![]() |
| Dokumentasi Pribadi |
Sebagai
manusia yang lahir dari keluarga muslim, secara otomatis dari kecil sampai
dewasa kita dididik dan memiliki label seorang muslim. Dan mungkin sebagian
orang akan berpikir bahwa hal tersebut adalah nikmat. Namun untuk saya sendiri
untuk menikmati menjadi seorang muslim itu tak semudah berucap bahwa “saya
muslim”.
Fenomena
agama warisan sudah tidak asing sebenarnya. Di masa kenabian pun, agama warisan
sudah menjadi budaya yang diwariskan turun temurun. Seperti kaum Nuh, kaum nabi
Ibrahim, bangsa Quryash, dan banyak lagi kaum sebelum Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wasallam.
Hari
ini tidak berbeda jauh dengan masa lampau. Bayi-bayi yang lahir di keluarga
Hindu, akan menjadi pengikut Hindu, yang lahir di keluarga Kristen, menjadi
penganut Kristen, dan pengikut agama lainnya, termasuk bayi yang lahir dari
keluarga muslim pun akan menjadi muslim.
Namun
ternyata hal itu tidak menjadi jaminan seseorang tidak berpindah agama atau
murtad dari agama nenek moyangnya. Misal orang Kristen, Budha, Hindu, setelah
memiliki akal sempurna di antara mereka ada yang memilih untuk menjadi muslim
atau kita sebut mualaf. Lantas orang muslim yang berpindah ke agama lain kita
sebut murtad. Namun intinya sama-sama meninggalkan agama nenek moyang, termasuk
orang yang memilih menjadi ateis.
Baca juga : Hidup di Apartemen
Jangan
salahkan mereka, namun mari kita berkaca mungkin ada yang salah dengan keimanan
kita. Saya sendiri menganggap bahwa menjadi seorang muslim itu tak semudah
mengucapkan dua kalimat syahadat. Di balik dua kalimat syahadat itu ada
tanggungjawab yang besar melibihi gunung atau pun dunia seisinya. Dimana hal
ini akan mempengaruhi apa yang akan terjadi di hari penghisaban kelak.
Akidah
adalah kunci penting seseorang itu sudah berislam secara benar atau tidak.
Akidah secara bahasa artinya akar, dimana akar ini yang menjadi penopang
batang, ranting-ranting, dan daun dalam berislam. Maka akidah menjadi sangat
penting untuk dikuatkan sebelum menguatkan cabang-cabang Islam yang lain.
Kita
seakan tidak asing mendengar berita tentang muslim yang mencuri, muslim yang
membunuh jiwa tak berdosa, muslim yang memerkosa, muslim yang korupsi, dan
banyak kasus pidana atau perdata yang tak bisa dipungkiri lagi. Hal ini bukan
semata-mata kurangnya moral seorang manusia, namun keimanan yang tidak benar
dalam memperolehnya. Label muslim yang hanya didapat melalui warisan orangtua. Tanpa
memperoleh dari hasil berpikirnya sendiri tentang semesta, manusia, dan
kehidupan, dan tentang eksistensi Tuhan.
Apa
bedanya muslim yang menjadikan ibadah hanya sebagai rutinitas sehari-hari, tanpa
tahu apa yang dilakukannya, dengan penganut agama lain yang juga sama-sama
mengikuti agama nenek moyangnya, tanpa tahu kenapa agama yang diikuti benar atau tidak. Hanya tahu shalat itu harus membaca surat ini
dan itu, harus bergerak begini dan begitu, tanpa mengetahui makna yang
terkandung di dalamnya. Bukan makna secara harfiah, namun makna yang jauh
melebihi terjemahannya saja.
Kita
terlalu takut untuk bertanya, “Siapa Allah, Apakah Tuhan itu benar-benar ada,
apa islam ini agama yang benar, kenapa Allah, kenapa kita menyembah Allah,” dan
pertanyaan lainnya. Muslim saat ini terkungkung dengan tradisi ibadah yang
hanya diwariskan dan mengikutinya secara buta. Padahal Allah yang memberikan
akal untuk berpikir, memberikan inspirasi tentang apa yang kita pikirkan, dan
Dia memberikan kebebasan dalam berpikir dan berkehendak.
Perhatikan
kisah nabi Ibrahim yang berani dengan tegas meninggalkan agama ayahnya, agama
nenek moyangnya. Dia lantas mengira “Bintang, matahari, dan bulan adalah tuhan.”
Dengan kesungguh-sungguhan dia meminta Tuhan semesta alam menuntunnya untuk
berpikir. Nabi Ibrahim dengan akalnya pun menyangkal benda-benda terbatas itu
sebagai tuhan, hingga akhirnya mendapatkan bimbingan berupa wahyu. Dia mencari
keyakinannya tanpa lelah dan menyerah. Dan Allah melihat usaha hamba-Nya dalam
mencari keyakinannya. Sehingga ketika keyakinan itu didapatkan, dia tak gentar
dalam melawan kebathilan, dia tak goyah dengan ancaman dan kesulitan.
Maka
tinggalkan agama nenek moyang kita, jika kita sudah memiliki label seorang
muslim. Maka yang perlu dilakukan adalah tinggalkan tradisi yang hanya sebagai
rutinitas. Dan mulailah meng-upgrade keimanan
dengan berpikir kenapa saya muslim, kenapa harus islam, kenapa islam itu agama
yang benar, tak semata-mata mengikuti apa kata Al-Qur’an dan Al-Hadits dan tak
semata-mata mengikuti mayoritas orang. Namun kita buktikan dengan akal yang
diberikan Allah kepada kita, bahwa hidup dan mati kita hanya untuk Islam. Dan
Islamlah agama yang benar dan tak layak digantikan dengan agama lain.

Iyes.
ReplyDeleteJangan cuma smartphone dan laptop yg kita bela2in buat di upgrade ya, Mba. Iman itu jauh lebih penting untuk di upgrade. Supaya iman kita selalu On setiap saat hingga ajal nanti
Betul Mba, Masya Allah agar selalu muhasabah diri mba. Semoga Allah tingkatkan ilmu dan keimanan kita. aamiin
Delete