Pages

Friday, 2 February 2018

Dipenjara Karena Mengatakan Kebenaran? Jangan Takut!

Speak The Truth

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”
 (HR. Muslim no. 2392)



Selama 1439 tahun Islam berdiri di muka bumi ini, selama itu pula jumlah penganutnya semakin bertambah dan tidak menyusut. Meskipun tidak sedikit muslim yang memilih untuk murtad, namun yang menjadi mualaf lebih banyak jumlahnya. Orang-orang yang murtad, semata-mata karena mereka tidak mengenal agama islam yang sempurna ini dengan cara yang benar.

Seperti di zaman Nabi Muhammad cobaan terhadap umat muslim akan selalu ada. Baik dari internal (hawa nafsu dirinya dan bisikan setan) juga dari eksternal (pihak yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya).

Dan seperti pada zaman Nabi , di zaman ini pun muslim terbagi menjadi munafik dan mukmin. Dimana seorang munafik, dia mengaku sebagai muslim namun sejatinya dia membenci peraturan Allah dan Sunnah Rasulullah, Sedangkan orang mukmin adalah mereka yang secara ikhlas mengamalkan dan menjalankan segala detail perintah Allah tanpa toleransi sesuai tuntunan Nabi Muhammad .

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.” (2: 14)

Kita tidak bisa memisahkan sejarah dari hari ini. Karena apa yang terjadi hari ini tidak terlepas dari apa yang terjadi di masa lampau. Dan apa yang terjadi di masa lampau adalah sebab yang membawa kita pada masa sekarang.

Perselisihan  yang terjadi pada umat muslim di masa lampau membawa pada perpecahan pada tubuh umat muslim. Namun hal itu sudah menjadi ketetapan Allah. Hanya saja, umat muslim harus belajar dan berbenah diri, untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Agar bersatu kembali, umat muslim harus berada dalam satu barisan dengan pemimpin yang menyerukan kepada agama Allah secara menyeluruh, tidak parsial dan tidak sekuler.

Dapat kita lihat pada hari ini, umat muslim di dunia mengalami musibah yang luar biasa. Bukan musibah karena bencana alam. Namun musibah yang menimpa karena tidak adanya pemimpin yang satu, tidak adanya pemimpin yang menjadi tameng dan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman kepemimpinan.

Musibah berupa kelaparan, dikarenakan kekayaan yang dikuasai segilintir orang. Pemerkosaan, tidak adanya pelindung dan sanksi tegas, pembunuhan, perampokan, penganiayaan, pembodohan, dan banyak pula degradasi moral di antara masyarakat. Yang hampir setiap detik kejahatan itu terjadi di dunia ini, semata-mata karena manusia tidak mau melaksanakan apa yang telah ditetapkan Allah sebagai hukum untuk mengatur kehidupan manusia.

Jika pun ada yang secara ikhlas mencoba menerapkan islam, namun dia senantiasa digoyahkan oleh pihak-pihak yang membenci islam. Entah itu personal dan kelompok. Mereka yang menyuarakan islam, diseret dan dikurung untuk membungkam suara kebenaran menggaung di bumi Allah ini. Sehingga para pemimpin dzalim bisa terus berkuasa untuk membuat kerusakan dan kedzaliman.   

Buya Hamka, ulama Indonesia, ditangkap pada tanggal 27 Januari 1964 dengan tuduhan sebagai pengkhianat negara. Padahal beliau adalah seorang ulama yang senantiasa menyuarakan kebenaran.

Abu Bakar Ba’asyir, ulama Indonesia, ditangkap pada 9 Agustus 2010 dengan tuduhan mendanai aksi terorisme, padahal beliau adalah seorang ulama yang senantiasa menyuarakan kebenaran, menyeru manusia untuk tidak menyembah berhala zaman modern yang berupa sistem thagut.

Zainab Al-Ghazali, seorang muslimah di Mesir yang menentang pemerintah dan menyuarakan Islam, seorang pendiri kelompok persatuan wanita muslimah, dipenjarakan di tahun 1965. Pada saat itu dia mendapatkan penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya.

Dr. Aafia Siddiqui, ilmuwan muslimah dari Pakistan di bidang neurology, ditangkap dan dituduh memiliki keterkaitan dengan Al-Qaeda. Disiksa dengan kejam sampai banyak mengalami cidera fisik. Dan sampai sekarang belum dibebaskan. 

Imam Abu Hanifa, ulama pendiri madzhab Hanafi yang tersohor ini pun pernah dipenjarakan oleh penguasa dzalim pada masa itu, dia bersiteguh pada pendiriannya dan tidak mau menjadi bagian dari penguasa yang dzalim.

Imam Maliki, ditangkap, disiksa dan dicambuk karena mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan pemerintah.

Naveed Butt, aktivis Hizbut Tahrir Pakistan yang diculik dan dipenjarakan karena konsisten menyuarakan Islam dan menentang pemerintah.

Imam Hambali, Abu Yazid Al-Bustami, Abul Husin An-Nuri, Imam Nawawi, dan masih banyak lagi hamba-hamba Allah yang menyuarakan kebenaran islam yang mereka dikurung dalam penjara, disiksa, dan dianiaya. Namun kebenaran dari lisannya tidak berubah. Dan malah membuat mereka semakin yakin. Dan hanya kepada Allah mereka semakin mendekat.

Lihatlah hadits di bawah ini.

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).



Jadi jangan takut untuk mengatakan kebenaran, dimana pun dan dihadapan siapapun, jika itu benar maka katakan. Walaupun konsekuensinya harus dicaci, dipenjara, disiksa dan dibunuh sekalipun jangan biarkan lisan kita mati di saat mengatakan kemungkaran.



Wallahu a’lam bishowab 

Sumber : 
Al-Qur'an 
Wikipedia 
rijalmaulana.com

No comments:

Post a Comment