![]() |
| Ilustrasi : http://www.seputaranak.com/2017/06/perlukah-memaksa-anak-ikut-les-dan.html |
Seiringnya perkembangan zaman, profesi di dunia ini beraneka
ragam. Petani, dokter, aktris, pesulap, penulis, gubernur, presiden, menteri,
guru, pedagang, dan lainnya yang tak terhitung jumlahnya.
Namun ada beberapa profesi yang dipandang sebelah mata dan tak menjadi rebutan para pemuda, justru cenderung dijauhi. Baik itu pemulung, tukang sol sepatu dan lain sebagainya. Karena dianggap profesi tersebut tidak menghasilkan banyak uang, terlihat rendah di mata masyarakat karena tak bertingkat tinggi seperti profesi lainnya.
Namun ada beberapa profesi yang dipandang sebelah mata dan tak menjadi rebutan para pemuda, justru cenderung dijauhi. Baik itu pemulung, tukang sol sepatu dan lain sebagainya. Karena dianggap profesi tersebut tidak menghasilkan banyak uang, terlihat rendah di mata masyarakat karena tak bertingkat tinggi seperti profesi lainnya.
Hal ini berhubungan dengan defini kesuksesan di mata masyarakat
yang hanya dilihat dari melimpahnya materi dunia. Tak terkecuali orang yang
mengaku beragama islam pun memiliki alat ukur yang berupa sertifikat dan
kekayaan semata. Padahal sudah jelas dalam hadits disebutkan bahwa :
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan
tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR.
Muslim)
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, apapun yang
dilakukan manusia di dunia harus sesuai dengan kehendak Pencipta. Dalam Islam
yang menjadi tolak ukur dalam sebuah pekerjaan bukanlah seberapa besar gaji
yang didapatkan. Melainkan apakah pekerjaan tersebut halal atau haram. Maka
itulah yang dilihat Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya.
Dewasa ini, keluarga muslim tidak luput dari pengaruh nilai-nilai
yang Barat tanamkan. Yaitu menjadi budak modernisasi dunia. Yang berjas
dan berdasi, berseragam resmi dianggap lebih terhormat. Sehingga para keluarga
muslim mendorong anak-anaknya untuk bercita-cita dan berprofesi tinggi.
Sehingga bisa mengangkat derajat keluarga dengan didapatnya kekayaan dari
profesi yang diharapkan. Mungkin hanya sedikit keluarga muslim yang mengajarkan
anaknya untuk tidak mencintai dunia dan hidup sederhana, untuk bersabar dikala
kemiskinan melanda, justru orangtua malah mendorong anaknya untuk menjadi kaya
agar tak sama nasib dengan sang orangtua yang menderita karena miskin.
Memang Islam tak melarang untuk menjadi ilmuwan dan profesi berjas
dan seragam resmi. Namun jangan terkecoh dengan sistem kapitalis yang hanya
bangga dengan sertifikat dan gaji melangit. Untuk apa menjadi petinggi negara
jika lupa pada rakyatnya? Untuk apa jadi dokter jika hanya bangga dengan jas
putihnya? Untuk apa semua harta yang didapat jika malas bersujud kepada-Nya?
Maka jangan memaksa anak-anak untuk bercita-cita menjadi ini dan
itu. Tapi berikanlah pengetahuan akidah islam secara menyeluruh, ilmu-ilmu
secara mumpuni, dan izinkan anak-anak memilih profesi. Seandainya dia memilih
untuk menjadi penggembala di tengah lembah, maka hargai keputusannya. Karena
yang penting adalah jiwanya mengerti untuk terikat perjanjian sebagai hamba
Allah subhanahu wa ta’ala dari pada menjadi mesin untuk memperoleh kesuksesan
dunia yang semu di bawah telunjuk berhala manusia.

No comments:
Post a Comment