Wajah
Terakhir Ayah
Teduh,
Mendung yang menyembunyikan sinar surya hari ini. Sedikit siraman gerimis dari
langit yang entah berduka. Sepasang mata terus memperhatikan Merry dari jarak
dekat. Dengan waktu yang cukup lama dia menunggu Merry. Akhirnya menyentuh
pundak Merry, seorang anak yang kini berada dihadapan pusara ayahnya.
“Merry,
segeralah pulang nak”. Suara parau wanita tua menyadarkan Merry dari
kebisuannya. Dia adalah nenek Merry yang juga mengantarkan Ayah Merry ke
peraduan terakhirnya.
Tak
ada kata yang Dia ucap. Merry hanya berdiri dan membalikkan badan seraya
berjalan gontai. ditinggalkannya tanah merah yang masih basah di sana. Yang di
tempat itu terbaring jasad tak lagi bernyawa. Ayah.
****
“Merry…..Merry….
Ayo bangun nak. Sudah siang. Jam berapa kau akan pergi sekolah?” Teriak ayah
dari ruang makan. Setelah teriakkan ayah disusul tarikkan selimut yang sedang Merry
pakai.
“Meeerry…..
!! Bangun !!. Ayo mandi… Ayahmu tak punya waktu lama untuk mengantamu ke
sekolah”. Suara khas nenek benar-benar mampu membangunkannya. Merry pun dengan
malas beranjak dari tempat tidur. Oh, rasanya tak sanggup meninggalkan kasur
dan selimut di musim hujan seperti ini. Pikirnya.
Semuanya
beraktifitas dengan cepat. Entah itu Nenek atau Ayah. Mereka sangat gesit
menyiapkan ini dan itu. Ayah memang hebat. Meskipun hari ini dia harus
berangkat kerja pagi-pagi sekali, tapi dia tidak pernah melewatkan tugas
seorang ibu. Yah, tugas seorang ibu yang sekarang digantikan oleh Ayah dan Nenek.
Menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal, menyiapkan segala sesuatu sebelum dia
berangkat bekerja. Apa? Kau mau tahu dimana ibu Merry?. Entahlah, mungkin di
akhir cerita akan tertulis beberapa rangkai kata saja tentangnya. Sekarang cerita tentang Ayah lebih utama. Setelah
selesai mandi dan berpakaian seragam sekolah, Merry pun menyantap hidangan
sarapan yang dibuat Ayah.
“Merry,
ayo habiskan sarapanmu. Sebentar lagi kita berangkat”. Ucap Ayah dengan suara
lembutnya namun tegas.
“Iya
Ayah”. Merry pun segera menghabiskan sarapannya. Kemudian bergegas mengambil
ransel dan mantel. “Dah nenek…. Merry berangkat ya nek….” Pamitnya pada nenek
disusul dengan ciuman hangat di kedua pipi sang nenek. “Hati-hati di jalan ya
sayang”. Seperti biasa nenek selalu mengantar keberangkatan Merry dengan
kata-kata sayang nan manja. Benarlah seperti itu karena Merry merupakan
satu-satunya anak Ayah, dan Ayah adalah satu-satunya harta terakhir yang nenek
miliki.
Dengan
sepeda motor milik Ayah, Merry diantar sampai ke depan gerbang sekolah SMP
Putri Harapan I. Segera Dia mencium tangan Ayah dan kedua pipinya. “Hati-hati
di jalan Ayah, jangan lupa jemput Merry lagi ya….” pamitnya pada Ayah. Ayah
hanya tersenyum simpul dan berlalu dengan sepeda motornya. Ah, jalanan sekarang sangat licin karena
beberapa hari ini hujan terus mengguyur desa. Ada sedikit khawatir yang
menyelinap dalam hati Merry saat memperhatikan Ayahnya pergi. Tapi, dengan
segera dia tepiskan semua prasangka buruk yang melintas di benaknya. Merry pun
memasuki gerbang sekolah. Belum jauh dia melangkah dari gerbang sekolah menuju
kelas, terdengar suara dentuman keras bersumber dari jalan yang tidak jauh dari
sekolah. Perhatian semua orang tertuju pada persimpangan jalan di depan
sekolah. Beberapa detik kemudian hampir semua orang berlari menuju suara
dentuman tadi. Karena belum jam masuk kelas, maka anak-anak satu sekolah pun
berlarian ke sana untuk mengetahui ada kejadian apa. Ada apa? Hatinya menyelidik.
Merry hanya berdiri memperhatikan semua orang yang berlalu-lalang di hadapannya.
Bersamaan dengan keramaian itu terdengar teriakkan “Panggil ambulan, panggil ambulan….”.
Suara penjaga sekolah. Ah, Merry masih belum bisa bergerak. Kakinya seakan
terpaku dan tak mampu digerakkan. Dia terlalu takut untuk bertanya karena
sebelum kejadian itu. Dia dan Ayahnyalah yang melintasi persimpangan jalan itu.
Tiba-tiba penjaga sekolah berlari ke arahnya. “Merry…. Itu Ayahmu. Ayahmu
kecelakaan”. Dengan terburu dia segera menuju ruang kepala sekolah dan meminjam
mobil kepala sekolah yang di parkir di depan. Mendengar ucapan penjaga sekolah
itu, Merry tak bisa mengucapkan apapun. Dadanya sesak, matanya pun perih. “Merry..
