Pages

Tuesday, 30 January 2018

Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (Edisi Lengkap)


Kisah Para Nabi
Pada setiap umat Allah senantiasa mengirimkan Nabi dan Rasul dari kalangan manusia itu sendiri, agar manusia tidak tersesat dan mengenal siapa Tuhannya untuk mensyukuri nikmat-Nya dengan beribadah hanya kepada-Nya. 

Inilah kisah yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an secara terperinci dan sangat menarik. Melibatkan sisi kelemahan manusia berupa kecemburuan, rasa benci, kesombongan, hasrat, muslihat, intrik, kekejaman, teror, dan sisi kemulian berupa kesabaran, loyalitas, keberanian, kebangsawanan, dan kasih sayang. 

Alasan kenapa diturunkannya ayat mengenai kisah ini adalah karena para Yahudi saat itu menanyakan kepada Nabi Muhammad  untuk menjelaskan mengenai Yusuf ‘alaihissalam yang mana merupakan salah satu nabi mereka. Namun kisahnya banyak bagian yang keliru dan menyimpang, maka dari itu Allah menurunkan kisahnya di dalam Al-Qur’an secara jelas dan terperinci. 

Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengalir seperti sungai, dari awal hingga akhir dengan ending yang bahagia. Inilah kisahnya …. 

Namanya Yusuf Ibn Ya’qub Ibn Ishaq Ibn Ibrahim ‘alaihissalam. Memiliki rupa nan rupawan dan akhlak yang menawan. Dia memiliki saudara kandung bernama Bunyamin, dan sepuluh saudara laki-laki dari ibu yang berbeda.

www.whyislam.org


Yusuf ‘alaihissalam berusia delapan belas tahun, sangat tampan dan bersifat lemah lembut, penuh hormat, baik dan penuh perhatian. Saudaranya, Bunyamin pun sangat menyenangkan. Inilah yang membuat ayahnya lebih mencintai keduanya dibanding yang lain. Oleh karenanya perhatian Nabi Ya’qub tidak lepas dari mereka berdua sehingga untuk melindungi mereka, sang ayah membuat keduanya sibuk bekerja di ladang. 



Yusuf dan Saudara-Saudaranya

Suatu ketika Yusuf muda mendapatkan sebuah mimpi, lantas menceritakannya kepada sang ayah. “Wahai ayahku, sungguh aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Lantas Nabi Ya’qub ‘alaihissalam berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakanmu. Sungguh setan itu musuh yang jelas bagi manusia.” 

Nabi Ya’qub ‘alaihissalam mengetahui bahwa saudara-saudaranya memiliki kecemburuan kepada Yusuf ‘alaihissalam. Oleh karenanya dia melarang Yusuf untuk menceritakan mimpinya. Walau dalam hati, anak muda itu sangat ingin berbagi apa yang dialaminya. 

Mimpi itu tetap dirahasiakan. Namun kecemburuan saudara-saudaranya tetap berlangsung dikarenakan bisikan setan dan mereka pun berniat menyingkirkan Yusuf . 

Mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh ayah kita dalam kekeliruan yang nyata, bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah padamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik.” 

Yang tertua dan tercerdas di antara mereka bernama Yahuda berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.” 

Akhirnya ide terakhir untuk melemparkannya ke sumur adalah ide cemerlang yang disetujui. Maka mereka pun  meminta ayahnya untuk mengizinkan Yusuf pergi bersama mereka.

Mereka berkata, “Wahai Ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan kami pasti menjaganya.” 

Lantas ayahnya menjawab, ”Sesungguhnya kepergian kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya.” 

Mereka berkilah, “Jika dia dimakan serigala, padahal kami kelompok (yang kuat), kalau demikian tentu kami orang-orang yang rugi.” 

