Pages

Saturday, 24 January 2015

Sempurnakan Agamaku

“Sempurnakan agamaku?”
Perlahan tapi pasti dia berjalan menyusuri jalan kecil dipinggiran sungai yang agak jauh dari pemukiman penduduk. Jalannya mengendap-endap seakan takut ada yang mengikuti dan mengetahuinya. Hanya dengan penerangan dari cahaya bulan tampak sesosok perempuan berdiri dibawah pohon maple yang sesekali daunnya berjatuhan. Seorang perempuan dengan kimono merah dan rambut yang sengaja digerai melambaikan tangan kearahnya. Dia bergegas mendekati perempuan tadi.
“Kau lama menunggu Akira-chan?” ucapnya dengan napas yang tersendat.
“Tidak terlalu lama…..” Jawab perempuan yang disebut dengan nama akira itu. “Ini,,, Sensei sudah menunggumu di dalam kuil…, ayo kita masuk”.  Akira memberikan sebuah buku kepadanya dengan senyum terkembang dan langsung membalikkan badan meninggalkannya berjalan menuju kuil yang tidak jauh dari pohon maple itu.
Ryu….
Nama lelaki yang kini memegang sebuah buku ditangannya. Dengan seragam biru yang masih lengkap dia berjalan menuju kuil kecil yang berada di sebuah perkampungan terpencil di Kyoto. Kuil yang sekarang bukan lagi kuil. Melainkan masjid kecil tempat ibadah para mualaf yang membulatkan tekad menjadi seorang muslim. Ryu merasakan dekupan kencang di setiap langkah mendekati kuil “Gujo”. Hari ini dia akan menjadi Ryu yang baru. Yang akan mengubah seluruh kehidupannya. Yang sebentar lagi akan mengenal siapa dibalik pemilik kehidupan ini.
Dia memperhatikan Akira yang sudah berjalan di depan meninggalkannya. Akira masuk ke dalam kuil. Dan tidak tampak lagi. Semakin mendekat ke pintu kuil, semakin cepat jantung memompa darah ke seluruh aliran tubuh dan Ryu sudah bisa merasakan ada tetesan bening yang menghalangi pandangannya. Perlahan dibuka daun pintu yang setengah terbuka. Tampak beberapa orang berkeliling dengan seorang yang lebih tua berada di tengah menggunakan pakaian serba putih. Ryu melihat akira berada dipojok dengan perempuan lain yang berpakaian tertutup dan wajah yang ditutup pula. Tapi akira tidak, dia sangat cantik menggunakan kimono merah. Namun, hatinya bertanya. Kenapa Akira-chan tidak menggunakan pakaian seperti muslimah lainnya. Ah, fokusnya kembali ditujukan kepada “sensei” yang berpakaian putih tadi.
“Okaerinasai,,, Ryu-Kun. Duduklah”. Sensei mempersilahkan Ryu untuk duduk berhadapan dengannya.
“O genki desu ka?” sapa Sensei.
“Hai, Sensei.. Genki desu…. !”
“Apa benar kau ingin menjadi seorang muslim?” Sensei tak ragu langsung bertanya pada pokok pertemuan dengan Ryu.
“Hai, Sensei… seperti yang telah anda dengar dari akira-kun, saya telah lama mencari tahu tentang Islam”.
“Hai.. Wakarimashita. Kalau begitu kita mulai saja”. Ucap sensei dengan tegas. Semua orang yang berada di kuil “Gujo” tersenyum lega pada Ryu.
“Ryu-kun. Kau sudah bertekad untuk menjadi seorang muslim. Yakinlah bahwa semuanya ini adalah atas keinginanmu sendiri. Setelah ini kau mungkin akan menjadi seseorang yang berbeda. Oleh karena itu, jangan takut dengan perbedaan yang akan kau miliki kelak. Setelah menjadi seorang muslim. Kami adalah saudaramu. Tak perlu ragu untuk berbagi keluh-kesah, tak perlu ragu untuk meminta bantuan dalam belajar menjadi seorang muslim. Saat ini banyak muslim yang ditindas, banyak muslim yang disudutkan. Tapi bukan agama Islam yang salah. Melainkan orang-orangnya lah. Kuatkan niatmu untuk menjadi seorang muslim dan jangan mundur. Ryu-kun apa kamu sudah siap??”. Papar sensei sebelum memulai pengucapan syahadat.
“Hai, sensei…”. Dengan sigap Ryu menjawab.
