Pages

Friday, 6 February 2015

Kejahatan Merajalela, Apakah Demokrasi Pelindung Sejati?

Kejahatan Merajalela, Apakah Demokrasi Pelindung Sejati?

Hasil survei The Economist Intellegence Unit (EIU) menyebutkan Jakarta menjadi kota paling tidak aman di dunia. Kejahatan jalanan dan tindak kriminal di Ibu Kota masih tinggi, bahkan disertai dengan pembunuhan

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Unggung Cahyono, mengimbau warga terutama pengendara sepeda motor mempersenjatai diri dengan alat kejut listrik. "Kita harap pengendara motor bisa menggunakan alat listrik kejut atau alat lainnya untuk membela diri atau berjaga-jaga." kata Unggung, di Polda Metro Jaya, Rabu (4/2/2015). Metrotvnews.com


Wow? Bukankah itu luar dari biasa? Saya tidak menyangka bahwa Jakarta memiliki stigma negatif sebagai kota paling tidak aman di dunia. Perlu ditekankan bahwa bukan hanya kota Jakarta saja, melainkan juga wilayah lain yang berada di Indonesia. Miris memang mendengarnya. Padahal Indonesia dari dulu terkenal dengan keramahtamahan penduduknya, budayanya yang beraneka ragam menjadi sorotan dunia, dan sukunya yang bermacam-macam membuat Indonesia ini semakin kaya. Tapi, kenapa Indonesia masuk nominasi sebagai negara yang paling tidak aman di dunia.


Benar lah memang apa yang diberitakan metrotvnews.com, karena kita sadari pula bahwa hampir setiap hari kotak hitam yang bernama televisi menayangkan berita kriminalitas di negeri ini. Mulai dari pencurian, teror, pemerkosaan (maaf), penganiayaan, penculikan, narkoba, korupsi, pembunuhan dan tindakan kriminal lainnya yang sangat meresahkan warga. Sebenarnya mereka yang melakukan tindakan kriminal juga termasuk dari warga Indonesia. Tapi saya herean kenapa mereka tidak merasa takut dengan hukuman yang diberlakukan di negara ini. Apa yang salah? Saya rasa bukan salah ibu mengandung. Hehe

Apakah alat kejut listrik itu akan menjadi barang efektif untuk menghentikan kejahatan yang ada. Bagaimana jika ternyata barang seperti itu malah memberi peluang seseorang menggunakannya untuk tujuan kejahatan pula. Sebenarnya ini adalah tanggungjawab negara untuk menjaga, melindung, dan menaungi rakyatnya dalam keamanan.

Sejatinya, manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah. Maka Allah sudah menyediakan bersamanya sepaket hukum untuk mengatur kehidupannya. Hanya saja, manusia terlalu sombong dan merasa dirinya pintar sehingga ingin mengatur kehidupannya dengan hukum buatan tangannya sendiri. Apakah memang sombong atau bodoh yang keterlaluan.

Demokrasi yang diterapkan di negara ini merupakan hukum ciptaan manusia. Lha? cung (angkat tangan) yang merasa hukum ini bukan buatan manusia? Sudah kita pelajari bahwa demokrasi berasal dari Yunani, (saya tidak ingin mengupas habis tentang demokrasi sekarang). jelas memang apa pun yang di buat oleh manusia pasti akan memiliki banyak kekurangan. Hukum yang dilahirkan oleh demokrasi pun sangat tidak tegas, bertabrakan, dan tidak adil.

Menilik setiap kasus kriminalitas yang terjadi baik di Indonesia atau di luar negeri sekalipun, tidak akan pernah tuntas karena hukumnya tidak jelas dan tidak tegas. Hukuman yang dilahirkna oleh demokrasi terhadap kasus pembunuhan yang disengaja, misalnya. Alih-alih menyelesaikan masalah, hal ini malah membuat seseorang yang 'kesetanan' semakin mudah untuk menghilangkan nyawa orang lain secara tidak 'hak'. Tidak ada efek jera yang diberikan terhadap tersangka jika hanya dikurung beberapa tahun. Para penjahat pun akan memandang 'lucu' hukuman yang diberikan dan tidak ada rasa takut melakukan kejahatan yang lebih sadis karena tidak ada hukuman yang membuatnya 'ngeri'. Dan hukuman tersebut juga tidak akan memberikan rasa keadilan terhadap keluarga korban yang tidak bisa memaafkan. Itu adalah salah satu contoh kasusnya.

Manusia berasal dari Allah, diciptakan oleh Allah, maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk berpegang pada hukum Allah, dan bukan yang lain. Karena agama Allah SWT telah diturunkan secara sempurna untuk mengatur kehidupan makhluk.

"Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Q.S Al-Maidah [5] : 50

Masihkah demokrasi diharapkan untuk menyelesaikan masalah dibumi? masihkan demokrasi diharapkan menjadi pelindung warga dari kejahatan yang merajalela?

Saya kembalikan semua kepada anda untuk berpikir!!!


Dinda Lindia Cahyani
Cileungsi, Bogor-Indonesia
06.02.15



No comments:

Post a Comment