Pages

Sunday, 25 January 2015

Wajah Terakhir Ayah

Wajah Terakhir Ayah
Teduh, Mendung yang menyembunyikan sinar surya hari ini. Sedikit siraman gerimis dari langit yang entah berduka. Sepasang mata terus memperhatikan Merry dari jarak dekat. Dengan waktu yang cukup lama dia menunggu Merry. Akhirnya menyentuh pundak Merry, seorang anak yang kini berada dihadapan pusara ayahnya.

“Merry, segeralah pulang nak”. Suara parau wanita tua menyadarkan Merry dari kebisuannya. Dia adalah nenek Merry yang juga mengantarkan Ayah Merry ke peraduan terakhirnya.
Tak ada kata yang Dia ucap. Merry hanya berdiri dan membalikkan badan seraya berjalan gontai. ditinggalkannya tanah merah yang masih basah di sana. Yang di tempat itu terbaring jasad tak lagi bernyawa. Ayah.
****
“Merry…..Merry…. Ayo bangun nak. Sudah siang. Jam berapa kau akan pergi sekolah?” Teriak ayah dari ruang makan. Setelah teriakkan ayah disusul tarikkan selimut yang sedang Merry pakai.
“Meeerry….. !! Bangun !!. Ayo mandi… Ayahmu tak punya waktu lama untuk mengantamu ke sekolah”. Suara khas nenek benar-benar mampu membangunkannya. Merry pun dengan malas beranjak dari tempat tidur. Oh, rasanya tak sanggup meninggalkan kasur dan selimut di musim hujan seperti ini. Pikirnya.
Semuanya beraktifitas dengan cepat. Entah itu Nenek atau Ayah. Mereka sangat gesit menyiapkan ini dan itu. Ayah memang hebat. Meskipun hari ini dia harus berangkat kerja pagi-pagi sekali, tapi dia tidak pernah melewatkan tugas seorang ibu. Yah, tugas seorang ibu yang sekarang digantikan oleh Ayah dan Nenek. Menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal, menyiapkan segala sesuatu sebelum dia berangkat bekerja. Apa? Kau mau tahu dimana ibu Merry?. Entahlah, mungkin di akhir cerita akan tertulis beberapa rangkai kata saja tentangnya. Sekarang  cerita tentang Ayah lebih utama. Setelah selesai mandi dan berpakaian seragam sekolah, Merry pun menyantap hidangan sarapan yang dibuat Ayah.
“Merry, ayo habiskan sarapanmu. Sebentar lagi kita berangkat”. Ucap Ayah dengan suara lembutnya namun tegas.
“Iya Ayah”. Merry pun segera menghabiskan sarapannya. Kemudian bergegas mengambil ransel dan mantel. “Dah nenek…. Merry berangkat ya nek….” Pamitnya pada nenek disusul dengan ciuman hangat di kedua pipi sang nenek. “Hati-hati di jalan ya sayang”. Seperti biasa nenek selalu mengantar keberangkatan Merry dengan kata-kata sayang nan manja. Benarlah seperti itu karena Merry merupakan satu-satunya anak Ayah, dan Ayah adalah satu-satunya harta terakhir yang nenek miliki.
Dengan sepeda motor milik Ayah, Merry diantar sampai ke depan gerbang sekolah SMP Putri Harapan I. Segera Dia mencium tangan Ayah dan kedua pipinya. “Hati-hati di jalan Ayah, jangan lupa jemput Merry lagi ya….” pamitnya pada Ayah. Ayah hanya tersenyum simpul dan berlalu dengan sepeda motornya.  Ah, jalanan sekarang sangat licin karena beberapa hari ini hujan terus mengguyur desa. Ada sedikit khawatir yang menyelinap dalam hati Merry saat memperhatikan Ayahnya pergi. Tapi, dengan segera dia tepiskan semua prasangka buruk yang melintas di benaknya. Merry pun memasuki gerbang sekolah. Belum jauh dia melangkah dari gerbang sekolah menuju kelas, terdengar suara dentuman keras bersumber dari jalan yang tidak jauh dari sekolah. Perhatian semua orang tertuju pada persimpangan jalan di depan sekolah. Beberapa detik kemudian hampir semua orang berlari menuju suara dentuman tadi. Karena belum jam masuk kelas, maka anak-anak satu sekolah pun berlarian ke sana untuk mengetahui ada kejadian apa. Ada apa? Hatinya menyelidik. Merry hanya berdiri memperhatikan semua orang yang berlalu-lalang di hadapannya. Bersamaan dengan keramaian itu terdengar teriakkan “Panggil ambulan, panggil ambulan….”. Suara penjaga sekolah. Ah, Merry masih belum bisa bergerak. Kakinya seakan terpaku dan tak mampu digerakkan. Dia terlalu takut untuk bertanya karena sebelum kejadian itu. Dia dan Ayahnyalah yang melintasi persimpangan jalan itu. Tiba-tiba penjaga sekolah berlari ke arahnya. “Merry…. Itu Ayahmu. Ayahmu kecelakaan”. Dengan terburu dia segera menuju ruang kepala sekolah dan meminjam mobil kepala sekolah yang di parkir di depan. Mendengar ucapan penjaga sekolah itu, Merry tak bisa mengucapkan apapun. Dadanya sesak, matanya pun perih. “Merry.. Ayahmu terluka parah. Aku akan mengantarnya ke Rumah Sakit terdekat. Ayo naik….”