“Ryu-Kun. Kau adalah salah satu aparat Negara Jepang. Apa kau siap menerima konsekuensi menjadi seorang muslim, ketika Negara-mu jauh dari Tuhan, Jika ternyata setelah ini kau harus melepas seluruh pangkatmu??” , Tanya sensei sekali lagi…
“Hai!!”.
“Wakarimashita,,, peganglah Al-Qur’an yang ada ditanganmu dan ikuti apa yang aku ucapkan”. Sensei pun mulai membacakan syahadat agar diikuti oleh Ryu.
Ryu, dengan mata yang berkaca-kaca dan degup jantungnya yang semakin menggila. Ia pun bersyahadat dengan disaksikan beberapa muslim disana. Termasuk Akira.
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Ucap Ryu dengan lancar.
“Alhamdulillah……”. Semuanya tersenyum bahagia karena kedatangan saudara baru. Semuanya memeluk Ryu-kun. Terkecuali para muslimah. Akira memperhatikan Ryu dengan mata yang sendu nan bahagia.
Akira pergi keluar meninggalkan keriuhan di dalam kuil. Ryu-kun diberikan nama Islam. Kini, namanya menjadi Ryu Yusuf Abdullah. Setelah mendapatkan penjelasan beberapa jam tentang Islam dari Sensei. Ryu baru sadar bahwa Akira sudah tidak berada di kuil. Dia pergi
****
Kembali ke Hokkaido mungkin akan sangat melelahkan. Tapi sebelum pergi, Ryu ingin bertemu dengan Akira. Kenapa Akira pergi tanpa pamit. Bahkan sekarang aku telah menjadi seorang muslim, pikirnya. Dimana Akira sekarang. Ah, Ryu tidak pernah tahu dimana akira tinggal. Belum selesai pertanyaannya mengenai Akira. Ryu melihat seseorang yang tak asing berdiri di jembatan penghubung pemukiman penduduk dengan tempat dimana Ryu menjadi seorang mualaf.
“Akira-chan?” Selidik Ryu
Dia menoleh dan tersenyum. Gelapnya malam tak mampu menyembunyikan kecantikan parasnya.
“Ryu-kun…gomen ne… tadi aku keluar tanpa pamit”. Ucapnya dengan kepala tertunduk.
“Ini…. Al-Qur’an yang kau berikan padaku tadi. Aku kembalikan…” Ryu menyodorkan Al-Qur’an yang dipegangnya.
“Bacalah… dan fahamilah…..Gunakan untukmu. Kau akan membutuhkannya. Anggap saja ini hadiah pertama dariku atas keislamanmu.” Akira tetap menundukan kepalanya.
“Akira-chan. Aku berislam karena keinginanku. Dan aku diajarkan untuk tidak mengharap apapun kecuali Ridho Allah”. Jelas Ryu.
“Ryu-kun. Itu hanya bantuan kecil dari saudari muslim mu. Karena seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya”… agar tak ada salah paham. Akira mulai melihat kepada Ryu.
“Aku tak berniat untuk menjadikan mu saudariku. Namun, aku ingin kamu menjadi pelengkap separuh agamaku Akira-chan. Aku tahu aku baru mengenal Islam. Dan pengetahuanku tentang Islam sangat sedikit, tapi….kita bisa belajar bersama. Aku tidak ingin masuk Islam hanya separuhnya. Bukankah menikah adalah melengkapi separuh agama? Ridho kah kamu menjadi pelengkap separuh agamaku?”
Akira menunduk. Tak ada suara…. Tak ada jawaban….
Hanya semilir angin yang kemudian menyentuh mata dan menjatuhkan butiran bening dari matanya. Ryu mengeluarkan kain dari ransel di pundaknya.
“Tadi, setelah mendengarkan penjelasan dari sensei tentang Islam. Aku langsung meminta kain sorban ini dari sensei. Aku memintanya sebagai hadiah khitbahku untukmu. Tutuplah mahkota indahmu dengan kain ini agar sempurna kecantikanmu”. Tanpa menyentuh Akira, Ryu memberikan kain itu kepada akira agar memakainya sendiri untuk menutupi rambutnya. “Aku akan ke Hokkaido menyelesaikan tugasku sebagai serdadu. Setelah itu, aku akan segera menjemputmu. Jangan khawatir, aku akan menepati janjiku untuk halalkan cintaku pada mu”.. Ryu pun meninggalkan Akira
Pagi buta menjadi saksi atas kehadiran Ryu yang baru. Dibawah purnama yang memantulkan bayangan pernikahan. Ryu akan segera kembali….. pikirnya !!!

**~
Cerita ini hanya fiktif belaka
Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka
Dinda Lindia Cahyani
Cileungsi, Bogor – Indonesia

24 Januari 2015