Akhirnya Nabi Ya’qub pun mengizinkan mereka membawa Yusuf dengan terpaksa, karena terus ditekan oleh anak-anaknya. Mereka sangat bergembira karena akhirnya bisa memuluskan rencana untuk menyingkirkan Yusuf untuk selamanya. Dengan dalih untuk minum, mereka langsung menuju sumur. Tiba-tiba mereka bekerja sama memperlakukan Yusuf dengan buruk. Salah satu dari mereka menahan Yusuf dengan lengannya, yang lain membuka gamisnya, dengan sikap yang tak biasa seperti ini Yusuf mencoba melawan untuk meloloskan diri. Namun nihil karena mereka berkomplot mengangkatnya dan melemparkannya ke dalam sumur yang dalam. Walaupun memohon, mereka telah dipenuhi kecemburuan dan kekejaman yang membuat hati mereka terkunci. 

Allah berfirman agar Yusuf tidak takut, dan hal itu akan dia ceritakan kepada mereka. Pemuda itu tak terluka karena di dalam sumur ada air yang menyelamatkannya. Dia pun terduduk di sebuah batu yang menonjol di sana. Saudara-saudaranya pergi meninggalkannya di tempat yang jauh dari rumah. 
Lantas mereka membunuh seekor domba lalu melumuri baju Yusuf dengan darahnya. Lalu mereka semua berjanji untuk menjaga rahasia. 

Kesepuluh lelaki itu kembali kepada ayahnya di gelapnya malam sambil menangis. Gelapnya malam telah pula menutupi  hati mereka sehingga mereka pun berbohong. 

Mereka berkata, “Wahai Ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala. Dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.” Mereka memperlihatkan baju gamisnya yang dilumuri darah palsu. 

Jauh di dalam hatinya, Ya’qub tahu bahwa Yusuf masih hidup dan mereka berdusta. Dia mengambil gamisnya lantas berkata, “Betapa baiknya sang serigala, memakan anak kesayanganku tanpa mengoyak bajunya.” Wajah anak-anaknya memerah ketika mendengar hal itu, lantas mereka bersumpah dengan nama Allah. 

Ya’qub berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” 

Ya’qub hanya bisa pasrah dan berdo’a kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk kesabaran dan mempercayakan kepada-Nya untuk melindungi  dari rencana mereka menentang dia dan Yusuf.

Di sisi lain, di gelapnya sumur yang dalam, Yusuf berdo’a kepada Allah untuk keselamatan. Penciptanya sedang menguji pemuda itu dengan kesulitan. Untuk melatihnya kesabaran dan ketegaran. Yusuf pun berserah diri kepada-Nya. 

Google Doc

Suatu ketika sebuah kafilah dalam perjalanan yang sedang menuju Mesir mendekati sumur. Salah satu dari musafir itu hendak mengambil air dan menurunkan timba ke dalam sumur itu. Namun siapa sangka saat mencoba mengangkat timba tak seperti biasanya, begitu berat. Dia pun melongokkan kepala ke dalam sumur, dengan terkejut ia melihat seorang pemuda bergelantung pada tali timba tersebut.

Dia berseru, “Oh senangnya. Ini ada seorang anak muda!” 

Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. 

Kafilah dagang itu melanjutkan perjalanan dengan meletakkan rantai pada Yusuf. Sesampainya di Mesir Yusuf pun dijual. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya. 

Seorang Menteri Mesir membelinya dan meminta para musafir itu membuka rantai yang terlilit di kaki Yusuf. Yusuf pun terkejut, lantas sang Menteri meminta Yusuf untuk tidak mengkhianatinya. Pemuda tampan itu tersenyum dan berterima kasih, serta berjanji untuk setia kepadanya.

Yusuf sangat bersyukur kepada Allah karena diselamatkan dari sumur yang gelap. Dia kini menjadi pelayan khusus isteri sang Menteri. Dan orang dari Mesir yang membeli Yusuf berkata kepada isterinya, “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak.”

