Oleh : Dinda Lc (bukan lulusan cairo yo)
Hoaaahm. "Wah, air minum habis!" ucapku dalam hati. Pagi jadi sepet gini.
Sebenarnya sudah dari malam sadar akan hal tersebut, tapi toh malam hari malas keluar rumah, pun malas hanya untuk sekadar membukakan pintu untuk pengantar air galon. Biasanya 'delivery service'.
"Lari yuk?" Temanku Refni ketagihan setelah kemarin kuajak dia 'jogging' pagi di sekitar perumahan GNI.
"Yuk!"
***
Capek!! Gini nih, kalau gak biasa berolahraga. Digerakkan sedikit saja badan sudah menggerutu. Padahal ada pepatah "mensana incorporesano" (bener gak tuh nulisnya) yang artinya dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Sebenarnya aye kagak ngerti maknanya. Lanjoot.
"Eh, di rumah sudah tak ada air minum," sahutku pada Refni yang asik memainkan ponsel androidnya.
"Oh iya, beli pakai uang pribadi aja dulu."
Memang jatah air minum kita disediakan oleh kantor. Dua galon per minggu untuk lima orang. Kalau sebelum tempo sudah habis, kantor tetap membelikan. Hanya, sekarang libur, 30 ribu harus keluar dari saku pribadi. Tak apa nanti juga diganti. Asik, kan gue? hahah.
Libur oh libur. Malas masak setelah capek berolahraga. Sarapan instan ya dengan membeli bubur.
"Eh, di rumah kagak ada air. Kita bungkus aja nih air minum gratis." Ide dari si otak kepepet muncul saat kita sedang melahap bubur.
"Halah, kagak bawa Tuppy. Ya udah abis makan, minum aja yang banyak buat persediaan," ucapku jenius.
"Jadi kaya unta," sambungku.
Kami berdua tersenyum menyeringai. Ide jahat? Bukan, itu ide konyol. Hahah.
Bogor
04.04.15
No comments:
Post a Comment