Pages

Monday, 29 January 2018

Alasan Mengapa Ide Menulis Terkunci

Alasan Mengapa Ide Menulis Terkunci
Moan-Day! Hoaaaahm …. Sekarang saya ingin memotivasi diri sendiri atau bisa jadi orang lain yang ikut membaca tulisan saya. Iya, kamu. Yang sekarang sedang membaca deretan kata membosankan ini. 

Menjadi seorang penulis itu kadang mengalami kejenuhan, atau mentok di ide yang ingin dituliskan. Tahukah kamu penyebabnya apa? Kalau dijawab, mungkin setiap orang memiliki pendapat berbeda-beda. Entah karena kesibukan, labil, sakit, dan lainnya. Namun saya punya alasan kenapa ide menulis terkunci dan agar kamu bisa menghindarinya. Let’s check ‘em out! 

1. Absen sehari, ketagihan berkali-kali 

Oh, jangan remehkan alasan pertama ini. Karena  satu alasan, bisa melahirkan alasan-alasan lain yang menarikmu berada di zona nyaman. Karena lelah menulis, bisa jadi kamu ingin minta cuti sehari, (Ya kale, ini pabrik, pake acara cuti segala) menenangkan pikiran dan me-refresh ide. Sayangnya, hal ini justru celah kamu menjadi mager (malas gerak) untuk menulis. Walaupun ada ide di dalam kepala, namun terlanjur merasa dalam edisi cuti kamu jadi enggan menyentuh perangkat tulis-menulis. Alhasil ide yang tadinya muncul di kepala mulai hilang, dan tergantikan dengan kenyamanan untuk tidak menulis. 


Maka hindarilah jika memiliki pikiran untuk absen menulis walau hanya sehari, usahakan tetap konsisten menulis. Walau pun di kepala tidak ada ide untuk menulis, tapi tuliskanlah apa saja yang terlintas di kepala. Ya misal ide “Tidak Ada Ide Menulis” kan itu pun bisa jadi objek tulisan. Haha. Yang penting ingat, absen sehari bisa memutus kunci ide menulis. 

2. Malas Baca

Bacalah! Dalam surat Al-Alaq ayat satu.
Itu artinya membaca itu prioritas. Bagaimana mungkin kamu bisa mendapatkan ide untuk menulis jika membaca saja malas. Membaca tak harus selalu berupa tulisan dalam buku, blog, atau artikel. Namun bisa juga dengan membaca kondisi sekitar. Karena membaca itu bermakna memahami agar mengerti. Meski yang ada di sekitar kita itu dinding, dapur, kebun, bahkan apa yang ada pada diri kita pun bisa dijadikan bahan bacaan (red : perenungan) agar akal kita mengelola apa yang bisa dijadikan informasi/ide untuk dijadikan tulisan.

Baca juga : Untuk Siapa Kita Membaca?


Jadi mulailah rajin membaca, dari mulai bacaan ringan sampai edisi berat sehingga otak pun terlatih untuk bergerak cepat mengumpulkan ide. 

3. Niat Berlenggok 

Biasanya banyak di antara kita menulis hanya karena ingin menjadapat royalti, sertifikat, atau atensi dari para pembaca. Luruskan niat bahwa menulis itu tidak harus selalu untuk orang lain. Namun bagian dari diri kita yang harus dijadikan kebiasaan seorang muslim. Tahu nggak, Imam Bukhari dan Muslim menulis kitab hadits, meski pun mereka tidak pernah tahu bahwa hari ini kitab-kitab itu menjadi rujukan ilmu, dicetak dan dijual, mereka tak peduli atensi manusia. Walau pun tak ada royalti atau apresiasi manusia. 

Mereka gigih menulis kitab semata-mata karena dorongan kewajiban menuntut ilmu. Karena apa yang kita tulis adalah bukti dari ilmu diri yang tertatih mengumpulkan ilmu Allah. Itulah, walau tak ada pembaca, tak ada pengikut, tak ada komentar, tak ada royalti, atau apapun dari manusia dan materi dunia, tetaplah menulis semata-mata karena kita tahu pentingnya mencatat ilmu. Tahu bahwa dengan menulis bisa menjadi ladang kita mengumpulkan ilmu Allah. Karena ilmu itu tak harus berupa materi eksak, seperti matematika, fisika, dll. Namun pendapat yang muncul di kepala kita pun adalah inspirasi dari ilmu-Nya. Jadi menulislah karena-Nya, karena ingin mengumpulkan ceceran ide yang jika disimpan di kepala akan mudah hilang karena manusia bersifat pelupa. 

Note : Menulislah di pagi hari agar kepala masih segar walau dapat idenya hasil berpikir kemarin.


Baca Juga : Catatan Alasan Memutuskan Meninggalkan Facebook dan Instagram 



No comments:

Post a Comment