Pages

Saturday, 27 January 2018

Al-Qur'an dan Musik

Rasanya jauuuuh sekali jika seorang Dinda ingin memberikan nasihat. Karena masih banyaknya kekurangan yang saya miliki. Tapi apa boleh dikata, saya senang menulis dan berbagi ide yang menumpuk di kepala, terutama unek-unek saya. Karena kalau tidak dibagikan dalam tulisan, saya akan mudah stress. Jadi ini adalah ajang untuk mengobati rasa kejenuhan yang saya alami.

Pada zamansekarang, musik menjadi sangat hit terutama di kalangan anak muda. Namun orang yang sudah berkepala tiga, empat dan lima pun terkadang masih suka mendengarkannya. Ada yang mengatakan musik itu tidak terbatas pada agama tertentu, tapi kok saya mendapati pernyataan tersebut menjadi agak risih ya?


Saya memang terlahir dari keluarga muslim yang kultural. Dimana Islam menjadi warisan untuk saya. Dan saat kecil sedikit sekali mendapatkan pelajaran tentang Islam kaffah (menyeluruh) itu seperti apa. Yang saya tahu hanyalah seorang muslim itu harus shalat dan ngaji (red: baca Qur’an) padahal Islam itu bukan Cuma urasan itu doang. Akan tetapi Islam mengatur seluruh perbuatan mulai dari bangun tidur sampai tingkat tertinggi ke pemerintahan.

Itulah bagi saya mendengarkan musik pun merupakan hobi yang membuat saya nyaman di kala itu. Terutama lagu-lagu melow lokal atau pun sekaliber lagu barat yang sedikit sekali dipahami maknanya. Hiks, how stupid I was ….

Semakin berganti tahun, semakin mengenallah saya dengan Islam yang kaffah. Tak perlu tahu dari mana sumbernya, yang jelas alhamdulillah Allah membimbing saya, jadi enggak sia-sia memahami makna “Ihdinasysyiraatal Mustaqiim” yang selalu dibaca setiap shalat.

Mengenai fenomena musik menjadi tren modernisasi Islam masa kini harus perlu diwaspadai. Terkadang karena ketidaktahuan, kita menjadi ikut saja arus zaman tanpa melihat apa yang Islam perbolehkan dan apa yang terlarang. Teknologi boleh saja berkembang namun iman harus tetap menancap dan murni tanpa disusupi virus liberal.

Kebanyakan muslim saat ini menganggap, “Ah, yang penting kan syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji.” Padahal menjadi seorang muslim itu tak hanya sekedar menjalankan lima pilar Islam. Namun ada juga rukun iman yang mencakup beriman kepada Nabi dan Rasul Allah serta kitab-kitabnya.

Nah, konsekuensi dari mengimani Rasulullah Muhammad Shalalallahu ‘alaihi wasallam adalah mengikuti apa yang dianjurkan dan menjauhi apa yang dilarang. Karena apa yang keluar dari mulut beliau merupakan dari tuntunan Allah agar umatnya selamat dari siksa-Nya.

Bahwasannya mereka yang sudah berkerudung, atau yang mengaku berhijrah masih senang dengan musik. Entah itu dengan lagu-lagu islami atau pun lagu-lagu korea, barat, dan sebagainya.
Saya bukanlah ahli hadits atau ahli tafsir, namun saya pembelajar yang alhamdulillah diberikan kemudahan memahami dengan cepat.  Mengutip dari Rumaysho tentang hadits :

“Sungguh, akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan  mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi.” HR. Ibn Majjah dan Ibn Hibban Shahih.


Saya tidak akan membahas lebih jauh masalah hukum halal atau haramnya. Namun sebagai seorang muslim, kesenangan saya adalah menganjurkan. Daripada mendengarkan musik, lebih baik mulai rajinlah membaca Al-Qur’an, menghafalkannya, dan atau mendengarkan murottal yang dibacakan syeikh-syeikh ternama seperti Syeikh Maher AlMuaqly. Insya Allah jika kita berhenti mendengarkan musik, hati akan menjadi lebih tenang, dan akan merasa risih jika telinga mendengarkan alunan musik. Karena hati kita mulai menolaknya dan Allah tidak akan membiarkan sesuatu yang Dia larang, dan cahaya Al-Qur’an bersatu dalam hati hamba-Nya. Dan pula, membaca, menghafal, mengajarkan Al-Qur’an akan berpahala dibanding mengikuti tren mendengarkan musik. 

No comments:

Post a Comment