“Sempurnakan agamaku?”
Perlahan tapi pasti dia berjalan
menyusuri jalan kecil dipinggiran sungai yang agak jauh dari pemukiman
penduduk. Jalannya mengendap-endap seakan takut ada yang mengikuti dan
mengetahuinya. Hanya dengan penerangan dari cahaya bulan tampak sesosok perempuan
berdiri dibawah pohon maple yang sesekali daunnya berjatuhan. Seorang perempuan
dengan kimono merah dan rambut yang sengaja digerai melambaikan tangan
kearahnya. Dia bergegas mendekati perempuan tadi.
“Kau lama menunggu Akira-chan?”
ucapnya dengan napas yang tersendat.
“Tidak terlalu lama…..” Jawab
perempuan yang disebut dengan nama akira itu. “Ini,,, Sensei sudah menunggumu
di dalam kuil…, ayo kita masuk”. Akira
memberikan sebuah buku kepadanya dengan senyum terkembang dan langsung
membalikkan badan meninggalkannya berjalan menuju kuil yang tidak jauh dari
pohon maple itu.
Ryu….
Nama lelaki yang kini memegang sebuah buku ditangannya. Dengan seragam biru yang masih lengkap dia berjalan menuju kuil kecil yang berada di sebuah perkampungan terpencil di Kyoto. Kuil yang sekarang bukan lagi kuil. Melainkan masjid kecil tempat ibadah para mualaf yang membulatkan tekad menjadi seorang muslim. Ryu merasakan dekupan kencang di setiap langkah mendekati kuil “Gujo”. Hari ini dia akan menjadi Ryu yang baru. Yang akan mengubah seluruh kehidupannya. Yang sebentar lagi akan mengenal siapa dibalik pemilik kehidupan ini.
Nama lelaki yang kini memegang sebuah buku ditangannya. Dengan seragam biru yang masih lengkap dia berjalan menuju kuil kecil yang berada di sebuah perkampungan terpencil di Kyoto. Kuil yang sekarang bukan lagi kuil. Melainkan masjid kecil tempat ibadah para mualaf yang membulatkan tekad menjadi seorang muslim. Ryu merasakan dekupan kencang di setiap langkah mendekati kuil “Gujo”. Hari ini dia akan menjadi Ryu yang baru. Yang akan mengubah seluruh kehidupannya. Yang sebentar lagi akan mengenal siapa dibalik pemilik kehidupan ini.
Dia memperhatikan Akira yang
sudah berjalan di depan meninggalkannya. Akira masuk ke dalam kuil. Dan tidak
tampak lagi. Semakin mendekat ke pintu kuil, semakin cepat jantung memompa
darah ke seluruh aliran tubuh dan Ryu sudah bisa merasakan ada tetesan bening
yang menghalangi pandangannya. Perlahan dibuka daun pintu yang setengah
terbuka. Tampak beberapa orang berkeliling dengan seorang yang lebih tua berada
di tengah menggunakan pakaian serba putih. Ryu melihat akira berada dipojok
dengan perempuan lain yang berpakaian tertutup dan wajah yang ditutup pula. Tapi
akira tidak, dia sangat cantik menggunakan kimono merah. Namun, hatinya
bertanya. Kenapa Akira-chan tidak menggunakan pakaian seperti muslimah lainnya.
Ah, fokusnya kembali ditujukan kepada “sensei” yang berpakaian putih tadi.
“Okaerinasai,,, Ryu-Kun. Duduklah”.
Sensei mempersilahkan Ryu untuk duduk berhadapan dengannya.
“O genki desu ka?” sapa Sensei.
“Hai, Sensei.. Genki desu…. !”
“Apa benar kau ingin menjadi
seorang muslim?” Sensei tak ragu langsung bertanya pada pokok pertemuan dengan
Ryu.
“Hai, Sensei… seperti yang telah
anda dengar dari akira-kun, saya telah lama mencari tahu tentang Islam”.
“Hai.. Wakarimashita. Kalau begitu kita mulai saja”.
Ucap sensei dengan tegas. Semua orang yang berada di kuil “Gujo” tersenyum lega
pada Ryu.
“Ryu-kun. Kau sudah bertekad
untuk menjadi seorang muslim. Yakinlah bahwa semuanya ini adalah atas
keinginanmu sendiri. Setelah ini kau mungkin akan menjadi seseorang yang
berbeda. Oleh karena itu, jangan takut dengan perbedaan yang akan kau miliki
kelak. Setelah menjadi seorang muslim. Kami adalah saudaramu. Tak perlu ragu
untuk berbagi keluh-kesah, tak perlu ragu untuk meminta bantuan dalam belajar
menjadi seorang muslim. Saat ini banyak muslim yang ditindas, banyak muslim
yang disudutkan. Tapi bukan agama Islam yang salah. Melainkan orang-orangnya
lah. Kuatkan niatmu untuk menjadi seorang muslim dan jangan mundur. Ryu-kun apa
kamu sudah siap??”. Papar sensei sebelum memulai pengucapan syahadat.
