Oleh : Dinda Lindia Cahyani
Karla lari tergopoh-gopoh,
memaksa pintu terbuka dan langsung masuk ke kamarnya. Mengobrak-abrik seluruh
ruangan. Karla hanya bisa menelan ludah, tubuhnya lunglai. Sobekan kertas yang
berisi pesan itu kini hilang.
“Kau mencari ini?” Suara tegas
mengagetkannya dari arah belakang.
“Rossi, kau menemukannya. Apa kau
membaca isi pesan itu?”. Sebenarnya Karla tidak perlu bertanya pada Rossi,
karena dari nada Rossi saja sudah jelas bahwa ia sedang menahan amarah. Rossi
hanya menatap tajam ke arah Karla. Pandangannya meminta sebuah penjelasan.
“Rossi, ini tidak seperti yang
kau pikirkan. Percayalah!” Karla mendekat dan mencoba menggenggam kedua tangan
Rossi. Namun, Rossi mengibaskan tangannya dengan kasar. Tatapan Rossi
mencemooh, nafasnya mendengus disusul dengan senyum sinis tersungging di
bibirnya.
“Aku terlalu mempercayaimu, dan
inilah hasilnya. Kau tak ubahnya seperti teman yang menusukku dari belakang. Kau
tahu, aku mencintainya. Pantas saja selama ini kau mencoba menjauhkanku dari
San, alih-alih kau meminjam istilah agama bahwa aku belum halal untuknya. Tapi,
kau sendiri yang mendekati San.” Karla menunduk, tak mampu menahan sakit atas
tuduhan yang terlontar dari mulut sahabat baiknya, Rossi.
Rossi melemparkan kertas yang
digenggamnya ke arah Karla. “Aku tidak ingin melihatmu di ruangan ini lagi
ketika aku kembali pukul delapan malam ini.” Rossi berlalu meninggalkan
setumpuk luka dalam hati Karla. Sungguh, Karla tidak pernah bermaksud merebut
perhatian San. Tulisan yang tersurat pada robekan kertas itu ditatapnya. Matanya
berkaca membaca sebuah tulisan “Karla, aku akan mendatangi walimu untuk
mengkhitbahmu. San Muslim.”
08.02.15
No comments:
Post a Comment