Pages

Friday, 13 February 2015

Udah Putusin Aja

Diikutkan dalam lomba menulis disebuah grup

Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Berawal dari rasa kagum terhadap seorang teman, akhirnya aku memutuskan untuk berkerudung permanen, setelah sebelumnya aku hanya menggunakan kerudung saat-saat tertentu saja. Meski hanya memiliki beberapa lembar kerudung, tak menjadi masalah besar buatku. Aku tetap berusaha menutup aurat, walau belum bisa disebut berhijab syar’i.

Berhijab bukan berarti tak boleh pacaran, kan? Itu pemahamanku saat memasuki Madrasah Aliyah (MA), setingkat SMA. Aktivitas pacaran masih aku jalani. Ah, masa labil memang merasuki jiwa-jiwa anak muda yang belum mengenal islam secara menyeluruh. Suatu hari aku mendapatkan sebuah pesan singkat, “Laa taqrabu zina, Inahu kaana Faahisyah wa saa-a sabila; jangan mendekati zina, sesungguhnya ia (zina) adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” Apa maksud dari pesan itu? menuduhku berzina? Padahal aku sama sekali tidak pernah berhubungan layaknya suami-istri, aku tidak pernah menggadaikan harga diriku. Toh, aku hanya pacaran yang saling memotivasi satu sama lain agar sama-sama berprestasi. Huh, aku tidak bisa menyembunyikan kekesalan, dan hasilnya adalah aku tidak mau menghubungi si ‘pengirim’ pesan itu lagi.

Siklus pacaran selalu kualami, PDKT-jadian-romantis-berantem-putus. Kalau dipikirkan, hal itu memang membosankan. Kelas dua MA, aku memutuskan untuk tidak berpacaran karena sudah terlalu sering sakit hati, ceritanya. Bukan karena aku mengerti bahwa pacaran itu dilarang agama lho. Selepas MA, aku melanjutkan pendidikan satu tahun di satu lembaga tertentu. Niatku, aku sampaikan pada wali kelasku. Dan beliau mengingatkan, “disitu harus pake gamis loh, terus kerudungnya panjang-panjang.” Bukannya mundur, aku malah tertarik. Hatiku selalu ingin berpenampilan seperti ‘mereka’ yang benar-benar berhijab syar’i. Aku melangkah pasti, mendaftar dan akhirnya tersesat.

Hari pertama, yang jika ditempat lain mahasiswa itu selalu mendapatkan “bullying”, berbeda halnya dengan ‘kami’ yang mendapatkan ilmu baru. Cara berpakaian sesuai syari’at, pengenalan tentang jilbab dan khimar. Ternyata kedua kata itu berbeda, jilbab adalah yang selama ini aku sebut gamis, dan khimar itu kerudung. Tidak boleh tipis, ketat, dan harus menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sulit, awalnya hanya punya tiga potong jilbab dan beberapa khimar yang kugunakan bergantian setiap harinya. Itu pun, pakaian yang tidak memiliki ‘style’ seperti kebanyakan set jilbab masa kini. 

Selain itu, pemahamanku bertambah bahwa menutup aurat berarti kita juga harus menutup pintu maksiat yang lain, termasuk pacaran dibahas saat itu. Allah, aku merasa semakin mengenal-Mu.

Sekarang, aku tahu bahwa memutuskan untuk menutup aurat itu berarti memutuskan tali-tali maksiat kepada Allah dan memanjangkan taat kepada-Nya. Lebih baik mengenal-Nya terlebih dahulu sebelum mengenal seseorang yang tak halal bagiku. Udah putusin aja! Putuskan untuk menutup aurat dan putuskan pacarmu. 

Cileungsi, Bogor-Indonesia
13 feb 2015

No comments:

Post a Comment