Rasanya
jauuuuh sekali jika seorang Dinda ingin memberikan nasihat. Karena masih
banyaknya kekurangan yang saya miliki. Tapi apa boleh dikata, saya senang
menulis dan berbagi ide yang menumpuk di kepala, terutama unek-unek saya.
Karena kalau tidak dibagikan dalam tulisan, saya akan mudah stress. Jadi ini
adalah ajang untuk mengobati rasa kejenuhan yang saya alami.
Pada
zamansekarang, musik menjadi sangat hit terutama di kalangan anak muda. Namun
orang yang sudah berkepala tiga, empat dan lima pun terkadang masih suka
mendengarkannya. Ada yang mengatakan musik itu tidak terbatas pada agama
tertentu, tapi kok saya mendapati pernyataan tersebut menjadi agak risih ya?
Saya
memang terlahir dari keluarga muslim yang kultural. Dimana Islam menjadi
warisan untuk saya. Dan saat kecil sedikit sekali mendapatkan pelajaran tentang
Islam kaffah (menyeluruh) itu seperti apa. Yang saya tahu hanyalah seorang
muslim itu harus shalat dan ngaji
(red: baca Qur’an) padahal Islam itu bukan Cuma urasan itu doang. Akan tetapi
Islam mengatur seluruh perbuatan mulai dari bangun tidur sampai tingkat
tertinggi ke pemerintahan.
Itulah
bagi saya mendengarkan musik pun merupakan hobi yang membuat saya nyaman di
kala itu. Terutama lagu-lagu melow lokal atau pun sekaliber lagu barat yang sedikit
sekali dipahami maknanya. Hiks, how stupid I was ….
Semakin
berganti tahun, semakin mengenallah saya dengan Islam yang kaffah. Tak perlu
tahu dari mana sumbernya, yang jelas alhamdulillah Allah membimbing saya, jadi enggak
sia-sia memahami makna “Ihdinasysyiraatal Mustaqiim” yang selalu dibaca setiap
shalat.
Mengenai
fenomena musik menjadi tren modernisasi Islam masa kini harus perlu diwaspadai.
Terkadang karena ketidaktahuan, kita menjadi ikut saja arus zaman tanpa melihat
apa yang Islam perbolehkan dan apa yang terlarang. Teknologi boleh saja
berkembang namun iman harus tetap menancap dan murni tanpa disusupi virus
liberal.
Kebanyakan
muslim saat ini menganggap, “Ah, yang penting kan syahadat, shalat, puasa,
zakat, dan haji.” Padahal menjadi seorang muslim itu tak hanya sekedar
menjalankan lima pilar Islam. Namun ada juga rukun iman yang mencakup beriman
kepada Nabi dan Rasul Allah serta kitab-kitabnya.
Nah,
konsekuensi dari mengimani Rasulullah Muhammad Shalalallahu ‘alaihi wasallam
adalah mengikuti apa yang dianjurkan dan menjauhi apa yang dilarang. Karena apa
yang keluar dari mulut beliau merupakan dari tuntunan Allah agar umatnya
selamat dari siksa-Nya.
Bahwasannya
mereka yang sudah berkerudung, atau yang mengaku berhijrah masih senang dengan musik.
Entah itu dengan lagu-lagu islami atau pun lagu-lagu korea, barat, dan
sebagainya.
Saya
bukanlah ahli hadits atau ahli tafsir, namun saya pembelajar yang alhamdulillah
diberikan kemudahan memahami dengan cepat. Mengutip dari Rumaysho tentang hadits :
“Sungguh,
akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan
selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah
akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi.”
HR. Ibn Majjah dan Ibn Hibban Shahih.
Saya
tidak akan membahas lebih jauh masalah hukum halal atau haramnya. Namun sebagai
seorang muslim, kesenangan saya adalah menganjurkan. Daripada
mendengarkan musik, lebih baik mulai rajinlah membaca Al-Qur’an,
menghafalkannya, dan atau mendengarkan murottal yang dibacakan syeikh-syeikh
ternama seperti Syeikh Maher AlMuaqly. Insya Allah jika kita berhenti mendengarkan musik, hati akan menjadi
lebih tenang, dan akan merasa risih jika telinga mendengarkan alunan musik.
Karena hati kita mulai menolaknya dan Allah tidak akan membiarkan sesuatu yang
Dia larang, dan cahaya Al-Qur’an bersatu dalam hati hamba-Nya. Dan pula, membaca,
menghafal, mengajarkan Al-Qur’an akan berpahala dibanding mengikuti tren
mendengarkan musik.

No comments:
Post a Comment