua
Kami hanya ingin kami
Tercantum dalam sejarah

Hujan hanyutkanlah
Jejak-jejak yang tertinggal
Pada dua hati cinta
Cukup langkah kami saja

Bogor
02.04.15

DILARANG PLAGIAT!!!!!

Segores Tinta untuk Ibu Bapak

Oleh : Dinda L Cahyani


Ibu-Bapak
Izinkan penaku berkata
Menyebut sedikit dari miliaran makna
Tentang peluh-peluh usaha
Tuk jadikan aku berharga

Masa kecil kuteringat
Berdua, kalian memapahku
Mengajari langkah pertama
Menjejaki dunia keras nan fana
Sampai langkah terakhir aku bisa

Tangis nakal tak henti mengganggu
Pintaku sebanyak menit yang dimiliki
Namun
Kalian tak berhenti memuji jua memberi
Hingga ingin terealisasi pasti

Beranjak aku menapaki waktu
Malaikat masih mengaping di kedua sisi kanan-kiriku
Itu kalian yang menjelma cinta
Memupuk ruh dan jasad dengan ikhlas
Agar aku menjadi anak berkualitas nan tegas

Tak sedikit aku mengeluh
Membentak tanpa sadar bersalah
Membuat surgaku menjauh
Menyalahi apa yang diingini
Namun, samudera maaf tak habis terkuras kau kucurkan

Ridha Allah tersisip pada hati kalian
Dedoa menjadi keramat saat dilisankan
Tanpa restu, kesuksesan niscaya tertunda
Maka kalian adalah makna kasih
Yang memupus kegagalan dan mencipta langit harapan

Ibu-Bapak
Terimakasih untuk tidak menyerah
Tetap mempertahankanku
Terimakasih karena selalu mengalah
Menghapus ego hanya demi anakmu
Inilah segores tinta yang tak bisa membalas jasamu




07.03.15
Bogor, Indonesia

Penulis Bukan Milik Pribadi

Penulis Bukan Milik Pribadi

Oleh : Dinda L Cahyani

Lepaskan aku saja
Tidak usah kau menggurui hatiku
Atau pena yang bertinta ide
Aku tahu mana wajah ikhlas
Meski tertutup sebuah pangkat

Tuhan saja membebaskan
Memilih
Bermimpi
Memberi akal sebagai bekal
Lalu aku melesat tanpa batas

Ini
Jeruji yang kau lingkarkan
Pada tubuh aksaraku
Kukembalikan dengan hormat
Aku paham tentang ideologi itu
Tapi aku tidak berniat menyatu
Jadi biarkan aku

Wah wah
Lihat aku
Sombong telah menempel di baju
Telah menyita perhatianmu
Tapi tenang
Aku sadar kemana aku kembali

Bangga itu adalah penghias
Jadi tak perlu kau was-was
Aku tahu mana tanah dan alas
Jadi sarungkan pedang penebas

Aku milik semua
Tapi bukan penghibur
Aku milik semua
Namun tak boleh kau sadur

Aku milik semua

Bogor
04.04.15

Sunday, 22 March 2015

Puisi Akrostik

Liktasiya Nadhir​

Oleh : Adin Neferu

Logat-logat cinta terapal merdu
Isyaratkan hati yang meramu rindu
Kau, bukankah ciptaan yang terindah
Tersebar sempurnamu dalam tawadhu
Akhlakmu terpuji setingkat suci
Sembahlah Allah tanpa ragu
Ikatkan tali-tali ukhuwah islam
Yang terajut dengan benang takwa
Agar jiwa peroleh naungan-Nya

Niscaya usia akan berakhir
Amal menjadi teman terakhir
Derma manfaat pembawa selamat
Harapan, tujuan hanya Allah satu
Ingatlah rangkaian huruf ini
Rupa dari syukurku atas hadirnya dirimu

Bogor, 20 Maret 2015

Puisi Akrostik


Muqoddasah

Oleh :  Ad.N

~♥M♥~

Melambai-lambai pujian lunglai, tertuju pada hamba yang takwa. Bermunajat pada Yang Maha Cinta.

~♥U♥~

Usik petapa di dalam surga. Mendapat suguhan man dan salwa. Ditemani bidadari bermata jeli. Yang memanjakan netra tanpa dosa.

~♥Q♥~

Qiraah merdu mengalun syahdu, membising ruang dipenuhi canda-canda bahagia. Bukan peri-peri dongeng melainkan ratu-ratu dunia penghafal kalam-Nya.

~♥A♥~

Akhlakmu melangit, tersohor putri berperangai welas asih. Ikhlas menyantuni anak yatim, berbagi rezeki pada fakir miskin dan jua berbakti kepada titah-Nya. Begitulah diri mengabdi pada Maha Pengasih.

~♥D♥~

Derita hilang, duka pun runtuh. Sekali-kali tidak akan luka kembali menyapa hati. Begitu tersirat dalam kitab suci. Cukuplah nikmat-nikmat duniawi terganti dengan yang lebih hakiki. Tak berujung, tetap, dan tiada lagi usiran dari langit. Mengendap dalam naungan mahabbah-Nya.

~♥D♥~

Dengan cinta kau ada di bumi. Menjadi khalifah yang dipercayai memegang janji. Jika saja kau ingkari pasti, gejolak api menjadi tempat kembali.

~♥A♥~

Andai bumi terus berputar sampai berita besar menggemparkan semesta. Seperti Termaktub dalam An-Naba, kita tak bisa mengelak fakta.

~♥S♥~

Saat manusia lain menjauh, kau malah semakin mendekat rapat. Tak peduli orang mengeluh, kau tetap merapal syahadat.

~♥A♥~

Apatah hamba berharap satu pintu. Melewatinya tanpa hisab nan pedih. Melesat cahaya melewati jembatan penentuan. Bahagiakah atau nestapa tak terperi

~♥H♥~

Hingga ruh berjumpa dengan Dzat yang nyawa berada di tangan-Nya. Saat manusia digiring menuju mahsyar perhitungan. Wahai jiwa, kembalilah dengan tenang. Dengan ridha dan diridhai-Nya.

Bogor, 22 Maret 2015