Pages

Monday, 5 March 2018

Berhenti Memaksa Anakmu Bercita-cita

Ilustrasi  : http://www.seputaranak.com/2017/06/perlukah-memaksa-anak-ikut-les-dan.html


Seiringnya perkembangan zaman, profesi di dunia ini beraneka ragam. Petani, dokter, aktris, pesulap, penulis, gubernur, presiden, menteri, guru, pedagang, dan lainnya yang tak terhitung jumlahnya.

Namun ada beberapa profesi yang dipandang sebelah mata dan tak menjadi rebutan para pemuda, justru cenderung dijauhi. Baik itu pemulung, tukang sol sepatu dan lain sebagainya. Karena dianggap profesi tersebut tidak menghasilkan banyak uang, terlihat rendah di mata masyarakat karena tak bertingkat tinggi seperti profesi lainnya.


Hal ini berhubungan dengan defini kesuksesan di mata masyarakat yang hanya dilihat dari melimpahnya materi dunia. Tak terkecuali orang yang mengaku beragama islam pun memiliki alat ukur yang berupa sertifikat dan kekayaan semata. Padahal sudah jelas dalam hadits disebutkan bahwa :

Dari Abu Hurairah  ia berkata, Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, apapun yang dilakukan manusia di dunia harus sesuai dengan kehendak Pencipta. Dalam Islam yang menjadi tolak ukur dalam sebuah pekerjaan bukanlah seberapa besar gaji yang didapatkan. Melainkan apakah pekerjaan tersebut halal atau haram. Maka itulah yang dilihat Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya.

Dewasa ini, keluarga muslim tidak luput dari pengaruh nilai-nilai yang Barat tanamkan. Yaitu menjadi budak modernisasi dunia. Yang berjas dan berdasi, berseragam resmi dianggap lebih terhormat. Sehingga para keluarga muslim mendorong anak-anaknya untuk bercita-cita dan berprofesi tinggi. Sehingga bisa mengangkat derajat keluarga dengan didapatnya kekayaan dari profesi yang diharapkan. Mungkin hanya sedikit keluarga muslim yang mengajarkan anaknya untuk tidak mencintai dunia dan hidup sederhana, untuk bersabar dikala kemiskinan melanda, justru orangtua malah mendorong anaknya untuk menjadi kaya agar tak sama nasib dengan sang orangtua yang menderita karena miskin.

Memang Islam tak melarang untuk menjadi ilmuwan dan profesi berjas dan seragam resmi. Namun jangan terkecoh dengan sistem kapitalis yang hanya bangga dengan sertifikat dan gaji melangit. Untuk apa menjadi petinggi negara jika lupa pada rakyatnya? Untuk apa jadi dokter jika hanya bangga dengan jas putihnya? Untuk apa semua harta yang didapat jika malas bersujud kepada-Nya?

Maka jangan memaksa anak-anak untuk bercita-cita menjadi ini dan itu. Tapi berikanlah pengetahuan akidah islam secara menyeluruh, ilmu-ilmu secara mumpuni, dan izinkan anak-anak memilih profesi. Seandainya dia memilih untuk menjadi penggembala di tengah lembah, maka hargai keputusannya. Karena yang penting adalah jiwanya mengerti untuk terikat perjanjian sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala dari pada menjadi mesin untuk memperoleh kesuksesan dunia yang semu di bawah telunjuk berhala manusia.

No comments:

Post a Comment