Pages

Saturday, 3 February 2018

Di Balik Valentine’s Day



A drawing depicts the death of St. Valentine — one of them, anyway. The Romans executed two men by that name on Feb. 14 of different years in the 3rd century A.D.Hulton Archive/Getty Images

Halo Februari, selamat siang pembaca! 

Jika melihat bulan masehi dan menilik pada Februari, maka dalam waktu dekat pada tanggal 14 Februari akan semarak orang-orang dari belahan dunia, merayakan hari ini. You know what? Sure, I think you already know about it! 

Jadi, sebelum kalian mau ikut-ikutan merayakan hari Valentine sebaiknya tahu terlebih dahulu apa yang ada di balik hari raya Valentine ini. Oke? 

Cuuus! 


Tradisi Paganisme (Penyembah Berhala)  


Pada zaman Romawi kuno, dari tanggal 13-15 adalah hari dimana mereka merayakan hari raya atau festival Lupercalia. Lupercalia adalah festival untuk menghindarkan dari roh jahat dan mensucikan kota, melepaskan kesuburan dan kesehatan.  Dan festival tersebut dilakukan pada bulan Februari. Karena Februari berasal dari kata latin Februa yang artinya penyucian atau pembersihan. 

Pada hari ini para lelaki menyembelih seekor kambing dan anjing, lantas mencambuki para wanita dengan kulit hewan yang disembelih tadi. Dengan tujuan agar para wanita yang dicambuki tersebut menjadi subur rahimnya. Mereka merayakannya dengan mabuk-mabukan dan bertelanjang. 

Ritual lainnya adalah dengan cara mengundi. Yaitu seorang lelaki muda akan mengambil nama wanita dari gelas dengan acak. Lantas dia akan melakukan hubungan seks dengan wanita yang namanya tersebut pada undian itu selama festival berlangsung, atau lebih lama lagi jika undian tersebut cocok. 

Cerita lainnya adalah masih pada masa Romawi, Kaisar Cladius II mengeksekusi dua orang lelaki, keduanya bernama Velentine. Pada tanggal 14 Februari namun di tahun yang berbeda abad ke-3. Kematian mereka dihormati oleh gereja katolik dengan dibuatnya Valentine’s Day alias hari valentine. St. Valentine adalah seorang pastur yang menolong pasangan Kristen menikah secara rahasia. 

Selain itu hari Valentine dijadikan potensi meraup keuntungan oleh para pemilik modal. Seperti perusahaan cokelat, kondom, dan lain sebagainya. Mereka tidak peduli untuk apa dan siapa yang membeli produk tersebut, karena yang mereka pikirkan adalah keuntungannya. 
Menurut news.okezone.com data pembelian kondom menjelang hari Valentine meningkat 25%, ini di Indonesia. 

Di negeri barat seperti Amerika, Inggris, dll, Hari Valentine adalah hari yang bukan sekedar untuk bertukar kasih sayang dengan cokelat, boneka, bunga, melainkan juga dimaknai sebagai hari untuk bertukar kasih sayang melalui hubungan seks.

Dan sangat disayangkan adalah pelaku yang merayakan hari Valentine di Indonesia lebih didominasi oleh kalangan anak muda yang sama sekali belum menikah, tertutama pemuda muslim yang dikhawatirkan malah mengikuti sesuatu yang terlarang oleh agama tanpa tahu apa yang diikuti itu. 

Menurut www.statista.com penduduk Amerika kemungkinan 32% melakukan seks pada hari Valentine. Bukan data yang mengejutkan. Karena bagi mereka, meskipun tidak di hari valentine mereka bisa berhubungan seks dengan siapa saja yang mereka sukai. 

Menurut 2017 Millennial Sex Survey by SKYN Condoms menyebutkan bahwa sekitar 3000 laki-laki dan perempuan berusia 18-34, 64 persen mengatakan bahwa hari valentine adalah hari di mana mereka lebih sering melakukan hubungan seks. 

Jadi ya, tidak ada tuh dasar-dasar kebaikannya apa coba? Atau pun landasannya dalam islam. Jadi jika ada orang mengaku muslim tapi masih ikut merayakan hari Valentine, bisa diperkirakan bahwa dia itu bodoh. Sadis? Enggaklah. Kalau enggak bodoh, apa coba? Ikut-ikutan aja bisanya tanpa berpikir. 

Daripada merayakan hari valentine ya mending tilawah Al-Qur’an, belajar ilmu agama, berbakti kepada orangtua, bersedekah dan saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Bukankah cara tersebut lebih baik dalam merealisasikan kasih sayang? Dan kalian tidak perlu hari spesial untuk melakukannya. Lakukan kapanpun, yowes to? Oh iya jika masih ngeyel mau mengikuti suatu kaum tertentu maka izinkan saya mengutip hadits: 

‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan)

Terima kasih. Sampai jumpa ditulisan selanjutnya :D


Sumber : 


No comments:

Post a Comment