Yusuf sangat penurut, dengan sikapnya yang sopan dan kelakuannya yang menawan dia telah mencuri hati setiap orang. Ketampanannya menjadi bahan perbincangan di kota. Dia termahsyur sebagai lelaki tertampan dan paling menarik. Orang-orang membuat puisi tentangnya. Wajahnya yang penuh dengan keluguan dan tanpa dosa, jiwanya yang bersih menambah ketampanan yang terpancar di wajahnya. Bahkan wanita terkaya di kota itu saja menginginkan Yusuf. Namun Yusuf tetap rendah hati dan tidak sedikit pun sombong dengan anugerah yang dimilikinya itu. 

Yusuf dan Zulaikha


Hari pun berlalu dan Yusuf pun tumbuh dewasa. Allah Maha tinggi berfirman, “Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya kekuasaan dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 

Allah memberikannya kebijaksanaan dalam setiap masalah dan pengetahuan dan kondisi tentang kehidupan. Yusuf dianugerahkan kemampuan seni berbicara, membuat orang yang mendengarnya tertarik. Dia diberikan kemuliaan dan pengendalian diri yang menjadikan seorang pribadi menawan. Tuannya pun menyadari bahwa Allah telah memberkahinya dengan kehadiran Yusuf. Dia mengerti bahwa Yusuf adalah yang paling jujur, setia, orang mulia, yang pernah ia temui dalam hidupnya. Lantas dia pun menugaskannya di rumahnya, memuliakannya, dan memperlakukannya seperti seorang anak. 

Isteri menteri, Zulaikha mengamati Yusuf dari hari ke hari. Dia duduk dengannya, berbicara dan mendengarkannya, dan rasa kagumnya meningkat seiring waktu. 

Yusuf pun diuji dengan ujian selanjutnya. Yaitu dengan isteri sang menteri, Zulaikha! Wanita itu tidak sanggup menolak ketampanan Yusuf dan obsesinya membuat ia tidak dapat tidur setiap malam. Dia jatuh cinta, dan sangat menyakitkan ketika bisa dekat dengan seorang lelaki, namun tak bisa menyentuhnya. 

Sebenarnya Zulaikha bukan wanita yang tidak patuh, dengan posisinya dia bisa saja mendapatkan lelaki yang diharapkannya. Dia sangat cantik dan cerdas, itulah kenapa sang Menteri memilihnya dari wanita-wanita lain yang menawan di kerajaan. Walaupun dia tidak memberikannya anak, namun sang suami tak menikahi wanita lain karena dia sangat mencintai Zulaikha. 

Lantas Allah menjelaskan bagaimana kejadian ini di dalam Al-Qur’an. 

Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata. “Marilah mendekat kepadaku,” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung."

Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf) pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba kami yang terpilih. 

Yusuf adalah hamba Allah yang ta’at yang menyebabkannya keluar dari godaan setan dengan cepat atas permohannya kepada Allah. Lantas penolakan Yusuf malah membuat Zulaikha semakin berhasrat. Dan saat Yusuf bergerak ke arah pintu untuk kabur, dia berlari mengejarnya dan meraih gamisnya, seperti orang berpegangan yang akan tenggelam. Sehingga menyebabkan gamis Yusuf terkoyak, robekannya tergenggam di tangan Zulaikha. Mereka mencapai pintu berbarengan. Lalu tiba-tiba pintu terbuka, dan berdirilah suami dan keluarganya. 

Zulaikha merubah sikapnya dan intonasi suaranya menjadi marah, sambil memperlihatkan robekan gamis di tangannya. Dia menuding Yusuf.

“Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) berkata, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?”  

Dan Yusuf menjawab, “Dia yang menggoda dan merayu diriku.” Lantas seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberikan kesaksian, “Jika baju gamisnya koyak di bagian depan, maka perempuan itu benar, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang benar.” 

Maka ketika dia (suami perempuan itu) melihat baju gamisnya di bagian belakang, dia berkata, “Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu. Tipu dayamu benar-benar hebat. Dia berkata kepada Yusuf, “Lupakanlah ini,” dan kepada isterinya, “Mohonlah ampunan atas dosamu, karena engkau termasuk orang yang bersalah.” 

