Mauritius dengan segala keindahannya menyimpan keunikan tersendiri pada budayanya. Di sini saya akan membahas kebiasaan muslim di Mauritius.
Mauritius memiliki populasi muslim sekitar 20% dari jumlah penduduk yang mencapai ± 1.300.000 orang. Nah bukan jumlah yang sediki, kan? Didominasi dengan muslim Sunni yang berkiblat pada mazhab Hanafi.
Jika membicarakan muslim tentu berbicara mesalah kebiasaan yang dilakukannya pula. Tentu seharusnya seorang muslim mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad sebagai teladan dalam segala hal, termasuk dalam kebiasaan makan. Namun yang unik dari muslim Mauritius adalah mereka mengkonsumsi biryani dalam setiap acara yang diadakan. Seperti pernikahan, kematian, syukuran, majlis, dan lain sebagainya.
Apa itu Biryani? Biryani adalam makanan khas yang terbuat dari nasi khusus, biasanya menggunakan basmati atau beras india. Membuat biryani membutuhkan macam-macam komposisi rempah-rempah, minyak, mentega, margarin, dan daging atau ayam sebagai lauk pokok.
Dalam sebuah acara majlis yang setiap tahun diadakan oleh pihak pengurus masjid, akan selalu ada sajian biryani. Hal ini seakan sudah menjadi budaya yang tak bisa dilepaskan. Seakan kalau taka da biryani maka tak afdhal acara tersebut. Ada yang membuat saya syok dengan budaya ini. Pengurus masjid akan mengundang kurang lebih lima ratus orang pada acara tersebut. Dan tahukah berapa uang yang dihabiskan untuk mengolah biryani? £8000 bahkan bisa lebih.
Kamu tahu berapa 8000 euro itu? Rp. 134.000.000.- coba kita terjemahkan, sekitar seratus tiga puluh empat juta rupiah atau lebih. Glek! Enggak percaya? Cek di sini. Itu uang larinya ke mana? Cuma ada dua kemungkinan. Pertama menjadi kotoran, kedua menjadi lemak. Karena biryani banyak mengandung lemak jahat yang tak sepantasnya dikonsumsi umat muslim dengan porsi besar.
Baca juga : Ih, Nikah Muda?
Ini baru satu masjid, belum masjid yang lain. Padahal jika dilihat, ada sekolah islam di sini yang kekurangan dana untuk infrastruktur dan kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan administrasi. Namun sayangnya mengkonsumsi biryani lebih penting dibanding menyumbangkan uang tersebut kepada instansi yang membutuhkan.
Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
Al-Qur’an : 17; 26-27
…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Yaitu membelanjakannya dalam hal yang tidak maslahat dan itu adalah menyia-nyiakan harta. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang penyia-nyiaan harta, (larangan itu) di dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Mughirah bin Syu’bah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang dari qiila wa qaala (berkata-kata yang tidak jelas sumbernya), banyak tanya dan menyia-nyiakan harta. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah juz 31 halaman 32). Sumber : nahimunkar.org
Padahal dari satu piring biryani itu bisa membeli beberapa roti untuk orang-orang miskin. Atau bisa pula untuk membangun sekolah islam yang lebih baik, atau klinik bersalin dengan fasilitas dokter wanita. Namun budaya ini terlanjur sudah melekat dan sulit untuk merubah cara berpikir yang sudah mendarah daging. Budaya biryani itu hanya menjadikan uang sebagai timbunan lemak di tubuh yang mengakibatkan penyakit kronis.
Wallahu a’lam bishowab.
Semoga kita bisa menjadi muslim yang lebih baik dan tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting.


No comments:
Post a Comment