![]() |
| dindalindiacahyani.com |
Bagaimana tidak, saya terbiasa hidup di kampung dengan bertetangga dan terbiasa saling menyapa sesama tetangga. Namun, berbeda halnya jika kamu hidup di apartemen. Bukan hanya dinding yang menjadi pembatas, namun sifat kekeluargaan dan sosial rasanya kurang terjalin. Karena orang yang hidup di apartemen merasa tak ingin diganggu oleh orang lain dan terisolasi dari yang namanya tetangga.
Apartemen dideskripsikan sebagai hunian eksklusif untuk sebuah personal atau keluarga. Setiap negara memiliki perbedaan dalam menyebut bangunan bertingkat ini. Di Amerika disebut Apartemen, di Inggris mereka menyebutnya Flat, di Australia disebut unit, sedangkan di Indonesia ada dua perbedaan. Jika bangunannya ekslusif yang biasa dihuni oleh tingkat menengah ke atas disebut apartemen, sedangkan bangunan yang biasa dihuni oleh kalangan menengah ke bawah disebut rumah susun. Terdengar deskriminatif namun begitulah kenyataannya walau pada dasarnya sama-sama rumah bertingkat.
Nah mungkin kalau di Indonesia, budaya bertetangga masih bisa terbangun walau tinggal di rumah susun, karena terkadang mereka memiliki WC umum, kamar mandi umum, dsb. Namun jika apartemen kelas menengah ke atas budaya bertetangga ini sudah jarang ditemukan. Karena mereka mengadopsi budaya barat yaitu individualisme.
Saya sendiri yang baru pindah minggu lalu ke Perancis, dan tinggal disebuah apartemen, merasakan kuatnya individualisme. Dimana kamu tak bisa bertegus sapa dan ramah tamah dengan tetangga. Seperti halnya di kampung yang terbiasa saling berbagi dan bertukar makanan, tolong menolong di kala membutuhkan. Yang ada, jika mereka tak suka diganggu bisa saja kamu dilaporkan ke polisi karena perbuatan tidak menyenangkan.
Mungkin tidak semua penduduk Eropa atau Barat seperti itu, namun yang saya alami sekarang begitulah adanya. Tidak beda dengan hidup di gua yang terisolasi dari orang lain. Memang jika berjalan keluar atau mengunjungi tempat publik di sini pun ada namanya ramah tamah. Seperti setiap masuk toko kamu harus menyapa staf penjaga seperti "bonjour" "bonsoir" "au revoir" dan lain sebagainya. Namun jika sudah kembali ke kediaman, kamu tak berhak mengganggu tetangga sebelah.
Padahal di dalam Islam kita diajarkan untuk bertetangga, karena secara alami manusia adalah makhluk sosial yang seharusnya berkomunikasi satu sama lain. Dan islam sangat mengajarkan arti penting dalam bertetangga. Sifat ini mencerminkan diri untuk tidak individualis dan egois. Namun menjadi pribadi yang simpatis atau lebih jauhnya empati terhadap orang lain walaupun berbeda agama.
“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang
dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).
Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada tetangga yang dekat dan juga tetangga yang jauh. Maka dari itu sangat penting bagi seorang muslim untuk bersosialisasi dengan tetangganya.

No comments:
Post a Comment