Oleh
: Dinda Lindia Cahyani
29.01.15
Cileungsi, Bogor - Indonesia
Sebenarnya
saya tidak tahu harus mengawali tulisan ini dari mana. Yang jelas, kata para
senior, kalau ingin punya ciri khas dalam tulisan harus sering menulis dengan
cara mengalir saja. Baiklah, saya akan menulis apa yang sekarang saya pikirkan.
“Ih,
apaan nikah muda? mau ini, mau itu ada yang larang. Gak bisa berbuat apa-apa. Nanti,
masih muda udah punya anak. Oh, My God. Susah mau apa-apa juga”. Seru temanku
saat membicarakan masalah nikah.
Hmmm.
Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana pemikirannya. Tapi, saya kira ada yang
harus diluruskan dari pemikirannya.
Ah,
Sebenarnya kalau membicarakan masalah menikah mungkin bukan ranah saya karena
saya masih single, dan kata lainnya adalah jomblo alias belum menikah. Ahahah. Tapi,
saya punya pendapat sendiri mengenai “Nikah muda”.
Katanya,
peradaban semakin maju. Tapi, saya berpikir keras dengan ini. Peradaban yang
maju tapi kenapa banyak kriminalitas terjadi di sana-sini. Atau kebobrokan
moral dari penduduk negeri tak jua hilang dan malah merajalela (aseek,
bahasanya). Seperti; korupsi, pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, penipuan, dan
termasuk yang ingin saya bahas kebobrokan moral generasinya. Baru-baru ini
menyebar foto seorang anak SD-SMP yang menyatakan cintanya di depan publik
(walah, ternyata saya kalah saing sama anak SD. Ahahah) . Karena saya seorang
muslim. Maka saya memandangnya dari sudut agama. Toh, Rasulullah tidak pernah
mengajarkan kita berpacaran untuk menimbang baik-buruknya seseorang untuk
menjadi pasangan hidup. Kenapa harus memilih pacaran sebagai jalan dalam
menyalurkan rasa cinta dan malah menyudutkan pernikahan muda? itu ‘mah’ budaya
dari barat bukan dari Islam. padahal bukankah menikah itu lebih suci daripada
aktivitas pacaran yang tak jelas juntrungnya.
Ah,
kata siapa menikah muda membatasi seseorang untuk berkarya? Itu bukan alasan
seseorang untuk menolak ide menikah muda. Karena, ide ini juga terjadi saat
Rasulullah menikahi Aisyah yang berusia belia. Lantas? Aisyah tersohor sebagai
wanita mulia penghuni syurga yang kecerdasannya luar biasa. Ingatannya dalam
mengingat ribuan hadits Nabi. Dan juga beliau pandai dalam berdakwah. Bukankah itu
adalah prestasi?
Para
aktivis pacaran mengaku bahwa mereka memiliki pacar agar bisa semangat dalam
belajar, agar ada yang memotivasi dan alasan-alasan klise lainnya. (peace ah,
buat aktivis pacaran yang keserempet). Nih, saya paparkan. Bukankah seorang
suami akan lebih mendukung istrinya daripada seorang pacar? Rasa sayang seorang
suami akan memotivasi dengan ikhlas, sabar terhadap apa yang dimimpikan oleh
istrinya tanpa ada batasan (motivasinya gak pake kuota lah). Bukankah berdua
yang halal itu lebih baik daripada berdua yang tidak jelas ikatannya? Ah,
pacaran itu melelahkan bro….sis….
Iyalah,
bukan hanya ‘ngabisin waktu’, tapi juga ngabisin duit, ngabisin hati dan
segalanya. Jauh-jauh deh yang sama aktivitas yang namanya pacaran. Dijamin kamu
jauh dari penderitaan siang dan malam. Mungkin awalnya akan terisa indah, tapi
siklus pacaran itu sudah diketahui banyak orang. Kenalan-jadian-pacaran (sms,
telpon ; nanya udah makan? Udah solat? Apa kabar? Lagi apa?) – berantem – putus
– galau. Jiaaaaah. Selain itu, jika pacar kamu bersikap ‘over protective’ yang
merasa memilikimu. Mau jalan-jalan sama teman dicurigai, mau berkumpul dengan
keluarga diganggu terus, pengennya terus nempel sama dia, harus member kabar
dua puluh empat jam. (aje gilee).
Berbeda
dengan menikah, kamu akan sulit berkata “putus”. Karena menikah itu adalah hal
yang suci, dan yang suci itu sulit untuk disudahi. Jadi, jangan salahkan “menikah
muda” akan kegagalan saat kau mengejar cita-cita. Karena yang salah ya dirimu
sendiri yang tidak mau ‘move on’.
Kesimpulan;
nikah muda atau nikah tua. Yang penting prosesnya. Yang belum siap, maka
persiapkan dengan melakukan berbagai hal positif dan menebar manfaat. Jangan
pacaran !! dosa, rugi saku (belum tentu jodoh tapi tekornya bikin kanker), rugi
waktu, rugi harga diri, dan banyak lagi kerugian lainnya. Yang merasa siap
untuk menikah muda pun harus siap dalam menghadapi setiap konsekwensinya. Jangan
khawatir. Kalau yang sudah menikah, masalah apapun bisa dihadapi berdua.
Ahahahah, so sweet kan?
*End

No comments:
Post a Comment