Kejadian seperti ini tidak bisa dirahasiakan, dimana di rumah itu terdapat banyak pelayan. Sehingga tersebarlah cerita ini. Perempuan-perempuan di kota berkata,” Isteri Al-Aziz menggoda dan merayu pelayannya untuk menundukkan dirinya, pelayannya benar-benar membuatnya mabuk cinta. Kami pasti memandang dia dalam kesesatan yang nyata,” 

Gosip ini membuat Zulaikha tertekan, dengan jujur dia mengakui bahwa sangat sulit bagi wanita manapun untuk menolak lelaki setampan Yusuf. Untuk membuktikan ketidakberdayaannya, dia berencana untuk memberikan godaan yang sama kepada wanita di kota untuk menghadapi ketampanan Yusuf. Dia pun mengundang para wanita di kota ke rumahnya. Menyediakan tempat duduk berjejer dan pisau satu per satu untuk mengupas buah-buah yang menjadi jamuan. 

Lalu dia berkata kepada Yusuf, “Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka. Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepada (keelokan rupa)nya. Dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri. Seraya berkata, “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.” 

Zulaikha berkata, “Itulah orangnya yang menyebabkan kamu mencela aku karena (aku tertarik) kapadanya, dan sungguh, aku telah menggoda untuk menundukkan dirinya tetapi dia menolak. Jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan, dan dia akan menjadi orang yang hina.” 

Namun Yusuf memilih untuk dipenjarakan daripada harus memenuhi nafsu para wanita itu. Lantas Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” 

Pada malam itu Zulaikha meminta suaminya memenjarakan Yusuf agar nama baiknya terjaga dan jika tidak, dia tidak bisa mengendalikan dirinya terhadap Yusuf. Sang Menteri tahu bahwa Yusuf tidak bersalah, mulia, dan berbudi luhur. Namun ia tak punya pilihan lain, dan lantas dengan berat hati memasukkan Yusuf ke dalam penjara. 

Yusuf Dipenjara


Dalam masa ini Allah melimpahkan karunia kepada Yusuf berupa kemampuan menafsirkan mimpi. Saat dimasukkan ke penjara, bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku dan sebagiannya dimakan burung.” Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik. 

Yusuf berkata, “Makanan apa pun yang akan diberikan kepadamu berdua aku telah dapat menerangkan takwilnya, sebelum (makanan) itu sampai kepadamu. Itu sebagian dari yang diajarkan Tuhan kepadaku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak berimana kepada Allah, bahkan mereka tidak percata kepada hari akhirat. 

“Dan aku mengikuti agama nenek moyangku, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya), tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. 

“Wahai kedua penhuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa, Mahaperkasa? Apa yang kamus sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat, baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

“Wahai kedua penghuni penjara, salah seorang di antara kamu akan bertugas menyediakan minuman khamr bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi dia akan disalib, lalu burung memakan sebagaian kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan kepadaku.” 

Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat, “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu,” 

Setelah tahanan itu keluar dan benarlah apa yang diterangkan Yusuf, menjadi pelayan penyedia anggur. Maka setan menjadikannya lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya. 

Suatu ketika raja bermimpi dan ketakutan karenanya mimpinya. Lantas memanggil para pemuka kaumnya. Dan Raja berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.” 

Mereka menjawab, “(itu) mimpi-mimpi yang kosong dan kami tidak mampu menakwilkan mimpi itu.” 

Dan berkatalah orang yang selamat (pelayan) di antara mereka berdua teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya. “Aku akan memberitahukan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).” 


Raja pun mengirimkan pelayan itu kepada Yusuf untuk menanyakan perihal mimpi Raja tersebut. Pelayan itu pun menemui Yusuf dan berkata, “Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.” 

