Pages

Sunday, 28 January 2018

Catatan Alasan Memutuskan Meninggalkan Facebook dan Instagram

Alasan Meninggalkan Facebook dan Instagram



Untuk sebagian orang yang sudah menggunakan facebook dan Instagram selama beberapa tahun, akan menjadi keputusan besar untuk meninggalkan dua jejaring sosial media ini. Tidak bisa dipungkuri bahwa perkembangan teknologi membuat sistem komunikasi sosial pun berpindah dari dunia nyata ke dunia maya. Walau pun dalam dunia nyata ada  juga yang sudah saling mengenal sebelum akun dibuat, namun penggunaan kedua media sosial ini pun memberikan peluang orang asing ikut bercampur dalam komunikasi elektronik tersebut. 

Ini hanya alasan subjektif tanpa memberikan paksaan kepada pengguna lain untuk menyetujui pendapat saya. Mari kita ulas alasan mengapa saya meninggalkan Facebook dan Instagram : 

1. Membuang Waktu 

Bukan hal yang aneh jika Facebook dan Instagram lebih sering menyedot waktu yang dimiliki penggunanya. Entah disadari atau tidak, kenyataan bahwa facebook dan Instagram bersifat adiktif seperti obat-obatan yang merangsang otak untuk terus menggunakannya setiap saat, setiap hari, jam, menit, bahkan detik. Ketika jari kita mengklik satu postingan entah video, foto, atau status. Jari-jari kita digerakkan oleh otak untuk terus mengklik postingan lainnya. Belum lagi notifikasi yang muncul membuat penasaran penggunanya untuk mengecek like atau membalas komentar. 

Ada artikel menarik mengenai hal ini, Sean Parker, seorang milyuner yang merupakan investor facebook mengatakan bahwa Mark Zuckerberg secara sadar telah menciptakan monster dengan sosial media yang bersifat adiktif. Lihat artikel lengkapnya di sini.

Hal itu sudah terencana secara sistematis, karena pencipta jejaring ini pun memiliki misi besar tersembunyi dari komunitas Iluminati. 

Cek Videonya di sini  

Bagi seorang muslim sangatlah rugi jika menyia-nyiakan waktu dengan membaca status orang lain, bercakap-cakap tanpa memberi manfaat, berdebat yang tiada hasilnya. Dalam hal ini saya tidak menghilangkan ada beberapa manfaat menggunakan jejaring ini, yaitu alasan silaturahmi. Namun madharatnya lebih banyak dibanding manfaatnya.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, “Aku pernah bersama dengan seorang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”

Sumber : Rumaysho

Saya membuat akun di tahun 2009, jika dilihat ke belakang, saya lebih sering berinbox ria, membalas komentar dan berdebat dengan orang-orang yang tak saya kenal di dunia maya. Tidak saya pungkiri ada teman-teman yang saya kenal di dunia maya dan pernah akhirnya bertemu di dunia nyata. Alhamdulillah. Namun jika dihitung manfaatnya, selama sembilan tahun rasanya hanya sedikit sekali manfaat yang bisa diperoleh. Coba jika selama Sembilan tahun itu saya gunakan untuk menghafal Al-Qur’an, bukankah kemungkinan hari ini saya bisa hafal. Wallahu a’lam namun apa yang sudah terjadi, saya ambil sebagai pelajaran. 

2. Riskan Memberi Madharot dari pada Manfaat 

Ada hadits menyebutkan “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’no:3289). Sumber : muslimah.or.id 

Bukankah sangat beruntung orang yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain? Tapi saya berpikir bahwa dengan menggunakan facebook saya merasa sulit meluruskan niat. Jika memang menulis nasihat, maka apa benar hal itu untuk memberi manfaat atau hanya ajang mencari perhatian pengguna media sosial? Karena terkadang setan itu  tanpa kita sadari dengan mudah membelokkan niat. 

Saya terlalu sering memberikan nasihat di sosial media, namun sedikit memberi nasihat kepada diri di kala sendiri. Fokus saya menjadi terganggu, shalat jadi tidak khusyuk karena pikiran tertuju pada tulisan atau komentar yang baru dikirim.

Jika yang kita sebarkan adalah kebahagian, bisa jadi kebahagian itu menjadi pemicu dengki di hati orang lain. Menjadikan orang lain merasa kurang beruntung dari kita, dan dengannya setan membisikan rasa hasad ke dalam dada mereka. Jika itu aib, terkadang kita tanpa sadar berkeluh kesah di media sosial jika sesuatu terjadi di kehidupan yang kita jalani. 

Orang yang hatinya galau, terkadang tidak berpikir dengan jernih, dan jarinya hanya ikut mengalun terbawa arus orang-orang yang terlihat juga berkeluh kesah di berandanya. Tanpa kita sadari hukum psikologi berlaku, dimana orang-orang dengan sifat negatif bisa mempengaruhi orang di sekelilingnya. 

