Pages

Sunday, 4 February 2018

Kebiasaan Berhutang, Merisaukan Hati!


Berhutang Merisaukan Hati
Saya menulis ini bukan berarti saya tidak pernah berhutang. Melainkan saya juga pernah ikut masuk ke lingkaran hutang ini. Itulah mengapa saya dengan berani mengambil judul tersebut di atas. Ingin memberikan peringatan tegas kepada diri sendiri dan juga mungkin orang lain yang secara tak sengaja membaca tulisan ini.

Hutang bukan menjadi hal yang tabu di zaman ini. Apalagi dengan adanya berbagai lembaga keuangan di Indonesia, memudahkan setiap orang untuk berhutang. Ada yang dengan jaminan, ada pula yang tanpa jaminan. Walau begitu, mayoritas lembaga keuangan di Indonesia akan membebankan bunga dengan jumlah persentase sesuai nominal hutang tersebut. 

Namun tawaran untuk berhutang tidak hanya dari lembaga resmi. Ada kalanya segilintir individu di masyarakat pun dengan kelebihan hartanya ‘membantu’ orang yang membutuhkan. Yang disesali adalah orang-orang seperti ini malah mencari kesempatan di dalam kesulitan orang lain, dengan meminta pengembalian yang bisa mencapai 50% atau lebih. Inilah yang disebut lintah darat atau rentenir. 

Ada juga orang yang benar-benar ikhlas meminjamkan, namun kemudian yang dipinjami malah tidak tahu diri. Jika tidak ditagih dia lupa pada hutangnya, atau malah pura-pura lupa bahkan menghilang tiada kabar. 


Baca juga : Cara Mensyukuri Nikmat Sehat 


Saya pernah bekerja di lembaga keuangan, jadi saya tahu persis bagaimana prilaku masyarakat yang membuat berhutang menjadi sebuah kebiasaan. Awalnya mereka tidak berani untuk berhutang. Namun  karena terus dibujuk oleh petugas, akhirnya mereka mau mencoba. Karena sekali merasa lancar dalam pembayaran, akhirnya mereka mencoba kedua dan ketiga kalinya hingga keterusan dan membuat mereka terbiasa. 

Pernah saya menagih orang yang macet dalam pembayaran, namun dia tak mau membayar. Lalu nasabah lain berkata, “Ih da Neng, Ibu mah teu tenang kana hutang teh. Lamun can aya jang kumpulan teh sok kapikiran.” Yang artinya “ih Neng, kalau ibu ya, enggak tenang sama hutang, . Kalau belum ada untuk setoran tuh suka kepikiran.” 

Bahkan saya pribadi pernah mengalami kegelisahan karena ingat hutang. Saya pernah memiliki hutang pada seorang tukang kredit. Waktu itu saya masih SMP (kecil-kecil udah ngutang, LOL. (._.)> jangan ditiru), namun entah kenapa waktu berlalu dan saya pindah kota, sedangkan si tukang kredit itu sudah tidak jualan. Tahun pun berganti, saya sudah mulai bekerja. Namun di kepala saya masih terbesit pikiran tentang hutang yang saya miliki. Saya sudah tidak ingat jumlahnya tapi saya yakin bahwa hutang saya tidak melebihi Rp. 15.000,- pada saat itu. Saat saya pulang ke tempat asal, maka dengan susah payah saya mencari alamat si tukang kredit tersebut dan alhamdulillah saya menemukannya. Dia memang sudah tidak berjualan lagi dan dia pun tidak ingat dengan saya. Dengan melebihkan uang, saya  pun membayar hutang yang sudah bertahun-tahun merisaukan hati. 

Sebenarnya berhutang itu tidaklah diharamkan di dalam islam. Namun ada adabnya dalam melakukan hutang piutang. Salah satunya untuk mencatat dan segera membayar. Selengkapnya baca di sini

Teringat kisah Umar Bin Khattab yang takut untuk berhutang meskipun dalam keadaan yang sangat sulit. Karena dia tidak bisa menjamin hidupnya akan sampai untuk membayar hutang yang akan dipinjamnya. Baca kisahnya lengkapnya di sini

Terutama bagi seorang muslim yang meyakini bahwa akhirat itu ada, kematian itu pasti. Tentu berhutang akan membuat hatinya tidak tenteram. Karena kita tidak bisa memprediksi kapan kita mati. Maka dari itu jangan biasakan berhutang walau pun dalam keadaan sulit. Apalagi berhutang yang di dalamnya terdapat riba. Sungguh riba adalah dosa besar yang Allah peringatkan dengan keras agar muslim menjauhinya. 

Orang yang hidup tanpa hutang akan merasakan ketenangan walau makan hanya sesuap nasi dengan garam. Berbeda dengan orang yang punya rumah mewah, mobil canggih, namun hasil dari berhutang, maka hatinya akan senantiasa risau. 

Kebiasaan berhutang itu terjadi karena memulai berhutang sekali. Merasa bisa membayarnya lantas berpikir untuk berhutang lagi dan lagi sampai menjadi kebiasaan. Maka jangan pernah mencoba berhutang, jika sudah terlanjur segeralah bayar hutang dan tekadkan dalam diri untuk tidak mengulanginya, serta minta perlindungan dari Allah dari hutang. 

do'a dilindungi dari hutang


Jika kita dalam kondisi diberikan kelebihan, maka adapun orang yang datang kepada kita untuk meminta pinjaman, lebih baik bersedekah kepadanya agar tidak membuatnya terbiasa berhutang dan merisaukan hatinya. Jika pun tidak maka do’akan agar mereka diberi kemudahan untuk tidak terlilit hutang. 

Sekian masalah hutang ini semoga menjadi pelajaran. 
Mauritius, 4 Feb, 2018 


Baca Juga : Menjelajah Alam Mauritius, Perjalanan ke Gunung Le MOrne

No comments:

Post a Comment