Yusuf berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa, kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, dimana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” 

Sang Raja pun terkagum dengan pengetahuan sang penafsir mimpi dan membuatnya penasaran siapakah gerangan yang mengagumkan itu. Lantas ia pun memerintahkan untuk membebaskan Yusuf dari penjara. Dia berkata, “Bawalah dia kepadaku.” 

Sang utusan menemui Yusuf untuk membebaskannya namun dia menolak. “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. Sungguh, Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.”

Sang utusan kembali kepada Raja, lantas dia ditanya. “Mana Yusuf? Bukankah aku memerintahkanmu menjemputnya?” 

Sang utusan menjawab, “Dia menolak sampai terbukti bahwa dia tidak bersalah menyangkut perempuan-perempuan yang melukai tangan mereka.” 

Sang Raja memerintahkan untuk membawa para isteri-isteri menteri dan juga isteri kepala menteri, yaitu Zulaikha, secara bersamaan. Sang Raja merasa bahwa Yusuf telah diperlakukan tidak adil namun ia tak tahu bagaimana kejadiannya. 

Dia (Raja) berkata (kepada perempuan-perempuan itu), “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukan dirinya?” Mereka berkata, “Mahasempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Isteri Al-Aziz berkata, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.” 

Kisah Zulaikha dalam Al-Qur'an hanya disebutkan sampai sana dan tidak diketahu kelanjutannya. Namun legenda mengatakan bahwa Zulaikha pergi dari istana setelah suaminya meninggal. Dia tak sanggup menahan rasa cintanya kepada Yusuf yang tak berkesudahan. Sehingga ia memilih mengasingkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah, karena dia telah bertaubat dan mengikuti agama orang yang dicintainya. 

Mengapa Yusuf melakukan hal ini dia berkata, “Yang demikian itu agar dia (Al-Aziz) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada (di rumah) dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha pengampun, Maha penyayang.” 

Lantas setelah jelas bahwa Yusuf sama sekali tidak bersalah. Sang Raja berkata, “Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku.” Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (raja) berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya.” 

Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.”

Terkisah bahwa Yusuf menggantikan sang Menteri yang menjadi tuannya, karena dia telah menjadi tua dan akhirnya meninggal dunia. 

Waktu pun berputar. Selama tujuh tahun yang baik, Yusuf mengontrol penanaman, panen, dan penyimpanan hasil panen. Disusul tujuh tahun kekeringan melanda penjuru negeri termasuk Kan’an, tempat lahir Yusuf. Yusuf menganjurkan raja untuk menjual gandum dengan harga murah kepada mereka yang membutuhkan. Raja menyetujui dan berita ini sampai ke seluruh pelosok negeri. 

Ya’qub mengirimkan anak-anaknya, kecuali Bunyamin, ke Mesir untuk membeli kebutuhan gandum. Yusuf mendengar bahwa saudara-saudaranya datang dari jauh dan tidak dapat berbahasa orang Mesir. Ketika mereka menemui Yusuf untuk membeli gandum daripadanya, lantas dia segera mengenali mereka. Tapi mereka tidak mengenali Yusuf. 

Yusuf menerima mereka dengan hangat. Setelah menyediakan kebutuhan mereka, dia bertanya dari mana mereka datang. Mereka menjelaskan, “Kami sebelas bersaudara, anak dari Nabi yang mulia. Yang termuda berada di rumah.” 

Mendengar hal itu kedua mata Yusuf dipenuhi air mata, rasa rindunya pada rumah memenuhi hatinya. Demikian pula rasa rindu kepada ayah dan saudaranya, Bunyamin. “Apa kalian orang yang benar?” 
Mereka menjawab, “Dengan alasan apa kami menyatakan ketidakbenaran,” 

Yusuf berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin) tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik? Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku.” 

Mereka berkata, “Kami akan membujuk ayahnya (untuk membawanya) dan kami benar-benar akan melaksankannya.” 

