Pages

Friday, 20 June 2014

Mencinta Dengan Perbedaan


Suatu masa mempertemukan seorang laki-laki dan perempuan. Keduanya saling mencintai apa adanya. Namun ternyata cinta pun belum bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan dengan alasan terhalang jarak, waktu, budaya, negara, bahasa dan orangtua laki-laki itu pun tidak menyetujui cinta mereka. keduanya sempat menangis karena menahan perasaannya. Tapi akhirnya mereka sadar Allah lebih tahu apa yang sedang terjadi atas keduanya.

Menyikapi hal di atas, saya tidak bisa menyalahkan orangtua mereka atau siapapun. Allah menciptakan perbedaan bukan untuk saling mendeskriminasikan sesama. Jika sesama muslim maka harus saling memudahkan dan tidak mempersulit. Orangtua yang baik adalah tidak hanya memandang perbedaan itu. Tetapi bisa menghargai apa yang anaknya putuskan untuk masa depannya. Tidak memaksa ego sendiri kepada anaknya. Bukankah orang dewasa sudah bisa memutuskan sendiri tindakannya?.
Allah menciptakan cinta bukan untuk saling melukai. Tetapi anugrah untuk saling melindungi dan menjaga satu sama lain. Perempuan adalah makhluk yang paling mudah tersentuh hatinya. Baik dengan rasa sakit atau rasa lainnya. Oleh karena itu, Jangan memberikan harapan kepada perempuan bahwa engkau mencintainya karena Allah tapi engkau tak mau berusaha untuk menyatukan cinta dalam ikatan yang halal.
Membicarakan masalah perbedaan. Allah tidak melihat manusia atas perbedaan harta, rupa, dan derajat. Karena Allah hanya melihat manusia atas dasar ketakwaannya. Mencintai seorang hamba Allah tidak lah salah, meskipun berbeda budaya, negara dan bahasa. Karena Allah menciptakan itu semua agar kita saling mengenal satu sama lain.
Belajar untuk mencintai perbedaan akan membukan pandangan kita bahwa kita makhluk yang dititipkan atas perbedaan itu. Maka perbedaan bukan suatu penghalang kedua hamba Allah untuk bersatu ikatan suci pernikahan. Tidak ada yang sempurna kecuali Allah, maka kita harus bisa saling melengkapi satu sama lain dan bersyukur atas perbedaan yang Allah ciptakan.
Wallahu a'lam bishowab

Dinda Lindia Cahyani