Pages

Sunday, 8 May 2016

My Adorable Kein


“Satu roti tawar, dan lima roti isi cokelat,” ucapku sambil menyerahkan pesanan Bibi Anna.

“Dan ini bagianmu, ambil kembaliannya.” Bibi Anna menyerahkan selembar uang bernilai seratus ribu rupiah.

“Wah, terima kasih. Mimpi apa aku semalam? Tapi, ini terlalu banyak.” Merasa tak nyaman aku pun mencoba memberikan uang kembalian.

“Tak apa. Aku senang memberimu. Ini jarang-jarang, kan?” Perempuan separuh baya itu tersenyum dan berjalan sambil melambai ke arahku. “Dua hari lagi jangan lupa antar seperti biasa, jangan telat ya?” Senyum merekah dari wajahnya.

“Baiklah, sampai jumpa.” Aku pun kembali mengayuh sepeda dengan beberapa roti di keranjang depan yang belum selesai diantar.

Rutinitas ini sudah kujalankan selama setahun. Selain pengalaman, koneksi dengan pelanggan juga menjadi hal yang menyenangkan. Walau terkadang, beberapa dari mereka sering mengeluh karena aku salah menyerahkan roti pesanannya.

Aku menarik rem sepeda dengan sekaligus, hampir saja seseorang tertabrak olehku. Seorang laki-laki berdiri memegang dada sembari menghela napas.


“Maaf, maaf. Saya buru-buru,” ucapku sambil turun dari sepeda yang kustandarkan.

“Ra?” Lelaki di hadapanku menyebut sebuah nama.

“Hah?” Refleks mulutku menjawab. Lalu kututup mulut dengan telapak tangan.

“Zirra, kan?” tanyanya penuh selidik.

“I-iya. Siapa, ya?” Kuangkat sebelah alis.

“Ini Kein!” Nada suaranya ditekan.

Aku membalikkan badan membelakangi lelaki yang tadi bertanya. Menelungkupkan telapak tangan ke mukaku. Oh my god. Aku bukan lupa, tapi aku ingat kalau dia senior yang aku suka dulu saat SMA. Can i fly or melt here? He’s looked different! More handsome and gently. Aku kembali membalikkan badan padanya. Pura-pura lupa dan sebagainya.

“Ah, Kein? Maaf, tapi saya benar-benar kurang ingat.” Hey, I’m lied. Really. Memang aku ini pelupa, dan terkadang salah dalam memberikan pesanan pelanggan karena lupa tak langsung dicatat. Tapi kali ini, aku ingat. Seratus persen. How could i forget about him? No! Aku memasang wajah yang seakan sedang mengingat-ingat.

“Ah, maaf. Aku berada satu tingkat di atasmu waktu SMA. Tapi dulu kita pernah satu team work saat menyelesaikan kepanitiaan perpisahan.” Kein mencoba mengingatkan.

“Ah, ya ya ya. Saya ingat. Tapi, maaf Kein. Saya harus mengantar sisa roti-roti ini.” What the hell i just said? Aku masih ingin berlama-lama dengan Kein. Aku tersenyum dengan agak dipaksa.

“Ah, ya. Silakan. Maaf sudah menahanmu.” Kein tersenyum, kedua matanya berbinar.

Aku kembali menaiki sepeda dan mulai mengayuh menjauhinya. Hatiku tak karuan, sampai tak sadar aku berteriak sambil terus mengayuh sepeda.

***

Hari ini entah kenapa sejak tadi pagi belum juga ada pelanggan yang mampir ke toko. Apa ini hari libur dan aku salah masuk hari kerja? Untuk menghilangkan kebosanan, seperti biasa buku yang menjadi bagian dari teman menunggu.

Baru lima menit, mataku sudah mulai lelah melihat tulisan pada buku yang kubaca. Rasa kantuk mulai menyergap. Beberapa menit kemudian seseorang yang kukenal masuk ke dalam toko. Meminta waktu untuk berbicara. Di sebuah taman istirahat, ada dua kursi. Kami duduk di sana dan memulai percakapan.

“Kita bertemu lagi, Ra,” ucap laki-laki yang belum lama ini sempat kutemui.

Aku menjawab dengan anggukan dan senyuman. Ada sesuatu yang aneh, tapi entah apa. Suasana yang tak biasa.

“Aku sengaja datang menemuimu, ada hal yang ingin aku sampaikan.”

Aku tak berani menatap wajah yang berbicara di hadapanku ini, hanya suaranya yang lantang namun lembut itu yang terdengar.

“Aku ingin menemui orangtuamu untuk melamar…,”

Tiba-tiba suara lonceng berbunyi dan pintu toko dibuka. Aku mengangkat kepala, mengerjapkan kedua mata yang seakan rapat dilem. Ah, sial. Aku kira tadi itu nyata.

“Tolong bungkuskan dua roti pisang, dan satu roti isi keju.” Seorang pelanggan meminta.

Aku segera membungkus pesanan, satu pelanggan keluar dan toko kembali sepi. Kulihat buku yang terbuka. Lembar pada buku sedikit basah. Aku mengusap muka dengan kedua telapak tangan lalu pergi ke wastafel untuk mencuci muka.

Belum sempat kukeringkan muka dengan handuk, suara lonceng yang digantungkan dipintu berbunyi lagi.

“Selamat da-tang,” ucapku terkesima lalu menelan ludah. “Ah, Kein! Ada apa kau ke sini?” Buru-buru aku mengambil handuk dan mengelap muka yang basah.

“Membeli roti. Aku  tak mengira kita bisa bertemu lagi. Jadi ini tempatmu bekerja, Ra.” Kein tersenyum lebar.

Aku kembali ke belakang mesin kasir setelah meletakkan handuk kembali ke asalnya.

“Ya, aku sudah setahun bekerja di sini. Jadi, mau pesan roti apa?” Meski benar-benar terkejut tapi aku mencoba bersikap sewajarnya. Ya, wajar. Aku mencubit tanganku sendiri yang tersembunyi di balik meja kasir. Sakit, jelas ini bukan mimpi seperti tadi.

“Tiga roti isi keju dan dua isi cokelat.”

Aku segera membungkuskan pesanannya. Kein segera mengambil dompet dan membayar.

“Boleh bertanya selain memesan roti?” Nada suara Kein sedikit ragu.

“Mmm, ya.” Jantungku berdegup kencang.

“Boleh aku numpang ke toilet sebentar?” Wajah Kein bersemu merah.

“Oh, ya. Silakan.” Aku menahan tawa, bukan ingin menertawakan Kein. But what I’ve been thingking.

Kein berlalu menuju toilet yang kuarahkan. Aku terduduk lemas di kursi belakang kasir lalu menenggelamkan muka ke meja.


To be continued…

By : D.Lc

No comments:

Post a Comment