“Hai, sensei…”. Dengan sigap Ryu
menjawab.
“Ryu-Kun. Kau adalah salah satu
aparat Negara Jepang. Apa kau siap menerima konsekuensi menjadi seorang muslim,
ketika Negara-mu jauh dari Tuhan, Jika ternyata setelah ini kau harus melepas
seluruh pangkatmu??” , Tanya sensei sekali lagi…
“Hai!!”.
“Wakarimashita,,, peganglah
Al-Qur’an yang ada ditanganmu dan ikuti apa yang aku ucapkan”. Sensei pun mulai
membacakan syahadat agar diikuti oleh Ryu.
Ryu, dengan mata yang
berkaca-kaca dan degup jantungnya yang semakin menggila. Ia pun bersyahadat
dengan disaksikan beberapa muslim disana. Termasuk Akira.
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Ucap
Ryu dengan lancar.
“Alhamdulillah……”. Semuanya
tersenyum bahagia karena kedatangan saudara baru. Semuanya memeluk Ryu-kun. Terkecuali
para muslimah. Akira memperhatikan Ryu dengan mata yang sendu nan bahagia.
Akira pergi keluar meninggalkan
keriuhan di dalam kuil. Ryu-kun diberikan nama Islam. Kini, namanya menjadi Ryu
Yusuf Abdullah. Setelah mendapatkan penjelasan beberapa jam tentang Islam dari
Sensei. Ryu baru sadar bahwa Akira sudah tidak berada di kuil. Dia pergi
****
Kembali ke Hokkaido mungkin akan
sangat melelahkan. Tapi sebelum pergi, Ryu ingin bertemu dengan Akira. Kenapa
Akira pergi tanpa pamit. Bahkan sekarang aku telah menjadi seorang muslim,
pikirnya. Dimana Akira sekarang. Ah, Ryu tidak pernah tahu dimana akira
tinggal. Belum selesai pertanyaannya mengenai Akira. Ryu melihat seseorang yang
tak asing berdiri di jembatan penghubung pemukiman penduduk dengan tempat
dimana Ryu menjadi seorang mualaf.
“Akira-chan?” Selidik Ryu
Dia menoleh dan tersenyum. Gelapnya
malam tak mampu menyembunyikan kecantikan parasnya.
“Ryu-kun…gomen ne… tadi aku
keluar tanpa pamit”. Ucapnya dengan kepala tertunduk.
“Ini…. Al-Qur’an yang kau berikan
padaku tadi. Aku kembalikan…” Ryu menyodorkan Al-Qur’an yang dipegangnya.
“Bacalah… dan fahamilah…..Gunakan
untukmu. Kau akan membutuhkannya. Anggap saja ini hadiah pertama dariku atas
keislamanmu.” Akira tetap menundukan kepalanya.
“Akira-chan. Aku berislam karena
keinginanku. Dan aku diajarkan untuk tidak mengharap apapun kecuali Ridho Allah”.
Jelas Ryu.
“Ryu-kun. Itu hanya bantuan kecil
dari saudari muslim mu. Karena seorang muslim adalah saudara bagi muslim
lainnya”… agar tak ada salah paham. Akira mulai melihat kepada Ryu.
“Aku tak berniat untuk menjadikan
mu saudariku. Namun, aku ingin kamu menjadi pelengkap separuh agamaku
Akira-chan. Aku tahu aku baru mengenal Islam. Dan pengetahuanku tentang Islam
sangat sedikit, tapi….kita bisa belajar bersama. Aku tidak ingin masuk Islam
hanya separuhnya. Bukankah menikah adalah melengkapi separuh agama? Ridho kah
kamu menjadi pelengkap separuh agamaku?”
Akira menunduk. Tak ada suara…. Tak
ada jawaban….
Hanya semilir angin yang kemudian
menyentuh mata dan menjatuhkan butiran bening dari matanya. Ryu mengeluarkan
kain dari ransel di pundaknya.
“Tadi, setelah mendengarkan
penjelasan dari sensei tentang Islam. Aku langsung meminta kain sorban ini dari
sensei. Aku memintanya sebagai hadiah khitbahku untukmu. Tutuplah mahkota
indahmu dengan kain ini agar sempurna kecantikanmu”. Tanpa menyentuh Akira, Ryu
memberikan kain itu kepada akira agar memakainya sendiri untuk menutupi
rambutnya. “Aku akan ke Hokkaido menyelesaikan tugasku sebagai serdadu. Setelah
itu, aku akan segera menjemputmu. Jangan khawatir, aku akan menepati janjiku
untuk halalkan cintaku pada mu”.. Ryu pun meninggalkan Akira
Pagi buta menjadi saksi atas
kehadiran Ryu yang baru. Dibawah purnama yang memantulkan bayangan pernikahan.
Ryu akan segera kembali….. pikirnya !!!
**~
Cerita ini hanya fiktif belaka
Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka
Dinda Lindia Cahyani
Cileungsi, Bogor – Indonesia
24 Januari 2015