Dan dia (Yusuf) berkata kepada pelayan-pelayannya, “Masukkanlah barang-barang (penukar) mereka ke dalam karung-karungnya, agar mereka mengetahuinya apabila telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi.” 

Maka ketika mereka telah kembali kepada ayahnya (Ya’qub) mereka berkata, “Wahai Ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, jika tidak membawa saudara kami sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah, dan kami benar-benar akan menjaganya.” 

Ya’qub berkata, “Bagaimana aku akan mempercayakan Bunyamin kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya, Yusuf, kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang. 

Setelah penolakan itu, mereka membuka karung yang dibawanya, dan mendapati barang-barang mereka dikembalikan. Dengan begitu mereka meyakinkan kepada ayahnya. “Wahai ayah kami! Apalagi yang kita inginkan. Ini barang-barang (penukar) kita dikembalikan kepada kita, dan kita akan dapat memberi makan keluarga kita, dan kami akan memelihara saudara kami, dan kita akan mendapat tambahan jatah gandum seberat beban seekor unta. Itu suatu hal yang mudah bagi raja Mesir.” 

Namun Ya’qub tetap tidak mengizinkan. Sampai semua persediaan gandum habis. Akhirnya Ya’qub pun memerintahkan anak-anaknya pergi. Mereka mengingatkan bahwa penguasa Mesir tak akan memberikan persediaan kecuali jika mereka membawa Bunyamin. 

Ya’qub berkata, “Aku tidak akan melepaskannya pergi bersama kamu, sebelum kamu bersumpah kepadaku atas nama Allah bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.” Setelah mereka mengucap sumpah, dia berkata, “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan.” 

Lalu Ya’qub menyarankan, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda, namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedkit pun dari takdir Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang-orang yang bertawakal.” 

Dan ketika mereka masuk sesuai perintah ayah mereka, masuknya mereka itu tidak dapat menolak sedikit pun keputusan Allah, tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena kami telah mengajarkan kepadanya. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. 

Dan ketika mereka masuk ke tempat Yusuf, dia menempatkan saudaranya, Bunyamin, di tempatnya, dia berkata, “Sesungguhnya aku adalah saudaramu, jangan engkau bersedih hati terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” 

Ketika telah disiapkan bahan makanan untuk mereka, Yusuf memasukkan piala ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan, “Wahai kafilah! Sesungguhnya kamu pasti pencuri.” 

Mereka bertanya sambil menghadap kepada yang menuduh, “Kamu kehilangan apa?” 

Mereka menjawab, “Kami kehilangan alat takar, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan seberat beban unta dan aku jamin itu.” 

Mereka, saudara-saudara Yusuf menjawab, “Demi Allah, sungguh kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan di negeri ini dan bukanlah para pencuri.” 

Mereka berkata, “Tapi apa hukumannya jika kamu dusta?” 

Mereka menjawab, “Hukumannya ialah pada siapa ditemukan dalam karungnya barang yang hilang itu, maka dia sendirilah menerima hukumannya. Demikianlah kami memberi hukuman kepada orang-orang zalim.” 

Maka mulailah dia memeriksa karung-karung mereka sebelum memeriksa karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Yusuf diberikan kewenangan untuk memutuskan hukuman karena dia sudah dipercayakan oleh raja. 

Mereka berkata, “Jika dia mencuri, maka sungguh sebelum itu saudaranya pun pernah pula mencuri.” Yang mereka maksud adalah Yusuf. 

Mendengar hal itu Yusuf menyembunyikan kejengkelan dalam hatinya dan tidak ditampakkannya kepada mereka. Dia berkata dalam hatinya, kedudukanmu justru lebih buruk. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu terangkan.” 

Lantas mereka pun berkata, “Wahai Al-aziz, dia mempunyai ayah yang sudah lanjut usia, karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya sesunggunya kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik.” 