Belum lagi, jika penyakit hati sudah bergolak di hati. Orang bisa saja mencoba berbuat jahat. Mengumpulkan informasi di facebook yang terkait dan merusakkan kehidupannya dengan media sihir atau teror lainnya. Saya mendapat beberapa tulisan tentang hal ini tentang penyakit ‘Ain karena keseringan upload video dan foto di facebook. Maka dari itu, entah itu menjadi pemicu atau terpicu memiliki penyakit hati sangatlah rugi. Maka menghindar adalah jalan terbaik. Seperti halnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengingatkan agar kita menghindar dari Dajjal, bukan karena iman kita yang tak kuat. Namun sifat Dajjal adalah perusak iman, maka sebaiknya berlari darinya adalah jalan untuk menjaga iman kita agar tetap kuat. Seperti halnya para pemuda ashabul kahfi, mereka mengasingkan diri ke gua dari orang-orang dzalim bukan karena iman mereka lemah, tapi itulah cara mereka menyelamatkan iman mereka agar tak terkotori. 

3. Menyulut Permusuhan 

Entah itu Instagram atau Facebook, keduanya sama-sama berpotensi memicu permusuhan. Mayoritas pengguna sosial media di Indonesia adalah muslim. Dalam hadits dinyatakan bahwa “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim] 

Sumber : Hidayatullah 

Namun sayangnya, jejaring sosial ini lebih sering memicu perdebatan karena khilafiyah atau perbedaan dalam cabang-cabang fiqh, yang berujung pada permusuhan dengan hujatan dan makian. Sampai lupa bahwa mukmin itu seharusnya satu tubuh, jika orang lain sakit kita pun harus merasakan sakitnya. Namun sentivitas muslim saat ini menjadi hilang karena isu perdebatan kelompok atau golongan yang menyebabkan perpecahan pada tubuh umat islam. 

Saya sendiri mengalaminya, ada salah satu teman yang memberikan opini dan saya komentari. Namun beliau tak menerima hingga akhirnya memutuskan pertemanan. Dari sana saya berpikir, bagaimana mungkin orang tak pernah bertemu, hanya karena satu komentar bisa menjadi saling gondok-gondokkan. Atau terkadang sering ada komentar yang menyakiti hati atau malah saya sendiri yang menyakiti hati orang lain tanpa disadari. Maka dari itu, lebih baik saya menghentikan aktifitas komunikasi lewat dua jejaring sosial media ini. 

4. Hasil Tulisan Tenggelam

Meskipun ada pengingat tentang postingan yang sudah lalu, namun di saat membutuhkan tulisan yang sudah saya tulis, mereka malah tenggelam dan agak menyulitkan untuk menemukannya. Kutipan-kutipan pendek, cerpen, atau opini akan mudah tenggelam tertimbun postingan baru. Berbeda dengan blog, tulisan lebih rapi tersimpan dalam arsip sesuai waktu postingnya. 

5. Menjaga Izzah dan Iffah 

“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama.” (Al Ahzab: 33)

“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.” (HR. Ahmad 6/297. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya).
Sumber  : muslim.or.id 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sering menganjurkan wanita untuk shalat di rumahnya karena tidak ingin para lelaki yang bukan mahramnya bertemu dengan mereka. Muslimah di zaman Rasulullah, jika mereka ikut shalat berjama’ah di malam hari atau waktu fajr, mereka berusaha untuk pulang setelah selesai salam agar tidak berbarengan dengan bubarnya para jamaah lelaki sehingga bercampur baur di antara mereka yang bukan mahram. 

Namun dengan adanya facebook dan Intagram orang asing yang bukan mahram menjadi mudah mengintip aktifitas wanita muslim masa kini. Terutama jika yang diposting adalah foto selfie dirinya, status hatinya yang galau dan lain sebagainya. Seakan rasa malu sudah tak dijaga dengan hati-hati. Berkomunikasi dengan lawan jenis tanpa ada rasa ragu lagi. 

Wanita-wanita itu berada di rumah, namun secara kasat mata mereka berada di luar. Tengah malam masih berkomunikasi dengan orang asing yang baru ditemuinya. Lantas tak bedanya apakah dia berada di rumah atau tidak, karena komunikasinya menjadi santapan publik tanpa ada batasan. Terkadang hal yang bersifat pribadi pun ikut diumbar tanpa kita sadari mengikis rasa malu dan kehormatan yang dijaga dengan hijab dan akhlak.

Maka lebih baik saya meninggalkan dua jejaring sosial itu. Insya Allah. Solusinya saya akan meningkatkan kemampuan menulis di blog ini. 
Dan solusi lain untuk menulis keluhan atau pun rasa galau lebih baik kembali menulis di diary. Lebih aman, karena Facebook dan Instagram, walau pun bisa dijadikan privasi, tetap saja pihak mereka tetap bisa mengakses data pribadi kita. 

No comments:

Post a Comment