Ayahmu terluka parah. Aku akan mengantarnya ke Rumah Sakit terdekat. Ayo
naik….”. Ajak penjaga sekolah. Merry tak berkata apapun. Segera dia menaiki
mobil Avanza berwarna silver itu.
Ayah Merry segera diangkut ke mobil dan sekarang berada di seat belakang. Merry, tak berani
melihatnya. Dia terlalu takut. Tidak ada suara apapun yang terdengar dari
belakang. Apakah Ayah? Ah.. terlalu mengerikan. Merry terus menatap ke depan
jalan. Dengan kecepatan penuh penjaga sekolah mengemudikan mobil dan tidak lama
sampai di Rumah Sakit terdekat. Beberapa perawat segera menurunkan Ayah Merry
dari mobil dan membawanya ke ruang Unit
Gawat Darurat (UGD). Dengan rusuh Merry ikut mengantarnya ke ruang UGD.
Akhirnya tangis Merry meledak.
“Ayah…Ayah…..Ayah…”.
teriak Merry dalam tangis. Hanya satu kata yang bisa dia ucapkan. Mulutnya
seakan kalah dengan matanya. Terlalu banyak air mata yang keluar sehingga kata-kata
lain tak mampu terucap.
Merry
menunggu di luar ruangan UGD. Penjaga sekolah mengapingnya. Sekian menit Merry
menunggu. Samar-samar terdengar suara orang berlari dari lorong mendekati ruang
UGD. Nenek berlari tergopoh-gopoh dan menghampiri Merry. Setelah menatap Merry beberapa detik, akhirnya
Nenek memeluknya. “Merry…Ayahmu?”. Dia menangkap kekhawatiran terpantul pada
kedua retina nenek. Nenek memeluk Merry dengan erat. Sangat erat. Yang akhirnya
membuat Merry semakin tenggelam dalam tangisan. Setelah beberapa lama menunggu.
Seorang yang berkostum putih keluar dari ruang UGD. Dia adalah Dokter yang
menangani Ayah Merry. Mereka (Merry, Nenek, dan Penjaga sekolah) pun berdiri
menghampiri Dokter. “Maaf, sudah tidak bisa….”
Apa
maksud Dokter itu? Apa yang tidak bisa? Jelaskan kepadaku dengan rinci. Ah,
rasanya aku ingin berteriak. Apa aku terlalu kecil untuk mengerti. Apa aku
terlalu kecil untuk mengetahui kenyataan. Ayah? Apa dia tidak bisa lagi
mengantarku ke sekolah? Apa dia tidak bisa lagi berteriak membangunkanku? Apa
tadi itu wajah terakhir Ayah mengantarku?. Semua pertanyaan Merry tak memiliki
jawaban lisan. Karena kenyataan sudah mampu menjawabnya. Kali ini tidak ada
yang bisa menghentikan kematian. Tidak terkecuali kematian Ayah Merry.
****
Surya
kini mulai tersenyum sinis. Dengan teriknya dia menerangi bumi. Siang ini
seorang wanita yang masih tampak muda berkunjung ke rumah Merry. Tidak, bukan
sekedar berkunjung. Tapi dia hendak membawa Merry pergi dari sini. Dari desa di
mana Merry, Ayah, dan Nenek telah bersama selama beberapa tahun kemarin.
“Sekarang
kamu harus ikut ibu ke kota seberang. Kau akan tinggal dan sekolah di sana
bersama ibu”. Paparnya dengan mengelus rambut ikal Merry.
Merry
menatap wajah wanita yang mengaku ibunya itu dengan tatapan kosong dan berkata
“Aku akan ikut, asal nenek juga ikut”.
“Nenek
tidak bisa ikut sayang. Jika nenek ikut, siapa yang akan mengurus kuburan Ayah.
Sedang kamu harus ikut Ibu agar kamu bisa sekolah dan mengejar cita-citamu.
Jadilah yang terbaik agar Ayahmu bangga”. Dengan wajah dan mata yang sendu
nenek menjelaskan perlahan kepada Merry. Ah, Merry terlalu kecil untuk mengerti
bagaimana cara membuat keputusan yang benar. Dia hanya mengikuti saran yang
dilontarkan Nenek. Yang Dia tahu, Nenek menyayanginya dan Nenek lebih tahu yang
terbaik untuk cucuknya. Merry tak bisa menolak permintaaan Nenek. “Aku ikut,
asal aku ingin sesering mungkin mengunjungi nenek dan berziarah ke kuburan Ayah”.
Pintanya pasti.
****
Ternyata
itu semua hanya permintaan seorang anak kecil yang mudah untuk disiasati. Merry
tak pernah mengunjungi nenek sesering yang dia pinta saat pergi bersama Ibu.
Entah apa alasan Ibu. Dia pun perlahan melupakan wajah terakhir Ayahnya. Sama
sekali tak ada potret yang tersimpan. Sama sekali tak ada pesan yang teringat
dari Ayah. Dan sekali kemudian, Akhirnya wajah Ayah kembali muncul dalam mimpi
Merry.
*~~*
Cerita
ini hanya fiktif
Dinda
Lindia Cahyani
Cileungsi,
Bogor – Indonesia
25.01.15
No comments:
Post a Comment