Pages

Monday, 9 May 2016

Salam Malam






Assalamu'alaikum malam


Salam pun terucap untuk bintang, bulan, dan makluk Tuhan yang bermunculan di kala senja bermulai
Di sini hati masih seperti yang lalu, menyepi dalam asa. Bahagia bersama takwa. 
Mungkin memang keadaan tak selalu sama. 
Yang paling berarti, saat malam mulai menyelimuti maka itulah waktu yang terbaik. 
Terbaik mencurahkan isi hati dan menyendiri. 


Malam,  
Kau tempat aku menyeka lelah
Bernapas setelah hari-hari yang menyesakkan.
Bermimpi di saat kenyataan tidak terlalu indah untuk dihadapi
Malam...
Aku tahu besok kau akan lenyap seiring matahari menghampiri
Namun kutahu pasti, Tuhan akan mengembalikanmu untuk menghiburku. 
Begitulah, karena kau tercipta untuk melengkapi,
Salam terindah sebelum lelapku. 

Bunga Liar

Bunga Liar


Bunga ini hampir sama dengan bunga Thistle, itu kalau di Scotland. Entah apa namanya kalau di Indonesia. Yang jelas, bunga ini sering muncul di pinggiran jalan pada rumput-rumput liar.
Bentuknya yang kecil tidak terlalu mencolok perhatian orang.
Namun, saya senang melihat bunga ini.
Kenangan manis saat kecil, saya pandai membuat mahkota atau tiara dari bunga ini.
Jika dicoba sekarang entah masih bisa atau tidak.
Rindu sekali untuk melihat sekelompok bunga ini bermekaran.
Dia tidak memiliki bau. Kelopaknya yang kecil membuat saya terpesona.

Sunday, 8 May 2016

My Adorable Kein


“Satu roti tawar, dan lima roti isi cokelat,” ucapku sambil menyerahkan pesanan Bibi Anna.

“Dan ini bagianmu, ambil kembaliannya.” Bibi Anna menyerahkan selembar uang bernilai seratus ribu rupiah.

“Wah, terima kasih. Mimpi apa aku semalam? Tapi, ini terlalu banyak.” Merasa tak nyaman aku pun mencoba memberikan uang kembalian.

“Tak apa. Aku senang memberimu. Ini jarang-jarang, kan?” Perempuan separuh baya itu tersenyum dan berjalan sambil melambai ke arahku. “Dua hari lagi jangan lupa antar seperti biasa, jangan telat ya?” Senyum merekah dari wajahnya.

“Baiklah, sampai jumpa.” Aku pun kembali mengayuh sepeda dengan beberapa roti di keranjang depan yang belum selesai diantar.

Rutinitas ini sudah kujalankan selama setahun. Selain pengalaman, koneksi dengan pelanggan juga menjadi hal yang menyenangkan. Walau terkadang, beberapa dari mereka sering mengeluh karena aku salah menyerahkan roti pesanannya.

Aku menarik rem sepeda dengan sekaligus, hampir saja seseorang tertabrak olehku. Seorang laki-laki berdiri memegang dada sembari menghela napas.