Pages

Sunday, 8 February 2015

Pesan Tersembunyi



Oleh : Dinda Lindia Cahyani

Karla lari tergopoh-gopoh, memaksa pintu terbuka dan langsung masuk ke kamarnya. Mengobrak-abrik seluruh ruangan. Karla hanya bisa menelan ludah, tubuhnya lunglai. Sobekan kertas yang berisi pesan itu kini hilang.

“Kau mencari ini?” Suara tegas mengagetkannya dari arah belakang.
“Rossi, kau menemukannya. Apa kau membaca isi pesan itu?”. Sebenarnya Karla tidak perlu bertanya pada Rossi, karena dari nada Rossi saja sudah jelas bahwa ia sedang menahan amarah. Rossi hanya menatap tajam ke arah Karla. Pandangannya meminta sebuah penjelasan.

“Rossi, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Percayalah!” Karla mendekat dan mencoba menggenggam kedua tangan Rossi. Namun, Rossi mengibaskan tangannya dengan kasar. Tatapan Rossi mencemooh, nafasnya mendengus disusul dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.

“Aku terlalu mempercayaimu, dan inilah hasilnya. Kau tak ubahnya seperti teman yang menusukku dari belakang. Kau tahu, aku mencintainya. Pantas saja selama ini kau mencoba menjauhkanku dari San, alih-alih kau meminjam istilah agama bahwa aku belum halal untuknya. Tapi, kau sendiri yang mendekati San.” Karla menunduk, tak mampu menahan sakit atas tuduhan yang terlontar dari mulut sahabat baiknya, Rossi.


Rossi melemparkan kertas yang digenggamnya ke arah Karla. “Aku tidak ingin melihatmu di ruangan ini lagi ketika aku kembali pukul delapan malam ini.” Rossi berlalu meninggalkan setumpuk luka dalam hati Karla. Sungguh, Karla tidak pernah bermaksud merebut perhatian San. Tulisan yang tersurat pada robekan kertas itu ditatapnya. Matanya berkaca membaca sebuah tulisan “Karla, aku akan mendatangi walimu untuk mengkhitbahmu. San Muslim.” 

08.02.15

No comments:

Post a Comment