Pages

Wednesday, 28 February 2018

Tinggalkan Agama Nenek Moyang

Dokumentasi Pribadi

Sebagai manusia yang lahir dari keluarga muslim, secara otomatis dari kecil sampai dewasa kita dididik dan memiliki label seorang muslim. Dan mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa hal tersebut adalah nikmat. Namun untuk saya sendiri untuk menikmati menjadi seorang muslim itu tak semudah berucap bahwa “saya muslim”.

Fenomena agama warisan sudah tidak asing sebenarnya. Di masa kenabian pun, agama warisan sudah menjadi budaya yang diwariskan turun temurun. Seperti kaum Nuh, kaum nabi Ibrahim, bangsa Quryash, dan banyak lagi kaum sebelum Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.


Hari ini tidak berbeda jauh dengan masa lampau. Bayi-bayi yang lahir di keluarga Hindu, akan menjadi pengikut Hindu, yang lahir di keluarga Kristen, menjadi penganut Kristen, dan pengikut agama lainnya, termasuk bayi yang lahir dari keluarga muslim pun akan menjadi muslim.

Namun ternyata hal itu tidak menjadi jaminan seseorang tidak berpindah agama atau murtad dari agama nenek moyangnya. Misal orang Kristen, Budha, Hindu, setelah memiliki akal sempurna di antara mereka ada yang memilih untuk menjadi muslim atau kita sebut mualaf. Lantas orang muslim yang berpindah ke agama lain kita sebut murtad. Namun intinya sama-sama meninggalkan agama nenek moyang, termasuk orang yang memilih menjadi ateis.

Baca juga : Hidup di Apartemen


Jangan salahkan mereka, namun mari kita berkaca mungkin ada yang salah dengan keimanan kita. Saya sendiri menganggap bahwa menjadi seorang muslim itu tak semudah mengucapkan dua kalimat syahadat. Di balik dua kalimat syahadat itu ada tanggungjawab yang besar melibihi gunung atau pun dunia seisinya. Dimana hal ini akan mempengaruhi apa yang akan terjadi di hari penghisaban kelak.


Akidah adalah kunci penting seseorang itu sudah berislam secara benar atau tidak. Akidah secara bahasa artinya akar, dimana akar ini yang menjadi penopang batang, ranting-ranting, dan daun dalam berislam. Maka akidah menjadi sangat penting untuk dikuatkan sebelum menguatkan cabang-cabang Islam yang lain.


Kita seakan tidak asing mendengar berita tentang muslim yang mencuri, muslim yang membunuh jiwa tak berdosa, muslim yang memerkosa, muslim yang korupsi, dan banyak kasus pidana atau perdata yang tak bisa dipungkiri lagi. Hal ini bukan semata-mata kurangnya moral seorang manusia, namun keimanan yang tidak benar dalam memperolehnya. Label muslim yang hanya didapat melalui warisan orangtua. Tanpa memperoleh dari hasil berpikirnya sendiri tentang semesta, manusia, dan kehidupan, dan tentang eksistensi Tuhan.

Apa bedanya muslim yang menjadikan ibadah hanya sebagai rutinitas sehari-hari, tanpa tahu apa yang dilakukannya, dengan penganut agama lain yang juga sama-sama mengikuti agama nenek moyangnya, tanpa tahu kenapa agama yang diikuti benar atau tidak.  Hanya tahu shalat itu harus membaca surat ini dan itu, harus bergerak begini dan begitu, tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Bukan makna secara harfiah, namun makna yang jauh melebihi terjemahannya saja.

Kita terlalu takut untuk bertanya, “Siapa Allah, Apakah Tuhan itu benar-benar ada, apa islam ini agama yang benar, kenapa Allah, kenapa kita menyembah Allah,” dan pertanyaan lainnya. Muslim saat ini terkungkung dengan tradisi ibadah yang hanya diwariskan dan mengikutinya secara buta. Padahal Allah yang memberikan akal untuk berpikir, memberikan inspirasi tentang apa yang kita pikirkan, dan Dia memberikan kebebasan dalam berpikir dan berkehendak.

Perhatikan kisah nabi Ibrahim yang berani dengan tegas meninggalkan agama ayahnya, agama nenek moyangnya. Dia lantas mengira “Bintang, matahari, dan bulan adalah tuhan.” Dengan kesungguh-sungguhan dia meminta Tuhan semesta alam menuntunnya untuk berpikir. Nabi Ibrahim dengan akalnya pun menyangkal benda-benda terbatas itu sebagai tuhan, hingga akhirnya mendapatkan bimbingan berupa wahyu. Dia mencari keyakinannya tanpa lelah dan menyerah. Dan Allah melihat usaha hamba-Nya dalam mencari keyakinannya. Sehingga ketika keyakinan itu didapatkan, dia tak gentar dalam melawan kebathilan, dia tak goyah dengan ancaman dan kesulitan.


Maka tinggalkan agama nenek moyang kita, jika kita sudah memiliki label seorang muslim. Maka yang perlu dilakukan adalah tinggalkan tradisi yang hanya sebagai rutinitas. Dan mulailah meng-upgrade­ keimanan dengan berpikir kenapa saya muslim, kenapa harus islam, kenapa islam itu agama yang benar, tak semata-mata mengikuti apa kata Al-Qur’an dan Al-Hadits dan tak semata-mata mengikuti mayoritas orang. Namun kita buktikan dengan akal yang diberikan Allah kepada kita, bahwa hidup dan mati kita hanya untuk Islam. Dan Islamlah agama yang benar dan tak layak digantikan dengan agama lain.

Baca juga  : Remembering the Death




2 comments:

  1. Iyes.

    Jangan cuma smartphone dan laptop yg kita bela2in buat di upgrade ya, Mba. Iman itu jauh lebih penting untuk di upgrade. Supaya iman kita selalu On setiap saat hingga ajal nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, Masya Allah agar selalu muhasabah diri mba. Semoga Allah tingkatkan ilmu dan keimanan kita. aamiin

      Delete