. Ajak penjaga sekolah. Merry tak berkata apapun. Segera dia menaiki mobil Avanza berwarna silver itu. Ayah Merry segera diangkut ke mobil dan sekarang berada di  seat belakang. Merry, tak berani melihatnya. Dia terlalu takut. Tidak ada suara apapun yang terdengar dari belakang. Apakah Ayah? Ah.. terlalu mengerikan. Merry terus menatap ke depan jalan. Dengan kecepatan penuh penjaga sekolah mengemudikan mobil dan tidak lama sampai di Rumah Sakit terdekat. Beberapa perawat segera menurunkan Ayah Merry dari mobil dan membawanya ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Dengan rusuh Merry ikut mengantarnya ke ruang UGD. Akhirnya tangis Merry meledak.
“Ayah…Ayah…..Ayah…”. teriak Merry dalam tangis. Hanya satu kata yang bisa dia ucapkan. Mulutnya seakan kalah dengan matanya. Terlalu banyak air mata yang keluar sehingga kata-kata lain tak mampu terucap.
Merry menunggu di luar ruangan UGD. Penjaga sekolah mengapingnya. Sekian menit Merry menunggu. Samar-samar terdengar suara orang berlari dari lorong mendekati ruang UGD. Nenek berlari tergopoh-gopoh dan menghampiri Merry.  Setelah menatap Merry beberapa detik, akhirnya Nenek memeluknya. “Merry…Ayahmu?”. Dia menangkap kekhawatiran terpantul pada kedua retina nenek. Nenek memeluk Merry dengan erat. Sangat erat. Yang akhirnya membuat Merry semakin tenggelam dalam tangisan. Setelah beberapa lama menunggu. Seorang yang berkostum putih keluar dari ruang UGD. Dia adalah Dokter yang menangani Ayah Merry. Mereka (Merry, Nenek, dan Penjaga sekolah) pun berdiri menghampiri Dokter. “Maaf, sudah tidak bisa….”
Apa maksud Dokter itu? Apa yang tidak bisa? Jelaskan kepadaku dengan rinci. Ah, rasanya aku ingin berteriak. Apa aku terlalu kecil untuk mengerti. Apa aku terlalu kecil untuk mengetahui kenyataan. Ayah? Apa dia tidak bisa lagi mengantarku ke sekolah? Apa dia tidak bisa lagi berteriak membangunkanku? Apa tadi itu wajah terakhir Ayah mengantarku?. Semua pertanyaan Merry tak memiliki jawaban lisan. Karena kenyataan sudah mampu menjawabnya. Kali ini tidak ada yang bisa menghentikan kematian. Tidak terkecuali kematian Ayah Merry.
****   
Surya kini mulai tersenyum sinis. Dengan teriknya dia menerangi bumi. Siang ini seorang wanita yang masih tampak muda berkunjung ke rumah Merry. Tidak, bukan sekedar berkunjung. Tapi dia hendak membawa Merry pergi dari sini. Dari desa di mana Merry, Ayah, dan Nenek telah bersama selama beberapa tahun kemarin.
“Sekarang kamu harus ikut ibu ke kota seberang. Kau akan tinggal dan sekolah di sana bersama ibu”. Paparnya dengan mengelus rambut ikal Merry.
Merry menatap wajah wanita yang mengaku ibunya itu dengan tatapan kosong dan berkata “Aku akan ikut, asal nenek juga ikut”.
“Nenek tidak bisa ikut sayang. Jika nenek ikut, siapa yang akan mengurus kuburan Ayah. Sedang kamu harus ikut Ibu agar kamu bisa sekolah dan mengejar cita-citamu. Jadilah yang terbaik agar Ayahmu bangga”. Dengan wajah dan mata yang sendu nenek menjelaskan perlahan kepada Merry. Ah, Merry terlalu kecil untuk mengerti bagaimana cara membuat keputusan yang benar. Dia hanya mengikuti saran yang dilontarkan Nenek. Yang Dia tahu, Nenek menyayanginya dan Nenek lebih tahu yang terbaik untuk cucuknya. Merry tak bisa menolak permintaaan Nenek. “Aku ikut, asal aku ingin sesering mungkin mengunjungi nenek dan berziarah  ke kuburan Ayah”. Pintanya pasti.
****   
Ternyata itu semua hanya permintaan seorang anak kecil yang mudah untuk disiasati. Merry tak pernah mengunjungi nenek sesering yang dia pinta saat pergi bersama Ibu. Entah apa alasan Ibu. Dia pun perlahan melupakan wajah terakhir Ayahnya. Sama sekali tak ada potret yang tersimpan. Sama sekali tak ada pesan yang teringat dari Ayah. Dan sekali kemudian, Akhirnya wajah Ayah kembali muncul dalam mimpi Merry.

*~~*
Cerita ini hanya fiktif
Dinda Lindia Cahyani
Cileungsi, Bogor – Indonesia
25.01.15



No comments:

Post a Comment