Jika ditanya, “Untuk
apa kamu menulis?” pasti banyak jawaban yang berbeda-beda. Tapi, dasarnya
mereka ingin tulisan mereka menyebar di antara semua orang. Mereka, termasuk
saya, mengharapkan eksistensi dari tulisan itu sendiri.
Ali Radhiallahu Anhu
pernah berkata
“ikatlah ilmu dengan menulis”. Karena telah di ketahui bahwa
tidak semua orang mampu menghapal setiap apa yang dia pernah dengar, lihat atau
rasa. Mungkin, jika hanya sekitar satu atau dua hari kita masih bisa mengingat
kejadian apa yang telah terjadi dalam kehidupan kita. Tapi, cobalah untuk
mengingat kejadian anda di masa silam. Misal, kejadian lima belas tahun yang
lalu. Dengan ini saya ingin mengatakan bahwa menulis adalah cara yang tepat
untuk merekam setiap memori yang kita lalui.
Bagi seseorang yang
ingin menjadi penulis maka dia tidak akan pernah bisa luput dari membaca. Karena,
tidaklah mungkin seseorang pandai menulis tapi malas membaca. Adalah sebuah
kebutuhan bagi seorang penulis akan aktivitas membaca itu sendiri. Eksistensi menulis
akan senantiasa berdampingan dengan aktivitas membaca. Bagi seseorang yang
ingin tulisannya berkualitas, membaca adalah cara utama meningkatkan
keterampilan jemari dalam melahirkan sebuah karya tulisan.
Sebelum menulis, para
ulama-ulama terdahulu senantiasa mengawalinya dengan membaca, mengkaji, dan memahami
kitab-kitab yang berhubungan dengan apa yang akan mereka tulis. Sehingga
lahirlah karya-karya agung yang menjadi rujukan bagi para pecinta ilmu.
So, Eksistensi menulis
akan selalu berdampingan dengan eksistensi membaca
Semangat untuk berkarya
yaaa !!!!
Dinda Lindia Cahyani
27.01.15

No comments:
Post a Comment