![]() |
| Speak The Truth |
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Dari
Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim no. 2392)
Selama 1439 tahun Islam berdiri di muka bumi ini,
selama itu pula jumlah penganutnya semakin bertambah dan tidak menyusut.
Meskipun tidak sedikit muslim yang memilih untuk murtad, namun yang menjadi
mualaf lebih banyak jumlahnya. Orang-orang yang murtad, semata-mata karena
mereka tidak mengenal agama islam yang sempurna ini dengan cara yang benar.
Seperti di zaman Nabi Muhammad
cobaan terhadap umat muslim akan selalu ada. Baik dari internal (hawa nafsu
dirinya dan bisikan setan) juga dari eksternal (pihak yang memusuhi Allah dan
Rasul-Nya).
Dan seperti pada zaman Nabi ,
di zaman ini pun muslim terbagi menjadi munafik dan mukmin. Dimana seorang
munafik, dia mengaku sebagai muslim namun sejatinya dia membenci peraturan
Allah dan Sunnah Rasulullah, Sedangkan orang mukmin adalah mereka yang secara
ikhlas mengamalkan dan menjalankan segala detail perintah Allah tanpa toleransi
sesuai tuntunan Nabi Muhammad .
Dan
apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah
beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin)
mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya
berolok-olok.” (2: 14)
Kita tidak bisa memisahkan sejarah dari hari ini. Karena
apa yang terjadi hari ini tidak terlepas dari apa yang terjadi di masa lampau. Dan
apa yang terjadi di masa lampau adalah sebab yang membawa kita pada masa
sekarang.
Perselisihan
yang terjadi pada umat muslim di masa lampau membawa pada perpecahan
pada tubuh umat muslim. Namun hal itu sudah menjadi ketetapan Allah. Hanya saja,
umat muslim harus belajar dan berbenah diri, untuk tidak melakukan kesalahan
yang sama. Agar bersatu kembali, umat muslim harus berada dalam satu barisan
dengan pemimpin yang menyerukan kepada agama Allah secara menyeluruh, tidak
parsial dan tidak sekuler.
Dapat kita lihat pada hari ini, umat muslim di dunia
mengalami musibah yang luar biasa. Bukan musibah karena bencana alam. Namun musibah
yang menimpa karena tidak adanya pemimpin yang satu, tidak adanya pemimpin yang
menjadi tameng dan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman kepemimpinan.
Musibah berupa kelaparan, dikarenakan kekayaan yang
dikuasai segilintir orang. Pemerkosaan, tidak adanya pelindung dan sanksi
tegas, pembunuhan, perampokan, penganiayaan, pembodohan, dan banyak pula
degradasi moral di antara masyarakat. Yang hampir setiap detik kejahatan itu
terjadi di dunia ini, semata-mata karena manusia tidak mau melaksanakan apa
yang telah ditetapkan Allah sebagai hukum untuk mengatur kehidupan manusia.
Jika pun ada yang secara ikhlas mencoba menerapkan
islam, namun dia senantiasa digoyahkan oleh pihak-pihak yang membenci islam. Entah
itu personal dan kelompok. Mereka yang menyuarakan islam, diseret dan dikurung
untuk membungkam suara kebenaran menggaung di bumi Allah ini. Sehingga para
pemimpin dzalim bisa terus berkuasa untuk membuat kerusakan dan kedzaliman.
Buya Hamka, ulama Indonesia, ditangkap pada tanggal 27
Januari 1964 dengan tuduhan sebagai pengkhianat negara. Padahal beliau adalah
seorang ulama yang senantiasa menyuarakan kebenaran.
Abu Bakar Ba’asyir, ulama Indonesia, ditangkap pada
9 Agustus 2010 dengan tuduhan mendanai aksi terorisme, padahal beliau adalah
seorang ulama yang senantiasa menyuarakan kebenaran, menyeru manusia untuk
tidak menyembah berhala zaman modern yang berupa sistem thagut.
Zainab Al-Ghazali, seorang muslimah di Mesir yang
menentang pemerintah dan menyuarakan Islam, seorang pendiri kelompok persatuan
wanita muslimah, dipenjarakan di tahun 1965. Pada saat itu dia mendapatkan
penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya.
Dr. Aafia Siddiqui, ilmuwan muslimah dari Pakistan di
bidang neurology, ditangkap dan dituduh memiliki keterkaitan dengan Al-Qaeda.
Disiksa dengan kejam sampai banyak mengalami cidera fisik. Dan sampai sekarang belum dibebaskan.
Imam Abu Hanifa, ulama pendiri madzhab Hanafi yang
tersohor ini pun pernah dipenjarakan oleh penguasa dzalim pada masa itu, dia
bersiteguh pada pendiriannya dan tidak mau menjadi bagian dari penguasa yang
dzalim.
Imam Maliki, ditangkap, disiksa dan dicambuk karena
mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan pemerintah.
Naveed Butt, aktivis Hizbut Tahrir Pakistan yang
diculik dan dipenjarakan karena konsisten menyuarakan Islam dan menentang pemerintah.
Imam Hambali, Abu Yazid Al-Bustami, Abul Husin An-Nuri,
Imam Nawawi, dan masih banyak lagi hamba-hamba Allah yang menyuarakan kebenaran
islam yang mereka dikurung dalam penjara, disiksa, dan dianiaya. Namun kebenaran
dari lisannya tidak berubah. Dan malah membuat mereka semakin yakin. Dan hanya
kepada Allah mereka semakin mendekat.
Lihatlah hadits di bawah ini.
“Jihad
yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
(HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu
Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Jadi
jangan takut untuk mengatakan kebenaran, dimana pun dan dihadapan siapapun,
jika itu benar maka katakan. Walaupun konsekuensinya harus dicaci, dipenjara, disiksa dan dibunuh sekalipun jangan biarkan lisan kita mati di saat mengatakan
kemungkaran.

No comments:
Post a Comment