Mereka khawatir karena sudah berjanji pada ayah mereka untuk menjaga Bunyamin dan membawanya kembali dengan selamat. Maka dari itu mereka menawarkan salah satu dari mereka untuk menjadi pengganti. Yahuda, saudara tertua mereka memilih tinggal bersama Bunyamin dan meminta yang lain kembali ke ayah mereka. 

Mereka pun kembali kepada ayah mereka dan berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui dan kami tidak mengetahui apa yang di balik itu. Dan tanyalah penduduk negeri tempat kami berada dan kafilah yang datang bersama kami. Dan kami adalah orang yang benar.” 

Ya’qub berkata, “Sesungguhnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka kesabaranku adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh Dialah yang Maha mengetahui, Mahabijaksana.” 

Ya’qub bersedih hati, setelah Yusuf pergi, kini anak kesayangannya yang lain ikut pergi. Membuat dia tak henti menangis. Dan dia berpaling dari anak-anaknya seraya berkata, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf.” Dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia diam menahan amarah terhadap anak-anaknya. 

Mereka berkata, “Demi Allah engkau tak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau mengidap penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.” 

Ya’qub menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Wahai anak-anakku! Pergilah kamu carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” 

Maka mereka pun kembali ke Mesir bersama kafilah yang lain. Sesampainya di sana ketika mereka masuk ke tempat Yusuf, mereka berkata, “Wahai Al-aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membwa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah gandum untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.” 

Yusuf berkata, “Tahukah kamu kejelekan apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya karena kamu tidak menyadari akibat perbuatanmu itu?”

Mereka menyadari lalu berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf?”

Yusuf menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” 

Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah.” 

Mereka mulai gemetar, namu kemudia Yusuf mendekati mereka dan berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha penyayang di antara para penyayang.” 

Mereka saling berpelukan dipenuhi kebahagian. Namun keadaan tidak memungkinkan untuknya meninggalkan tanggungjawabnya sebagai bendaharawan tanpa ada pengganti. Maka dia menyerukan kepada saudaranya, “Pergilah kamu membawa bajuku ini, lalu usapkan ke wajah ayahku nanti dia akan melihat kembali, dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku.” 

Kafilah bergerak meninggalkan Mesir menuju Palestina, tempat Ya’qub berada. Di sebuah ruangan dia duduk dengan air mata berlinang. Lalu dia tiba-tiba berdiri, berpakaian rapi dan pergi ke istri anak-anaknya. Dia mengangkat wajah ke langit dan mencium bau udara di sekitarnya. 

Dia berkata, “Sesunggunya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal.” 
Mereka keluarganya berkata, “Demi Allah, sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.” 

Maka ketika sampai pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya baju dari Yusuf ke wajah Ya’qub lalu dia dapat melihat kembali. “Bukankah telah aku katakana kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” 

Mereka meminta ayahnya agar memohonkan ampunan kepada Allah, mereka bertaubat dan membawa Ya’qub dan keluarganya menemui Yusuf. Mereka bertemu dan terharu, menangis bahagia melampiaskan rasa rindu. 

Lalu Yusuf menaikkan kedua orang tuanya ke singgasana. Dan mereka semua bersujud kepada Yusuf. Dan dia berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak hubungan antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhan Maha lembuh terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh Dia Maha mengetahui, Maha bijaksana. 

Tuhanku sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi, Wahai Tuhan pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” 

Begitulah akhir kisah Yusuf ‘alaihissalam. Semua berkumpul kembali dengan bahagia. Banyak pelajarang yang bisa kita ambil, balas dendam dengan cara yang Allah perintahkan, yaitu dengan cara menunjukkan kebenaran dan memaafkan. Mengajarkan kita untuk tidak putus asa walau ujian-Nya sangat berat, karena di akhir kisah akan selalu ada anugerah yang luar biasa. 

Sumber kisah : Al-Qur'an dan buku Stories of The Prophets Ibn Katsir. 

Baca Juga : Al-Qur'an dan Musik 


No comments:

Post a Comment