![]() |
| Mengakui Kesalahan - Google Galery |
Oleh : Dinda L Cahyani
Di depan sebuah rumah,
seorang anak terisak. Perempuan setengah baya yang sedang menyapu di tengah
rumah itu menghampirinya. Ternyata anaknya, Ardi, yang berusia lima tahun
menangis tersedu-sedu sambil berjongkok memeluk lutut.
“Ardi, kenapa sayang?”
Ia tetap menangis dan
tak mengacuhkan ibunya. Perempuan itu ikut berjongkok lalu mencoba membangunkan
Ardi dan memeluknya.
“Cup, cup, cup, sini.
Kenapa anak Ibu nangis?”
Ardi merangkul erat ibunya
sambil terisak ia mengadu, “Bu, tadi Ardi tak sengaja merusakkan mainan Didi.”
“Kamu sudah minta
maaf?” tanya ibunya tanpa melepaskan pelukan.
Dari gerakan kepala
Ardi, perempuan itu tahu bahwa anaknya belum sempat meminta maaf. Dengan
perlahan ia melepaskan Ardi dari pelukan dan menatap bola mata anaknya yang
bening.
“Ibu antar untuk minta
maaf ya?”
Ardi menggeleng.
“Loh, kok gitu?”
“Allah saja Maha
Pemaaf, memangnya Ardi tidak mau dapat pahala dari Allah?”
Anak itu hanya
bergeming.
“Kalau begitu, lebih
baik kita telepon Ayah biar Ardi bisa langsung minta tolong sama Ayah untuk
mengganti mainan teman Ardi yang rusak. Gimana?”
Ardi mengangguk penuh
semangat. Lalu ibunya mengambil ponsel genggam dan menekan nomor tujuan.
Setelah panggilan tersambung ia memberitahu perihal Ardi. Lalu menyerahkan
ponsel genggam tersebut pada anaknya.
“Assalamualaikum Ardi.”
“Waalaikumsalam, Ayah.”
Wajah Ardi berubah cerah saat mendengar suara Ayahnya dari seberang. “Ayah,
Ardi gak sengaja ngerusak mainan Didi. Ardi mau minta maaf tapi tadi Didi
keburu nangis.” Raut muka Ardi kembali mendung.
Namun Ayah berjanji
akan mengganti mainan teman Ardi, dan anak itu pun berjanji akan meminta maaf.
“Ibu, kalau Ayah pulang
bawa ganti mainan Didi, Ardi akan segera minta maaf dan Ardi pun bisa dapat
pahala dari Allah. Iyakan, Bu?”
Ibunya hanya mengangguk
dan tersenyum melihat Ardi yang antusias lagi untuk mengakui kesalahan dan
meminta maaf.
TAMAT
Bekasi, 17 Agustus 2015
M / 2 Dzulqa’idah 1436 H
Tulisan ini diikutkan dalam GA yang diadakan kaylamubara.blogspot.com bekerja sama dengan LovRinz Publishing.

Anak-anak jarang juga mau mengakui kesalahan mereka. Anak saya juga kadang kalau suruh minta maaf malah teriak, "Enggak mau!"
ReplyDeletePesannya manis. Semoga sukses.
Aamiin, makasih Mba. Insya Allah akan digiatkan untuk membuat cernak bermanfaat. :)
ReplyDeleteringan, pesannya cukup sampai. hehe bagus
ReplyDelete