Saat bumi Medsos bergemuruh karena aksi rusuh dari sayap kiri dan kanan. Saya memilih berada di tengah. Yang tengah emang asyik!
Dari isu tulisan yang viral, hingga tema plagiasi mengungkap nama penulis baik yang asli atau pun plagiat-nya. Yang jelas, ide si empunya tulisan kini banyak dibaca.
Syukur-syukur iman tidak goyah karena tipu daya tulisan yang mewah! Sekaliber penulis senior dengan tulisan garangnya.
Saya gak peduli sama penulisnya, hanya khawatir dengan isi tulisannya. Seperti Allah yang tidak menyukai orang-orang kafir, musyrik dan munafik, saya juga tidak suka kelakuan orang-orang seperti mereka yang menentang dan menyepelekan ayat-ayat-Nya.
Namun Allah mengampuni orang-orang kafir yang meninggalkan kekafirannya dan beriman kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha pengampun, Maha Penyayang. Dan saya pun akan mencintai mereka yang juga kembali ke jalan-Nya.
Well, saya bukan orang suci yang terbebas dari dosa dan khilaf. Namun hal itu tidak menghalangi saya untuk menolak pembangkangan kepada Allah.
Saya heran, dengan orang-orang yang ber-KTP islam, namun malah mendiskreditkan ajaran Islam itu sendiri. Dan memupuk serta menumbuh suburkan pemikiran Sekuler, Plural, dan Liberal.
Islam memang menerima adanya pluralitas (perbedaan yang majemuk) baik dari segi budaya, ras, pendapat, serta bahkan agama.
Buktinya "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." Al-Kafirun ayat 6.
Namun Allah sudah menetapkan bahwa hanya Islam agama yang diterima di sisi-Nya. Rujukannya Ali Imran ayat 19.
Oleh karena itu, jika plural yang diusung kaum Sepilis adalah mengatakan bahwa semua agama itu benar maka hal itu salah besar kalau muslim meyakininya.
Kembali lagi ke judul, bahwa hari ini media sosial digegerkan dengan dua penulis yang terjangkit sepilis, dan mereka berstatus muslim, walau saya gak lihat langsung ktp-nya sih. Sehingga banyak respon dari para penulis baik junior atau senior sekaliber Jonru Ginting, Iwan Januar sampai Om Abu Fauzan.
Saya tidak mau menyebut kedua nama penulis yang sedang viral ini, satu karena itu hanya membuat saya terlihat seperti sedang membantu membuatnya semakin viral. Dua karena saya tidak suka menyebut kedua namanya, mungkin akan terlihat semacam "Personal Attack" serangan pribadi-nya. Dan orang yang netral juga akan semakin malas merespon tulisan tentang mereka. Ketiga, pengusung ide Sepilis bukan hanya mereka. Jadi terlalu sempit kalau hanya membeberkan kerusakan mereka. Tapi abai terhadap aktivis Sepilis lainnya.
Saya sendiri, lebih suka jika menenggelamkan ide dasar yang mereka tulis dalam menyerang Islam. Yaitu dengan terus menulis apa yang Allah perintahkan. Menyeru pada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar! Ali Imran ayat 110.
Semakin orang-orang berdebat di postingannya atau dipostingan orang-orang yang membelanya mereka semakin senang.
Secara pribadi, memupuk diri dengan keimanan dan mendidik semua orang dengan tulisan tentang keimanan lebih baik dari pada terus menyerang fakta penulisnya seperti ini atau seperti itu. Toh mereka tidak akan berubah seketika hanya dengan respon pedas kita. Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Dan Allah yang mengilhamkan kepada manusia jalan kebaikan dan keburukan. Jika si "dia" memilih jalan keburukan, kita bisa apa? Cuma bisa berharap jika memang masih ada keimanan di dalam hatinya walau sebesar biji zarrah, semoga Allah menuntunnya kembali pada jalan yang benar.
Dan menjadi bagian dari para pembela Islam.
Yang penting serang idenya, bukan orangnya. Kalau orangnya, nanti kita diberangus dan dituduh teroris! Repotkan?
7 Ramadhan 1438 H, Jum'at
Cianjur-Indonesia.
No comments:
Post a Comment