“Satu roti tawar, dan lima roti isi cokelat,” ucapku sambil menyerahkan pesanan Bibi Anna.
“Dan ini bagianmu, ambil kembaliannya.” Bibi Anna menyerahkan selembar uang bernilai seratus ribu rupiah.
“Wah, terima kasih. Mimpi apa aku semalam? Tapi, ini terlalu banyak.” Merasa tak nyaman aku pun mencoba memberikan uang kembalian.
“Tak apa. Aku senang memberimu. Ini jarang-jarang, kan?” Perempuan separuh baya itu tersenyum dan berjalan sambil melambai ke arahku. “Dua hari lagi jangan lupa antar seperti biasa, jangan telat ya?” Senyum merekah dari wajahnya.
“Baiklah, sampai jumpa.” Aku pun kembali mengayuh sepeda dengan beberapa roti di keranjang depan yang belum selesai diantar.
Rutinitas ini sudah kujalankan selama setahun. Selain pengalaman, koneksi dengan pelanggan juga menjadi hal yang menyenangkan. Walau terkadang, beberapa dari mereka sering mengeluh karena aku salah menyerahkan roti pesanannya.
Aku menarik rem sepeda dengan sekaligus, hampir saja seseorang tertabrak olehku. Seorang laki-laki berdiri memegang dada sembari menghela napas.
