![]() |
| Google Doc |
Pendidikan
tidak selalu datang dari gedung sekolah ataupun universitas. Namun pendidikan
itu datang dari diri kita yang berusaha untuk menenggelamkan diri dengan
mempelajari suatu ilmu. Bahkan orang-orang yang beralmamater pun bisa saja
hanya menjadi provokator perusak lingkungan. Hal itu tergantung pada individu
yang menghargai eksistensi pendidikan atau tidak.
Jari-jari
tangan saya bergerak menelusuri beberapa situs dengan atau tanpa sengaja. Saya
meyakini bahwa setiap ilmu memiliki kaitan dengan Islam. Dimana Islam merupakan
warisan dari Tuhan untuk mengatur kehidupan. Maka setiap ilmu pun berasal dari ‘Sumber’
yang mewariskan Islam.
Dahulu
saya pernah mengenal sedikit tentang filsafat. Ada fragmen-fragmen yang
tersimpan dalam memori mengenai kata tersebut. Sebagian menganggap bahwa filsafat
adalah salah satu penyebab runtuhnya kejayaan Islam. Namun saya tidak
melanjutkan penelitian, apakah memang benar filsafat itu bertentangan dengan
nilai-nilai Islam. Karena sejarah
mencatat keberadaan beberapa filsuf yang terkenal pun ada yang bertitelkan
muslim. Inilah yang membuat saya ingin mengetahui lebih jauh tentang filsafat.
Saya tidak tahu dari mana pengetahun tentang filsafat yang menjadi salah satu penyebab runtuhnya kejayaan Islam. Namun saat saya lihat melalui google ternyata yang menyebabkan Islam terbelakang adalah serangan filsafat Yunani dan Persia. Hal ini akan saya pelajari lebih lanjut, mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Perlu
digaris bawahi bahwa segala ilmu itu bersumber dari Tuhan yang Maha Esa.
Tidak seharusnya mereka membagi-bagi ini ilmu islam dan itu ilmu barat. Karena
apapun ilmu tersebut walau berasal dari pemikiran manusia, sejatinya semua itu
dengan atas izin Allah pemikiran tersebut datang di kepala manusia.
Seperti
halnya Al-Khawarizmi, tidak memisahkan matematika, geografi, dan astronomi dari
Islam. Karena ilmu-ilmu yang dia hasilkan semata-mata terinspirasi dari
keyakinannya sebagai seorang muslim, yang menjadikan Islam landasan dalam
aktivitasnya.
Ada
sebagian orang yang takut untuk mempelajari filsafat, dengan alasan takut
terjerumus pada pemikiran yang salah. Namun secara subjektif, ketakutan itu
muncul hanya karena rasa was-was imannya tertukar. Padahal seorang mukmin, dia
harus yakin bahwa Allah Pelindung dan hanya dengan kekuasaan-Nya kita berada di
jalan lurus atau tersesat. Niatkan dalam hati saat ingin mempelajari sesuatu,
bukan karena ingin membangkang pada-Nya. Namun untuk mengeksplorasi ilmu di
dunia, semata-mata untuk membesarkan nama-Nya dan melihat bukti-bukti
kekuasaan-Nya melalui beragam disiplin ilmu. Dan itu tercantum dalam Al-Qur’an
bahwa manusia harus membaca (Iqra).
Berada
dalam lingkungan para pelacur, bukan berarti kita pun menjadi seorang pelacur.
Walau manusia yang berjubah putih akan menganggap negatif keberadaan kita,
namun Allah tahu apa niatan di dalam hati. Maka mempelajari sebuah filsafat
atau ilmu lain pun tidak berarti kita menjadi orang tak beriman, justru dengan
mempelajari berbagai ilmu, pemahaman kita akan lebih tajam dalam membedakan
mana yang benar dan salah. Tidak mudah menghakimi orang lain karena satu
masalah.
Maka saya meluruskan niat untuk mempelajari filsafat semata-mata karena rasa penasaran kepada ilmu-Nya.

No comments:
Post a Comment